Selasa, 02 Januari 2018

Yang Tertinggal Dari Film Ayat-ayat Cinta 2

foto dari google


 Bismillahirrahmanirrahiim…

Saya mulai menuliskan ini dengan basmallah sebab teringat kisah sahabat Nabi Saw, Ali Ra. Ali sedang dalam sebuah kancah peperangan. Ali bersiap menghunuskan pedangnya kepada lawan ketika tiba-tiba -dengan begitu cepat- sang lawan meludah ke wajah Ali. Alih-alih semakin bernafsu menghunuskan pedang, Ali justru menurunkan pedangnya dan membuat sang lawan terheran.
“Kenapa urung membunuhku?”

Ali berkata, “Tadi aku mengangkat pedang karena Allah. Tetapi setelah kau ludahi wajahku, aku takut tusukan pedangku lebih karena nafsu amarahku kepadamu, bukan karena Allah.”
Ya, saya takut sekali apa yang saya tuliskan ini lebih karena nafsu ingin ‘menebas’ jari-jemari kaum nyinyirun yang melampaui batas. Sungguh, merugilah saya bila melakukan ini hanya demi memperturutkan nafsu. Maka bismillah, semoga apa yang saya tulis setelah saya menonton film Ayat-ayat Cinta 2 ini hanya karena Dia saja.

Mereka yang Mengaku Menjadi Bodoh Setelah Menonton AAC2
Saya belum membaca novel AAC2. Tapi saya sudah membaca resensinya yang sangat lengkap di sini. Sejujurnya, saya pun tidak menunggu-nunggu kehadiran film ini. Tapi seorang teman, tanpa ada angin tiba-tiba chat soal film yang -waktu itu- akan segera tayang di bioskop.
“Aku takut mau nonton AAC2, takut merusak keindahan yang udah kuserap dari novelnya,” begitu tulisnya.
Benar saja, ketika film tayang, timeline facebook saya mulai ramai status yang asyik. Begitupun review filmnya di internet, luar biasa. Luar biasa membuat saya terkekeh geli.
“Fahri itu manusia atau Nabi?”
“Fahri paham agama tapi masukin perempuan bukan mahram ke rumahnya.”
“Fahri tukang kawin.”
“Gampang banget Fahri poligami, padahal hukum poligami itu harus pisah rumah.”
“Ini film yang kehilangan arah, film yang bikin tidur, yang membuat bodoh…”
Habiburrahman nyari-nyari masalah, nih?”

Komentar yang lebih asyik dari itu? Banyak!
Berbekal komentar-komentar itu akhirnya saya berangkat ke bioskop. Tanpa ekspektasi apapun kecuali untuk mendapat hiburan. Itu saja. Memangnya, apa yang akan saya dapat dari sebuah film yang diproduksi MD Entertainment? Mereka sedang berbisnis dan bisnis tentang untung rugi. Ingat berapa sesi Cinta Fitri dibuat? Demi apa sinetron itu berpanjang dan berkelit-kelit kalau tidak karena permintaan pasar yang masih tinggi dan artinya di situlah tambang rupiahnya.
Sekali lagi, saya hanya ingin mencari hiburan. Dan, oh, ampuni hambaMu ini duhai Allah (karena Allah nggak bisa saya modusin), dalam mencari hiburan itu sesungguhnya terselip secuil rasa ingin membuktikan apakah film AAC2 ini memang begitu layak untuk dihina dan di-bully habis-habisan.

Apakah Saya Kehilangan Daya Kritis?
            Sebagai produk budaya dan alat untuk mengekspresikan seni sekaligus media penyampai pesan, sebuah film tentulah sempurna bila mengandung sepaket fungsi hiburan, informasi dan edukasi. Di antara fungsi-fungsi itu, saya pribadi memang hanya ingin terhibur dari AAC2 yang disajikan oleh Tuan Manoj.
            Dan saya terhibur.
Sepanjang film diputar, saya tak ingin menendang kursi di depan saya, tidak ingin muntah, tidak ingin mengumpat Fahri, juga tak ingin buru-buru mencari sosmed Kang Abik lalu meluapkan emosi bahwa beliau telah membuat gara-gara dalam hidup saya tersebab film based on novel-nya yang tak masuk nalar itu.
Saya jadi teringat seorang yang sehabis menonton film AAC2 sekonyong-konyong berkomentar ingin ‘mencubit’ Kang Abik saking gedegnya. Padahal beliau mengaku belum membaca apa yang ditulis Kang Abik dalam novelnya. Saya tak gemar mendengar Ayu Ting-Ting, namun situasi ini membuat saya ingin bernyanyi Alamat Palsu ^_^
Balik ke kondisi saya sekeluarnya dari bioskop. Saya merasa sehat dan cukup terhibur walau alur cerita terasa aneh dan juga beberapa bagian kurang logis. Tapi itu bukan salah Kang Abik, kan?
Saya berprasangka baik pada Kang Abik terkait alasan Fahri menerima pengemis wanita tinggal di rumahnya, juga tentang operasi wajah Aisha. Di novel saya yakin ada banyak penjelasan untuk ini sehingga sang tokoh memutuskan berbuat demikian. Bila itu tidak tergambar dalam film, apakah tidak sebaiknya kita bertanya pada rumput yang kering penulis skenarionya bukan malah ingin ‘mencubit’ penulis novelnya?
Soal karakter Fahri, saya tidak juga merasa aneh. Tidak merasa Fahri itu malaikat yang tanpa nafsu amarah. Nah, saya jadi teringat lagi komentar “Fahri itu Nabi atau manusia?”
Untuk yang berkomentar demikian, ayo ya, Nabi itu manusia, lho. Fahri juga manusia. Apa kita pikir Nabi-nabi itu tak pernah marah, tak pernah kecewa, tak pernah sedih? Fahri dan Nabi itu sama manusianya yang punya nafsu. Kalau Fahri tergambar pandai menahan amarah, ya memang dia berusaha meneladani akhlak Nabi khususnya Muhammad Saw.
Saya sama sekali bukan ahli sastra dan tak mengerti apakah novel AAC itu termasuk ke dalam jenis sastra profetik yang memiliki semangat kenabian dalam kisahnya. Tapi melihat karakter Fahri yang dilekatkan Kang Abik, saya yakin Kang Abik ingin mengangkat itu. Mengangkat bahwa kita ini muslim, dan setiap muslim adalah agen. Menjadi agen Islam itu jelas, akhlaknya harus Qur’an, harus mencontoh Nabi Muhammad Saw yang lembut hati dan piawai menahan amarah.
Banyak sekali tuntunan Islam terkait sabar dan menahan amarah. Bahkan, amarah yang terkesan sepele ini (yang kita merasa berhak menyindir orang, berteriak, menghardik) dibalas Allah dengan surga apabila kita mampu menahannya. Jangan dikira hal yang se-sepele menahan amarah ini gampang dilakukan. Sulit. Sulit sekali. Karenanya hanya segelintir saja orang yang bisa mengaplikasikannya dan begitu ada yang bisa –katakanlah Fahri- kita langsung judge dia orang aneh.  Kita yang tak pandai menahan amarah lalu kita teraneh-aneh dengan orang yang kalem. Wow...
Lanjut, soal Fahri yang tak pernah mikir ke luar uang untuk menolong orang.
Begini, apakah kamu pernah dalam kondisi ekonomi yang pas, namun begitu ada sebuah proyek amal digelar, kamu malah melepas harta terbaikmu untuk proyek amal itu?
Atau, utangmu di bank ada 300 juta dan asetmu yang aman adalah sebidang tanah seharga 500 juta. Begitu kamu dengar kabar ada masjid di sebuah pelosok butuh dana pengembangan, kamu tak pikir apapun lagi kecuali tergerak memberikan sertifikat sebidang tanahmu kepada panitia masjid.
Apa kamu asing dengan contoh itu? Apa kamu masih berpikir, sejenak, atau mungkin perlu tiga belas malam bertapa di Gunung Sibayak sana untuk mengambil potensi kebaikan itu atau tidak?
Kalau kamu jenis orang yang terlalu banyak mikir atau malah malas berpikir atas peluang kebaikan, ya memang tak akan pernah menganggap logis karakter Fahri. Tapi itu kamu. Itu kita. Sepatu kita bukan sepatu Fahri. Dan karakter Fahri yang gampangan ngeluarin uang itu ada di sekeliling saya. Bukan satu, tapi beberapa. Di luaran sana, saya yakin jumlahnya lebih banyak. Dan, soal keluar uang untuk menolong orang ini bukan soal kaya lagi tajir melainkan soal iman dan mental.
Jadi, yang saya tonton itu Fahri manusia yang berusaha meneladani NabiNya Muhammad Saw. Fahri bukan malaikat yang tanpa nafsu. Buktinya dia masih menye-menye soal perasaan, kan? Dan itu poin minus dia, kan? Jadi, bagaimana dia masih dianggap sempurna?
Lanjut tentang wanita yang mengemis minta dinikahi.
“Nikahi aku, Fahri!”
Njelehi? Nggilani?
Buat saya, eksekusi adegan itu memang lebay. Lebay banget pun. Tapi kalau kamu emosi dengan kelebay-an ini, mestinya kamu tidak marah ke penulis novelnya. Datanglah kepada Tuan Manoj dan katakan dengan santun, “Adegan nikahi aku Fahri itu membuat saya malu sebagai wanita, Tuan.” Siapa tahu setelah itu kamu diajak main di produksi film selanjutnya. Rezeki, kan? 
Saya lebih senang menyingkirkan kelebayan adegan itu secepat yang saya bisa dan mengembalikan poin yang menjadi dasar dalam adegan itu ke ranah ilmu agamanya Fahri, agamanya saya, agamanya kamu juga. Bahwa tidak sama sekali salah wanita minta dinikahi oleh pria. Dalam Islam, harkat martabat wanita tak turun ke dengkul hanya karena ia minta dinikahi atau melamar lelaki. Tinggal caranya saja yang perlu dipelajari.
Nah, yang lebih lucu lagi, ada yang menghakimi kalau mau poligami harus bisa punya rumah sebanyak istrinya. Nggak boleh istri-istri tinggal serumah. Wow, apakah kita sudah belajar bahwa segala yang kita tulis termasuk komen-komen itu kelak ada pertanggungjawabannya? Darimana dalil orang poligami itu tak boleh menyatukan istri-istrinya dalam satu naungan?
Ah, terlalu banyak kegelian saya setelah menonton AAC2. Bukan geli filmnya, tapi geli karena menyadari apa yang dinyinyirkan orang-orang ternyata sangat jauh dari ilmu.
Sebentar, saya bukan sok berilmu. Walah, jauh kemana-manalah kalau saya dibanding Kang Abik dan Mas Fahri. Tapi satu hal, saya selalu berusaha mengingat ini; perasaan (senang nggak senang, puas nggak puas) itu bukan tentang benar atau salah, melainkan tentang sikap.
Sah-sah saja tidak senang dan tidak puas lantas mengkritik, tapi lakukan dengan cara baik. Dengan nuansa yang dekat dengan ilmu dan ditujukan kepada alamat yang tepat.
Komentar orang di bawah ini, walau tidak sepenuhnya benar, tetapi cukup obyektif dan mencuatkan optimisme. 
"Novel AAC2 kan penuh nilai islami, gak mungkinlah seorang MP mau membuat filem tentang dakwah. Wajar hasilnya gini"
Bagaimanapun, film ini adalah jalan dakwah berat yang diambil Kang Abik untuk pangsa anak-anak muda Islam yang belum tersentuh datang ke pengajian. Sementara industri terus berbicara untung-rugi. Tak peduli alur yang akan membuat penonton pintar menjadi nyinyir. Tak peduli juga betapa sukarnya mengakomodasi setumpuk nilai baik dari novel setebal 600 lebih halaman, selama berpotensi banyak untung, mainkan.
Andai ada milyader muslim yang kontribusi dakwaknya tidak main-main dan mau memproduksi film-film dakwah termasuk AAC ini, saya yakin arus kaum nyinyirun tidak akan setinggi ini.

Sebagai penutup, tersebut seorang teman berkesempatan ‘menyusup’ ke dalam tim kecil yang membersamai Kang Abik dalam sebuah perjamuan makan malam. Malam itu, Kang Abik berkisah tentang Hasan Ibn Tsabit. Ialah sahabat Rasululllah Saw yang membela Islam dan RasulNya dengan syair-syairnya. Hasan Ibn Tsabit berjihad dengan lisan dan tulisan.
Masa sekarang, ada Kang Abik yang berperan seumpama Hasan Ibn Tsabit itu. Beliau telah melakukan itu dengan sangat baik dalam karya-karya novelnya. Bila kemudian adaptasi filmnya banyak sekali kekurangan, maka inilah wajah perfilman di Negara kita. Mari kritisi bersama agar mutu film kita semakin baik. Kritik yang membangun bukan yang  gagal fokus, melebar, nyinyir dan kita malah akan repot esok ketika hari perhitungan.
Terakhir sekali, saya teringat sebuah hadits dari Abu Hurairah. Nabi Saw bersabda; “Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing” (HR. Muslim no. 145).
Duhai, beruntunglah Kang Abik yang memunculkan tokoh Fahri yang dianggap asing. Dan beruntunglah kita yang berdiri di sisi orang-orang asing ini.

Allah bishawab…


  










8 komentar:

  1. Sukaaaaa reviewnyaaa... Love it :*

    BalasHapus
  2. Sama pemikirannya. Keren mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah, sungkem ke suhu....

      Hapus
  3. Nah kayak begini harusnya.
    Aneh aja orang yang nganggap Fahri itu manusia setengah dewa.
    Tapi, barangkali, seumur hidupnya belum pernah bertemu orang sebaik Fahri. Kasian...

    BalasHapus
  4. wah kudu nonton dulu aku, geregetan rasanya

    BalasHapus
  5. Nice review mba, aku jadi tercerahkan kembali setelah bbrp hari berkutat di berbagai review yg bikin galau.

    BalasHapus
  6. Kalimat " Andai ada milyader muslim yang kontribusi dakwaknya tidak main-main dan mau memproduksi film-film dakwah termasuk AAC ini, saya yakin arus kaum nyinyirun tidak akan setinggi ini"

    ini kontradiktof banget dengan kalimat mba di kalimat sebelumnya

    "Begini, apakah kamu pernah dalam kondisi ekonomi yang pas, namun begitu ada sebuah proyek amal digelar, kamu malah melepas harta terbaikmu untuk proyek amal itu?
    Atau, utangmu di bank ada 300 juta dan asetmu yang aman adalah sebidang tanah seharga 500 juta. Begitu kamu dengar kabar ada masjid di sebuah pelosok butuh dana pengembangan, kamu tak pikir apapun lagi kecuali tergerak memberikan sertifikat sebidang tanahmu kepada panitia masjid.
    Apa kamu asing dengan contoh itu? Apa kamu masih berpikir, sejenak, atau mungkin perlu tiga belas malam bertapa di Gunung Sibayak sana untuk mengambil potensi kebaikan itu atau tidak?
    Kalau kamu jenis orang yang terlalu banyak mikir atau malah malas berpikir atas peluang kebaikan, ya memang tak akan pernah menganggap logis karakter Fahri. Tapi itu kamu. Itu kita. Sepatu kita bukan sepatu Fahri. Dan karakter Fahri yang gampangan ngeluarin uang itu ada di sekeliling saya. Bukan satu, tapi beberapa. Di luaran sana, saya yakin jumlahnya lebih banyak. Dan, soal keluar uang untuk menolong orang ini bukan soal kaya lagi tajir melainkan soal iman dan mental"

    Mba di tulisannya seolah-olah bilang bahwa kebaikan Fahri itu sangat wajar, dan org2 yg nganggap itu ngga masuk akal adl org2 yg kira-kira " Malah kasihan ga pernah nemu orang baik">

    lhaaa bukinya berapa banyak muslim yg berlimpah ruah hartanya dan seperti mba bilang di kalimat "andai ada milyarder muslim dst itu'

    Nyatanya ngga ada toh? atau belum ada. Ini membuktikan bahwa sangat wajar org menganggap penggambaran kebaikan fahri di Film sangat lebay.

    Jadi yah kembali ke selera, namanya juga review film. Sah-sah aja ada yg berpandangan lebay, ngga masuk akal, krn kenyataannya memang gitu. Ngga bisa dipungkiri, kalo pria tampan, pintar, sangat kaya raya, soleh, digandrungi wanita2 sangat cantik, itu serasa seperti ngga menjejak bumi.

    Kalimat ini lagi " "Novel AAC2 kan penuh nilai islami, gak mungkinlah seorang MP mau membuat filem tentang dakwah. Wajar hasilnya gini"

    Ya sudah, org2 mengkritik juga ya sekalian mengkritik si MP itu, bikin film kok ya melenceng bgt dr bukunya.

    So, mau review org jelek ya itu hak org, wong perasaan dia saat nonton seperti itu. sama dengan mba nya nganggap kalo filmya keren, ya sah-sah aja. kalau semua film hrs dianggap bagus sama org ya semua film bakal dpt pernghargaan. Ayolah jangan defensif melulu, terima kritik sebagai sarana untuk memperbaiki diri, bukan malah ngata2in org yg ngritik sbg org yang ngga ngerti film. Org ngereview mah banyakan jujur sesuai apa yg dirasakan saja saat nonton. apalagi membandingkan dnegan buku, wah ya ngga begitu. Buku porsinya lain, film porsinya lain.

    Apalagi kalimat terakhir , seolah2 org2 yg mengkritik film tsb adlah org2 yg berseberangan dg nilai2 Islam. Duh kejauhan deh kayaknya. Kritik film is about film nya, soal nilai-nilai yg mau disampaikan ya tetep kebaikan, tapi eksekusi film yg lebay itu yg dikomenin org2.

    Just simple, ngga perlu mereview review orang lain. Berikan saja pendapat mbanya ttg film ini.

    BalasHapus

Terimakasih sudah meninggalkan komentar. Mohon untuk selalu berkomentar dengan bahasa yang baik dan tidak SARA, ya.