Rabu, 03 Januari 2018

Sebuah Surat Rindu

Foto dari google.


Bunda Julie, apa kabarnya di sana?

Di sini, oh, anakmu yang ini sudah empat tahun lalu meninggalkan Batam dan sekarang di Medan, dan Medan sekarang ini begitu basahnya oleh hujan yang pekat oleh kerinduan.

Bun, apa kabarnya bunda di sana? Aku kangen bunda. Ah, bunda pasti tertawa dari nirwana, bahwa aku modus saja mengatakan kangen pada Bunda.

Bunda tahu, lebih dari tahu, kehidupan seringkali terlalu keras bagi hati seorang wanita. Ah, salah, aku tidak seharusnya menuliskan itu. Walau bunda setuju tapi aku tahu bunda tak suka mengeluh. Apakah aku tak boleh sedikit saja mengeluhkan sesuatu?

Tak boleh, ya? Oh, baiklah, biar secarik tisu mengeringkan airmataku.

Bunda Julie, aku kangen bunda panggil aku ‘Nak’. Aku kangen ada wanita tua yang lembut hati dan menganggapku anak, seolah-olah aku ini anakmu sungguhan. Aku begitu tersentuh ketika bunda yang bergelut dengan penyakit harus bersusah-susah berjalan ke pasar dan belanja segala macam manisan basah dan kering, juga keripik talas yang sangat banyak.

“Kamu kan lagi hamil, pasti suka yang asam-asam, kan?”

Oh, bunda, aku rindu ketegaran yang selalu bunda alirkan untukku. Walau hanya satu kalimat lewat personal message; Kamu harus kuat, untuk anak-anakmu.

Bun, bunda lihat aku kuat, kan? Apa? Masih kurang kuat?

Aku tak mungkin bisa berdiri serupa bunda yang tegak di atas bara. Aku bahkan menjadi begitu kering dan layu seumpama daun-daun maple sewarna kuning pucat yang luruh diterpa sedesir angin sore di kota yang kumuh oleh kepedihanmu, kotanya Mozart dan Bethoven meniti karir mereka. Arsitektur kesedihanku tidak serumit kisah berpalingnya hati sang Diplomat yang tertawan seorang wanita politikus yang rakus kuasa. Lusuhnya hatiku hanya karena sesederhana urusan rindu.

Ah, aku rindu.

Aku rindu pada cinta dan kasih sayang, Bun. Rindu itu seolah-olah mampat dalam tiap pembuluh arteri sehingga otakku tumpul. Aku tak bisa fokus mengerjakan apapun. Rindu ini benar-benar membuatku lusuh. Dan bunda adalah kampium dari kerinduanku.

Bunda Julie, pada ujung hari yang basah ini aku berkunjung ke rumah bunda. Sanctuary of Julie. Rumah bunda sudah sangat berdebu. Sudah hampir tiga tahun bunda pergi. Maafkan aku yang beruraian airmata sepanjang menelusuri cagar-cagar warisanmu yang artistik. Yah, ketegaran bunda begitu artistik. Aku harap aku menjelma lebih kuat setelah ini.

Bunda, dari sana bunda tahu sepotong rinduku. Aku yakin bunda tak lekas memerintahku untuk menyingkirkan rindu-rindu itu serupa bunda gegas menyingkirkan tiap lembar daun maple yang menutupi bangku di tepian sebuah jalan di pinggir  kotanya bunda, dahulu.

Nak, Tuhan tak pernah salah menuliskan kisah, tak pernah keliru menyetel waktunya dan tak pernah ceroboh menata alurnya. Sedikit sabar akan membuatmu mengerti, semua telah terangkai dengan pas dan sempurna.


Bunda Julie, terimakasih untuk malam ini. Peluk jauhku untuk Bunda… 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah meninggalkan komentar. Mohon untuk selalu berkomentar dengan bahasa yang baik dan tidak SARA, ya.