Rabu, 06 Desember 2017

Waktu Selalu Memiliki Pahlawannya Masing-masing


Hai Ibu, apa kabar di sana? 

Aku mimpi berjumpa denganmu tiga pekan lalu. Surprise, setelah dua puluh tiga tahun kita berpisah, dan kuyakin kulit ibu sudah mengeriput macam kulit jeruk kering, ternyata aku salah. Ibu segar sekali sekarang. Kulit Ibu mulus lembut nan bercahaya. Aku sampai pangling dan takut mendekat. Kukira ibu hantu.

Duh, keterlaluan sekali dugaanku. Jangan jewer aku, ya…


Sekarang, setelah enam belas purnama tak mengunjungimu dengan cara yang seperti ini, kumohon jangan tuduh aku mendatangimu karena tiba-tiba memiliki waktu luang. Tidak, Ibu.

Perayaan waktu luang yang tiba-tiba ada itu hanya milik orang-orang yang sedang menunggu. Dan aku sungguh tidak sedang menunggu siapa atau apapun. Aku datang karena aku benar ingin datang kepadamu.  Berbicara denganmu sembari menikmati rinduku yang mengambang di mata cerlangmu.

Bu, apakah warna ketulusan itu?

Seharusnya aku belajar arti ketulusan dari sosok paling tepat dan itu engkau, Bu. Tapi ibu pergi bahkan sebelum aku mengetahui ada kosakata ‘tulus’ di Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Dan sekarang aku diajari makna kata tulus itu oleh Allah lewat seseorang. Aku sama sekali tak mengenalnya kecuali nama kami saling mengisi daftar kontak pertemanan di dunia maya facebook. Dan tiba-tiba saja, pada suatu petang dua pekan lalu, dia nyablak berkomentar di statusku.

Aku meng-upload dua desain cover calon buku solo perdanaku --jangan memicing begitu, Ibu. Ibu tak salah membaca, anakmu sebentar lagi diizinkan Allah punya buku solo. Kapan-kapan datang dan beri kecupan, yah… --  di facebook dan minta komentar mana yang lebih banyak diminati teman-teman. Nah, si orang ini, alih-alih memilih, dia malah straight to the point mengatakan bahwa kedua desain itu masih belum mantap.

Sepeninggalmu, Bu, aku bertumbuh menjadi seorang yang super defensif karena banyak hal, tapi syukurlah petang itu aku tak membangun benteng dan meng-ignore komennya yang jujur itu. Aku malah santai saja menanyakan bagaimana seharusnya agar desain itu menjadi mantap dan keren.

Dan dia mulai bekerja. Menanyakan konsep dan komponen yang mutlak ada dalam cover. Menanyakan permintaan-permintaan khusus dan segala hal terkait hingga tiga hari berikutnya pada sepertiga malam, dia mengirimkan hasilnya.

Aku termangu beberapa saat. Tak puas tapi bukan kecewa. Aku merasakan ada magnet pada desain pertama yang dia buat dan itu tak ada pada dua desain sebelumnya. Solid-utuh, itulah magnet desainnya. Aku masih merasakan sensasi terpikat yang ditelikung ketidakpuasan ketika dia mengirim pesan, “Itu masih draft awal. Pokoknya ditunggu sampai puas.”

Ibu baca, kan? Dia bahkan bisa memahami perasaan ketidakpuasanku. Dan aku jadi malu sendiri. Lebih malu dari masa kecil dulu saat terpergok petik anggur di pekarangan rumahnya  Lik Parwoto. Duh, pagi dini hari itu aku berusaha mengutip segala malu hati dengan membalas jujur pesannya. Bahwa aku suka konsepnya, namun itu terlalu lugas untukku yang menye-menye ini.

Dia merevisi sesuai keinginanku. Dua hari berikutnya dia kirimkan hasilnya dan kami berdiskusi lagi. Diskusi yang asyik. Padahal sungguh, dia melakukan ini tanpa sedikitpun imbalan, Ibu. Sudah kukatakan semenjak awal bahwa ini proyek amal dan aku tak akan bisa menghargai pekerjaannya secara materi (kondisi sesungguhnya, budget-ku untuk desain sudah habis tersalur kepada dua desain sebelumnya).

“Kamu kayak ngomong sama siapa, sih? Aku kan Employee of Allah…”

Itu jawaban dia, Bu. Jawaban tanpa canggungnya itu, seolah-olah kami ini sudah berteman sejak zaman purbakala dan tiada hal apapun lagi yang menyekat di antara kami.

Kubaca lagi pesannya, Kamu kayak ngomong sama siapa sih?

Oh, Ibu…. 

Ya memangnya dia siapa sih? Dia orang yang baru muncul di kehidupan mayaku beberapa detik lalu tapi pertanyaannya itu seolah kami ini sudah akrab sejak kehidupan yang sebelum ini. Apakah aku bisa menahan diri untuk tidak terharu, Ibu? Apakah aku bisa mengabaikan begitu saja orang yang teramat baik ini?

Dia mengirimkan lagi revisi ketiga dan aku merasa sungguh beruntung. Desainnya tak hanya memikatku tapi juga ratusan orang yang kuperlihatkan.

“Bukan aku yang mengerjakan, tapi tim.” Itu katanya sebelum dia mengirim revisi yang ketiga. Dan syukurku bertambah-tambah. Bagaimanalah menjelaskannya. Dia saja sudah menawarkan kebaikan, padahal kami tak saling kenal. Lantas ia pun masih harus merepotkan timnya yang sama sekali aku tak mengenal mereka.

Memangnya aku sespesial apa sehingga Allah begitu baik menurunkan tim langsung –para karyawanNya- untuk mengurus cover calon bukuku, Ibu?

Dua hari lalu aku membuka akun facebook-nya, menelusuri hingga ke bawah macam intel mengorek info seorang DPO, Bu. Dan aku seumpama bercermin, kulihat aku pada banyak hal yang ia tulis dan posting. Gaya menulisnya yang kocak, interestnya pada seni dan amal. Aku terkekeh sendiri dan membayangkan begitulah orang membaca tulisanku yang lebay dan penuh pencitraan.

Ibu, kau mungkin juga tak pernah tahu kalau aku menjadi seorang yang mudah sekali terkesan atas kebaikan dan ketulusan orang. Bukan kali ini orang berbuat baik dan tulus padahal kami tidak saling mengenal. Tapi, seperti kata Tasaro GK di buku Aku Angin Engkaulah Samudra, 'waktu selalu memiliki pahlawannya masing-masing'. Dan pada masaku yang sekarang, dialah pahlawan dalam tanda kutip itu.

Dan aku tak ingin ini selesai, Ibu. Umurku sudah paruh baya, sudah setengah dari jatah umur Nabi Saw dan umatnya. Aku ingin berada pada pusaran orang yang baik dan tulus ini seterusnya sampai akhir nanti. Aku bertekad mengiringi prosesnya melahirkan sebuah buku yang akan bermanfaat untuk orang banyak. Aku juga mengemis proyek-proyek berorientasi surga darinya. Dan ujung dari itu, kelak jika aku sudah bisa berkumpul denganmu di surga,  Bu, aku berharap dia beserta keluarganya juga mendiami istana yang tak jauh dari kita.  

Bu, sudah malam ini, udahan dulu ngobrolnya, ya. Ibu kan tahu, aku harus menghemat energi untuk mengurus cucu-cucumu yang semakin atraktif dan kerapkali membuatku kehabisan tenaga. Sebagai kecup perpisahan, aku perlihatkan desain hasil kerja orang-orang karyawanNya Allah itu, ya, Bu.


Cium dari anakmu… 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah meninggalkan komentar. Mohon untuk selalu berkomentar dengan bahasa yang baik dan tidak SARA, ya.