Kamis, 07 Desember 2017

Aroma Saka


AROMA SAKA
Oleh: Wiwik Waluyo

Aku tak bisa berdamai dengan aroma saka (gula merah yang berasal dari tebu) sejak berusia sembilan tahun. Saat itu, kudengar pertengkaran Apak dan Amak perihal aku dan Uda Frans. Pertengkaran yang tak kumengerti mengapa harus terjadi.
Seperti anak lain, hari-hariku habis untuk belajar di sekolah, mengaji di surau dan membantu Amak di rumah. Nilai-nilai sekolahku bagus dan mengajiku lancar. Aku jarang membangkang nasehat orangtua. Kecuali satu hal, tak bisa kuturuti perintah Apak untuk menjauhi Uda Frans.

Aku tak mengerti kenapa Apak membenci Uda Frans. Padahal Uda Frans yang selalu menjagaku, ia bahkan selalu menggagalkan rencana bolos mengajiku.
"Mengajimu memang gratis, tapi kepercayaan Amak dan Apak sangat mahal."
Uda Frans dua belas tahun saat mengatakan itu, namun bibirnya selalu fasih meniru apa saja yang dikatakan guru-gurunya. Dan kupikir, Apak seharusnya senang aku berteman dengan Uda Frans. Tapi itu tak pernah terjadi.
Amak sedang mengaduk air tebu di kuali besar ketika Apak menyoal Uda Frans. Aku mendengarnya sepulang sekolah tanpa sepengetahuan Mak dan Apak.
"Ambo yang melahirkan Una, Ambo juga yang mendidiknya. Ndak akan Una sampai salah langkah!"
"Tapi Una dan Frans semakin besar. Kalau ndak dijauhkan nasibnya bisa si-"
"Apa?!" Amak memotong kalimat Apak. "Jangan lagi bilang sial karena Allah ndak pernah menggariskan sial untuk hidup siapapun juga. Ndak juga untuk perkawinan saparuik."
Perkawinan saparuik? Memangnya siapa yang mau kawin? Aku dan Uda Frans memang sepupu. Tetapi kami masih ingusan. Kenapa Amak dan Apak begitu mencemaskan kami? Otakku masih mencerna kalimat Amak ketika sebuah jeritan menguasai indra dengarku.
Kaki Amak terpeleset ampas tebu, tubuhnya oleng dan Apak tak berhasil menangkapnya. Tubuh Amak jatuh menimpa kuali besar berisi gula saka yang panas menggelegak. Amak pergi untuk selama-lamanya membawa luka bakar di separuh tubuhnya.
Apak memohon maaf padaku. Uda Frans tak henti-henti menghiburku. Guru mengaji bilang Allah menyayangi Amak. Aku bisa mengerti. Yang tak kumengerti, mengapa kepalaku selalu berdenyut setiap hidungku mencium air tebu? Aku bahkan menggigil saat aroma saka mengental dalam penciumanku.
"Kau harus maafkan Apak." Saran Uda Frans. Entah yang keberapa kali. Padahal selalu kukatakan aku sudah maafkan Apak. Lagipula, Amak terpeleset ampas tebu, bukan Apak sengaja membanting Amak.
"Tapi kau harus benar-benar maafkan Apak dari dalam hati kau." Imbuh Uda Frans lagi.
Oh, bagaimanalah maaf yang datang dari dalam hati itu? Apakah aku harus mengatakan pada Uda Frans jika Apak menginginkan kami dipisahkan sejauh-jauhnya padahal rumah kami hanya tiga langkah saja?
Aku sungguh tak mengapa berpisah dengan Uda Frans. Maka akhirnya kuterima ajakan Tante Niar yang berniat membawaku ke Ibukota. Biar Apak senang. Amak juga tenang di sana.
***
Di rumah Tante Niar, hidungku menangkap bau ganjil yang beberapa waktu sempat hilang. Aku ke dapur dan menemukan Tante Niar sedang mengaduk santan dan gula merah dalam panci.
"Tante buat ketan sarikayo. Una pasti suka."
"Tapi bau gula ini."
"Ini harum bukan bau, Una!" Tante Niar meralat kata bau yang kuucapkan. Apapun kata Tante Niar, bau gula itu senyatanya membuatku gelisah.
"Katakan pada Tante, apa yang Una pikirkan saat mencium harum gula merah?"
Tante Niar menggenggam tanganku yang berkeringat. Terbayang Amak di pelupukku dan seketika tubuhku menggigil.
Tante Niar memelukku. "Ikuti ucapan Tante. Katakan 'aku sudah terbiasa dengan aroma saka. Aroma yang harum dan manis’."
Aku mengikuti perintah Tante Niar. "Aku sudah terbiasa dengan aroma saka. Aroma yang harum dan manis."
"Ulangi sampai sepuluh kali!"
Aku menurut. Kuulangi lirih. Perlahan tubuhku kembali menghangat.
***
"Una harus pulang menemui Apak."
Sudah delapan belas tahun aku menetap di Ibukota. Aku sudah selesai kuliah dan memiliki penghasilan sendiri. Setiap bulan selalu kukirim kabar juga beberapa rupiah kepada Apak sebagai penyambung baktiku kepadanya. Tetapi untuk kembali menemuinya seperti saran Tante Niar, apakah itu perlu?
“Pernikahan ndak cukup Una kabarkan melalui telepon. Tante akan temani Una pulang.”
Kupikir selama ini aku sudah berdamai dengan masa lalu. Kupikir aku sudah benar-benar memaafkan Apak seperti perintah Uda Frans, dahulu. Kupikir self hypnosis yang kulakukan setiap tubuhku menggigil sudah cukup membuatku berdamai dengan aroma saka dan Apak. Ternyata, untuk memohon restunya menjelang pernikahanku pun aku tak ingat. Ternyata, aku masih begitu kental menyimpan kebencian itu.
'Ndak usah dekat-dekat dengan Frans. Nasibmu bisa celaka!'
Aku mendengar suara mengerikan itu lagi.
'Jangan dekat Frans kalau kau ndak mau celaka seperti Amak!'
Dan aroma saka tiba-tiba menyusup. Samar. Aku merapal mantra, aku sudah memaafkan Apak karena Apak menyayangiku.
Ya, aku harus mengerti bahwa larangan Apak untukku tidak dekat dengan Uda Frans adalah demi kebaikanku. Yang aku belum mengerti, kenapa Apak menghubungkan kecelakaan Amak dengan Uda Frans?
Mengingat saat-saat Amak terpeleset dan menimpa kuali itu membuat penciumanku dialiri aroma saka. Anyir. Dan anyir itu menguat ketika akhirnya kuturuti ajakan Tante Niar untuk pulang menemui Apak. Aku menggigil ketika Apak menyambutku.
"Una sudah akan menikah, Apak harus katakan yang sebenarnya agar Una mengerti. Maafkan Apak dahulu selalu larang Una main dengan Frans. Kalian sepupu. Di Nagari kita ndak boleh menikah sepupu. Wali Nagari akan memberi sanksi."
"Kami hanya main!" Aku meluruskan kalimat Apak. Tante Niar mengelus punggung tanganku.
"Amak kau dulu juga mulanya cuma main bersama. Mungkin awalnya mereka juga tak pernah terpikir untuk menikah. Itulah perasaan. Bila terus dibiarkan tumbuh, kian hari menjadi subur. Tapi sampai kapanpun, ndak ada tempat untuk perkawinan saparuik di Nagari kita. Mak kau harus lari sampai ke tanah yang jauh agar bisa hidup dengan orang yang dipilihnya."
Aku mendongakkan wajah. Ini kisah apa? Kenapa Amak tak pernah menceritakannya padaku?
Apak membalikkan sebuah potret tua yang terbalik di atas meja di hadapan Apak.
"Yamin namanya. Saudara sepupu yang dicintai Amak kau. Sayangnya, umur Yamin pendek. Di tempat yang jauh itu ia meninggal karena kecelakaan kerja. Amak kau akhirnya pulang. Lalu Anduang (nenek) menjodohkan kami."
Aku terdiam. Jadi inikah alasan Apak melarangku berteman dengan Uda Frans?
"Apak salah karena ndak bisa menasehati Una dengan cara yang baik. Maafkan Apak."
Aku terdiam.
"Satu lagi, Apak memang bukan Apakmu yang sebenarnya, bukan Apak yang bisa menjadi wali pernikahanmu. Tapi Apak menyayangimu."
Kutegakkan telinga. Apa maksudnya Apak bukan Apakku?
Tante Niar mengambil lembar potret itu dari meja dan diberikan kepadaku. "Uda Yamin dalam foto ini, dialah Apak Una yang sebenarnya."

Waktu seolah dirantai. Kepalaku kosong. Perasaanku melompong. Hanya ada hening dalam semesta yang geming. Perlahan, aroma saka meliuk samar. Bukan aroma yang anyir kali ini. Tetapi aroma saka yang sebenarnya, yang manis dan harum.[]

***
Cerpen ini tersiar di Haluan Padang bulan September lupa tanggal berapa. Ditulis tiga tahun lalu karena nggak sengaja baca tentang saka sewaktu riset tentang mmm apa yah, pokoknya riset tentang cerpen lain yang cerpen itu belum kunjung menemukan jodohnya :D 
Tiga tahun lalu naskah ini terbaca sangat mengesankan, tetapi dibaca lagi saat ini, tingkat mengesankannya sudah jauh berkurang. Banyak hal, salah satunya mungkin umur yang terus bertambah. Allah kariiim, apa hubungan cerpen sama umur coba?
Oke baiklah, yang mau coba kirim ke Haluan bisa cari emailnya di grup Sastra Minggu. Antrinya nggak sampai setahun, dan saya nggak tahu berapa honornya. Sejujurnya, saya nggak pernah nagih honor dari awal mula cerpen tembus Minggu Pagi Yogyakarta, Riau Pos, Radar Surabaya, bahkan sekelas majalah Paras. Tapi, khusus Paras sempet saya tanya sih sekali, namun, tak ada jawaban hingga ia kolaps tak lama kemudian.
Allah maha kaya. Semoga tak kapok menulis cerpen, ya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah meninggalkan komentar. Mohon untuk selalu berkomentar dengan bahasa yang baik dan tidak SARA, ya.