Selasa, 19 September 2017

[Pemenang 1 Sayembara Cerber Femina 2016/2017] Pada Sekaleng Tancho Bag 4


4.    Pada Sekaleng Tancho
Aku terbangun oleh suara percakapan orang-orang. Jam di ponsel sudah menunjukkan pukul 06.01. Tadi malam aku masuk kamar hampir dini hari karena menunggu empat ekor penyu yang bertelur. Kukucek mata yang masih terasa menyimpan kotoran dan segera bangkit menuju sumur di samping rumah.
Kulihat Hazri sedang menggali lubang di dalam bak pasir penetasan. Lubang itu untuk menanam lima belas persen telur penyu dari keseluruhan yang behasil ia kumpulkan semalam. Sementara ayah menyusun telur-telur lainnya di kotak kayu tak jauh dari Hazri. Telur yang disusun ayah akan dijemput oleh orang Raja Bachrum dan diperdagangkan di Tarempa.

Saat melewati bapak beranak itu, aku mendengar mereka membahas nelayan Negara tetangga yang bandal menangkap ikan di perairan Indonesia dan tertangkap patroli laut. Hazri menghentikan pekerjaannya saat aku melintas. Ia mengikuti sampai ke sumur, membilas tangannya yang berlumur pasir lantas dengan gesit menimbakan air hingga memenuhi ember-ember.
“Makasih.”
“Pekerjaan rutin, tak payah ucap terima kasih.”
“Anggap saja aku sedang melestarikan kebiasaan baik.”
Hazri menatapku putus asa dan mendesah, “Agaknya, aku memang tak akan pernah memenangkan apapun darimu, Nona.”
Aku tersenyum kecil dan gegas mendorongnya ke luar.  Faktanya, Hazri telah memenangkan hatiku, seluruh-luruhnya hatiku.
***
Kutancapkan plang kayu kecil berisi data jenis penyu dan jumlah telur di atas gundukan pasir yang telah ditimbun Hazri. Sementara Hazri sedang memindahkan tukik-tukik yang baru menetas ke dalam akuarium, aku berinisiatif memindahkan tukik yang sudah lebih besar dari akuarium ke kolam pembesaran. Aku lantas memberi makan tukik-tukik itu dengan ikan yang telah dicacah Hazri.  

Sarana penangkaran yang dibuat Hazri masih terlalu sederhana dan terbatas, tukik jadi berdesak-desakan di kolam. Beberapa bahkan mati karena luka saling memangsa. Seharusnya Hazri tidak melakukan ini. Tapi aku belum punya nyali mengemukakan pendapatku tentang penangkaran penyu, khawatir Hazri akan tersinggung dan menganggapku sebagai garam yang berupaya mengasinkan lautan.
Dari dalam rumah Mak memanggil kami untuk sarapan. Hazri lekas mengomando dengan gerak kepala agar aku mengikutinya.
“Habis sarapan kita lepas tukik ke laut.”
“Tapi aku tak mau lomba”
“Jangan takut, kau pasti menang nanti.”
Dan benar, entah bagaimana caranya tukik yang kulepas berjalan lincah ke pantai dan menang dari tukik milik Hazri. Tapi itu hanya terjadi satu ronde. Ronde berikut dan berikutnya aku kembali kalah dan Hazri, dari wajahnya yang polos tapi terlihat mengintimidasi itu tergambar senyum kemenangan.
“Tadi malam mendarat berapa ekor?” tanyaku saat sudah lelah menyoraki tukik. Kami duduk di pasir dan membiarkan kaki kami dijilati buih sisa ombak. Matahari pukul sembilan pagi menyorot terang dan membuat laut tersepuh perak.
“Tujuh.”
“Apa menurut kau cara ini akan berhasil menyelamatkan penyu dari kepunahan?”
Hazri membuang tatapannya jauh ke batas horizon, “Aku baru bisa melobi Raja Bachrum untuk sisihkan telur penyu sebanyak lima belas persen, belum dua puluh lima seperti yang kuharapkan. Tapi aku yakin selalu ada hasil dari sebuah usaha, sekecil apapun itu.”
“Maksudku, apa kau berpikir bahwa penangkaran yang kau buat ini satu-satunya jalan penyelamatan?”
Hazri menatapku lama. Ada ketidak mengertian yang tersiar dari dua bola matanya. Mungkin dipikirnya, aku ini sedang mengigau. Tentu saja ini cara satu-satunya. Menyisihkan telur, menanamnya di bak penetasan, merawat yang sudah menetas hingga nyaris dua belas purnama sampai tukik-tukik dianggap kuat untuk mencari makan sendiri dan tangguh hadapi predator, lantas dikembalikanlah mereka ke lautan. Memangnya, ada cara apa lagi yang selain ini?
Tatapan Hazri yang demikian itu seketika membuatku surut. Aku bangkit dan masuk ke lidah pantai. “Dah lama tak menyelam. Mau lomba?”
Hazri menyusul dan langsung menceburkan diri ke pantai. Tubuhnya bergerak gesit di dalam air dan kepalanya timbul tenggelam. Aku menyusulnya dan kami menyelam tanpa alat. Saat pertama kali kepala kami muncul ke permukaan, Hazri mengatakan sesuatu yang amat membuatku terharu.
“Tukik yang kita lepas saat kecil dulu, mereka pasti dah berenang jauh. Mungkin mereka sudah sampai di laut Florida, atau Australia, atau belahan bumi manalah. Dan aku senang hati tinggal di pulau ini, menunggu suatu saat mereka kembali dan bertelur di sini.”
“Atau mereka sudah mati dimakan predator, Hazri.”
Ingin kukatakan kemungkinan itu, tapi aku tak ingin merusak kebahagiaan Hazri. Hanya kuulas sekuntum senyum, lalu kembali kubenamkan kepala ke dalam air sambil hatiku berdoa semoga lekas aku punya kekuatan untuk berdiskusi soal ini dengan Hazri.
 ***
Kusalami punggung tangan Mak dan Ayah Hazri dengan takzim. Kupikir, apa yang kucari di pulau ini sudah kudapatkan semuanya. Aku sudah melihat penyu bertelur, melepas tukik ke laut juga utamanya melepas rinduku terhadap pawang tukik-tukik itu. Aku berharap suatu saat entah kapan kami dapat saling jujur dengan perasaan kami.
Hazri menarik jongkong ke bibir pantai dan menata tasku di dalamnya. Ia kuat menahan jongkong agar tak oleng saat aku dan Pak Ngah naik. Kemudian dengan tangkas, Hazri melompat  dan mulai mendayung jongkong kami hingga mencapai pompong yang terparkir di tengah pantai.
Saat aku sudah duduk di pompong dan Pak Ngah mulai menyalakan mesin, sekonyong-konyong Hazri melompat dari jongkong ke dalam pompong. Aku gelisah dengan sikap Hazri yang tiba-tiba mengambil posisi di sebelahku. Lalu ia memiringkan badannya dan mencondongkan wajahnya ke wajahku yang mungkin sudah sewarna delima.
“Apa kau masih senang cari dan pecahkan biji kapuk di dalam bantal?”
Hah? Kupikir ia akan mengatakan kalimat perpisahan apalah. Tapi biji kapuk?
Kujawab pertanyaan itu dengan anggukan.
“Apa Kak Hafsah simpankan bantal kapuk kau yang dulu tertinggal di sini?”
Aku mengangguk lagi sambil memikirkan kemungkinan ending romantis dari bahasan bantal kapuk yang sangat aneh ini.
“Oke.”
Hanya itu, hanya ada sepenggal ‘oke’ dan Hazri segera berdiri. Bibirnya merangkai senyum tipis dan satu tangannya mengelus ubun-ubunku dengan singkat sembari ia berpesan pada Pak Ngah untuk hati-hati menjalankan kemudi. Aku memandangi punggung Hazri yang menjauh dengan pikiran yang gagal mencerna apa maksud pertanyaan-pertanyaannya tadi.
Hingga dua jam kemudian aku sampai dengan selamat di Tarempa, tak ada yang lebih penting untuk kulakukan kecuali lekas masuk kamar dan mendekap bantal kapukku. Ada apa dengan bantal ini? Kalau Hazri menganggap perlu bicara tentang bantal kapuk ini, mestinya ada hal besar yang berkenaan dengannya. Namun apa?
Pikiranku sama sibuknya dengan jari-jemariku yang tak henti merayapi bantal, bertualang dari menaklukkan satu biji ke biji-biji lainnya. Pikiranku jadi bertambah, kenapa biji-biji di dalam bantal ini seolah tak pernah habis? Apakah berlaku pepatah pecah satu tumbuh seribu?
***
Sepekan waktuku pulang ke Tarempa nyaris habis. Esok aku harus kembali ke Ibukota, namun perkara bantal kapuk yang ditanyakan Hazri belum juga bisa kutemukan hikmah yang terkandung di dalamnya. Siang malam berpikir, dan buntu, dan lelah, dan di ujung keputus asaanku, tiba-tiba saja saat ini ujung jariku menyentuh sebuah benda asing di dalam bantal.
Kurapatkan jariku ke benda asing itu. Kuraba dimensinya dengan ibu jari dan telunjuk. Tebal. Keras. Bentuknya bukan biji atau batang kering. Ini seperti wadah berbentuk oval, panjangnya mungkin tujuh atau delapan centi dan tingginya sekitar tiga atau empat centi. Kucoba raih dengan telapak tangan. Dan aku sungguh tak sabaran dengan benda asing di dalam bantal ini.
Kuambil gunting dari laci lemari. Kubuka sarung bantal dan lekas kugunting satu sisi kain pembungkus kapuk  hingga tanganku bisa masuk ke dalam bantal itu. Dan aku mendapatkannya. Sebuah kaleng oval bekas pomade bermerek Tancho yang permukaannya diselemuti helai-helai kapuk tua berwarna cokelat. Kusingkirkan kapuk-kapuk itu dan kubuka penutup kalengnya dengan perasaan yang sulit kujabarkan.
Ada tumpukan kertas yang dilipat rapi di dalamnya. Amat hati-hati kubuka lipatan kertas yang sudah menguning dan lapuk termakan usia itu. Dan ya Tuhan, ada cincin emas di dalam lipatan kertas itu. Kertas itu ternyata surat sertifikat dari toko emas dengan nama Yuliana Ho sebagai pembeli. Mama, ini emas milik Mama.
Kubuka semua kertas yang ada dalam kaleng Tancho itu. Dan semua merupakan sertifikat emas dengan barang persis yang tersebut di dalamnya. Ada beberapa kalung, beberapa gelang, anting-anting, liontin, bahkan cincin dan anting-anting bayi juga ada di sana. Apakah yang terakhir tadi milikku saat bayi?
Kuambil satu lipatan kertas yang tersisa di dasar kaleng. Ini satu-satunya kertas yang berbeda, dan baru, dan hanya kertas bergaris dari buku tulis bukan dari toko emas. Kubuka kertas itu dengan penuh kehati-hatian dan segera kukenali siapa pemilik tulisan tangan yang rapi di dalamnya.
Hai, Nana…
Apakah kau terkejut mendapatkan sekaleng Tancho di dalam bantalmu? Kalau kau saja yang hobi cari harta karun dalam bantal bisa terkejut, apalagi aku yang tak punya garis keturunan sebagai penambang biji kapuk J
Maafkan aku, Nana. Kaleng ini kutemukan saat bantal itu tertinggal di Durai sebelum kau kuliah ke Jakarta. Awalnya iseng, aku  coba temukan biji dan berhasil memecahkannya seperti yang selalu kau ceritakan. Padahal hari-hari tidur dengan bantal kapuk pun sama sekali tak terpikir untuk lakukan itu. Tapi entahlah, mungkin ini yang disebut ‘Tuhan menggerakkan hati manusia’, aku spontan melakukan apa yang biasa kau lakukan ketika melihat bantal kau yang tertinggal itu.
Dan yah, setelah lima menit aku terbengong-bengong menghadapi harta karun itu, akhirnya kuperlihatkanlah temuanku kepada Mak. Dan Mak, tanpa sedikitpun cakap langsung merapikan semuanya dan perintahkan saat itu juga aku harus pergi ke Tarempa untuk pulangkan bantal itu ke rumah kau.
Kau tahu Nana, aku sampai harus memohon-mohon pada Mak untuk tunda menjahit pembungkus bantal yang sudah kubuka karena aku ingin tuliskan surat ini terlebih dahulu dan menyelipkannya di dalam kaleng keramat ini.
 Harta karun dalam bantal ini milik kau, Nana. Aku jelas membaca nama mama kau di sana. Sungguh tiada sedikitpun isinya berkurang karena apa yang kulihat pertama kali sama dengan apa yang kau lihat saat menemukannya. Aku yakin mama kau melakukan ini demi membuatmu bahagia. Mungkin ini semacam surprise dari ibu yang sudah berada di surga.
Lantas kenapa aku berani lancang menyelipkan surat tak berharga ini ke dalam benda-benda berharga milik kau?
Maafkan aku yang selalu tak berani mengatakan ini secara langsung Nana. Aku sayang kau. Dulu dan tak berubah sampai aku menuliskan ini dan entah sampai waktu yang berapa lama lagi. Tapi aku tahu sayangku ini tak akan mungkin menjelma seperti milik Baba kau dengan Kak Hafsah.
Maaf kalau kau tak berkenan dengan apa yang kutuliskan, Nana. Aku yakin kau mengerti kalau perasaan bukan tentang benar dan salah tetapi tentang sikap. Teruslah kejar impianmu. Bahagiamu tentu bahagiaku.
Hazri.
Kulipat surat Hazri dengan perasaan yang membuncah-buncah. Air mataku mengalir sederas bahagia yang menemukan muara. Aku tak perlu jabarkan macam-macam, kalian pasti tahu seperti apa rasa cinta yang terbalas itu, kan?
Kudekap surat itu sembari menatap kaleng pomade yang menyimpan perhiasan peninggalan Mama. Kenapa Mama melakukan ini? Benarkah ini cara Mama memberiku kejutan? Adakah dahulu Mama kerap memperhatikan gelagat jari-jariku yang selalu mencari dan memecahkan biji kapuk dalam bantal hingga terbersit ide menyimpan kejutan itu untukku?
Oh, bagaimana mungkin Mama melakukan ini? Apakah Mama tidak berpikir bahwa kaleng pomade itu bisa saja tak kutemukan atau mungkin ditemukan orang lain ketika bantal itu sudah dibuang? Aku tak habis pikir dengan ide dan keyakinan Mama bahwa kaleng Tancho itu akan sampai kepadaku.
Dari sekian bantal kapuk yang ada di rumah, kenapa Mama memilih yang itu dan bagaimana bisa itu pula yang kubawa ke Durai dan tertinggal di sana untuk kemudian ia menggerakkan hati Hazri untuk menyentuhnya? Kecuali semua sudah diatur sesempurna mungkin oleh Tuhan, rasa-rasanya apa yang terjadi ini sungguh di luar jangkau nalar. 
Dan Hazri, juga Mak, uh, aku buru-buru menyusut lelehan air yang meluncur ke pipi dengan punggung tangan. Bahkan walau mereka mengambil semua yang ada dalam kaleng pomade ini, pastilah aku tak akan pernah mengerti. Tapi mereka tidak melakukan itu.  
Aku menangis lebih-lebih mengingat perangaiku yang buruk terhadap Cik Hafsah. Mereka semua berlaku baik padaku tetapi aku begitu menolak Cik Hafsah hanya karena urusan perasaanku terhadap Hazri. Hazri bahkan mengerti perasaan bukanlah tentang benar atau salah, tetapi tentang sikap.
Bagaimana bila Hazri tahu selama ini aku telah bersikap amat zalim terhadap kakaknya? Aku menarik napas panjang dan membuangnya perlahan. Kuenyahkan pikiran-pikiran negatif dan segera turun ke bawah menemui Baba juga Cik Hafsah. Kutarik  lengan Baba yang sedang mangawasi Ahong bekerja di ruang cetak dan kuajak Cik Hafsah meninggalkan kompor kesayangannya di dapur.
Bertiga kami duduk di meja makan.
“Nana temukan ini di dalam bantal.”
Kujulurkan kaleng pomade Tancho ke hadapan Baba dan Cik Hafsah, tentu saja tanpa surat Hazri karena itu sudah kusimpan di bawah bantal.
“Apa ini?” tanya Baba mengerut kening.
“Baba bukalah.”
Baba berpaling ke Cik Hafsah sesaat sebelum mendekatkan kaleng Tancho dan membukanya. Tangan Baba gamang meraih lipatan surat-surat sertifikat dan beliau terdiam lama ketika membuka dan mendapati emas milik Mama. Entah apa yang dipikirkan dan dirasakan Baba, aku hanya bisa melihat selaput bening yang melapisi dua mata Baba dan berusaha ditahan agar tidak pecah.
“Simpanlah, ini milik kau.”
Baba membereskan perhiasan-perhiasan itu kembali ke dalam suratnya masing-masing dan melipatnya, lalu menumpuknya dalam kaleng seperti semula.
“Baba saja yang simpan,” kataku tulus. “Atau Cik Hafsah.”
Baba menggeleng, “Taklah. Kau dah besar bisa simpan sendiri. Pakai mana kau suka.”
Aku tak suka memakai perhiasan emas. Kupikir, ini bisa disimpan saja oleh Baba atau Cik Hafsah. Tapi, Cik Hafsah sama sekali tak berkomentar. Aku tahu, ia pasti merasa hal ini tidak terkait sedikitpun dengan dirinya.
“Semuanya milik kau, Nana. Terserah nak kau pergunakan untuk apa.”
Aku memandang Baba bergantian dengan Cik Hafsah, “Betul macam tu, Ba?”
Baba mengangguk yakin. Aku tersenyum dan mengambil kaleng pomade itu, menggenggamnya dengan rencana-rencana yang berkelebatan dalam kepala.
***
Aku duduk ditemani Baba dan Cik Hafsah di ruang tunggu bandara Palmatak. Kepulanganku yang mulanya terpaksa karena diancam oleh Baba kini terasa berbeda. Aku berterima kasih pada Baba karena ancamannya membuatku menemukan sebuah hal besar.
“Nana titip ini untuk Hazri.”
Kukeluarkan sepucuk surat tanpa amplop dan kaleng Tancho dari ranselku. Kuberikan dua benda itu kepada Cik Hafsah. Aku ingin Baba dan Cik Hafsah mengerti, surat tanpa amplop itu boleh mereka baca. Tak ada yang perlu kututupi, tak ada rahasia apapun lagi.
“Tapi kenapa ini-?”
Cik Hafsah menggantung kalimatnya dan mengangsurkan kaleng Tancho itu kembali padaku. Tapi aku menahannya. “Kemarin Baba bilang Nana bisa pakai emas-emas ini untuk apapun. Ya, kan, Ba?”
Baba baru akan menjawab namun kalah cepat oleh petugas yang memanggil penumpang untuk segera naik ke pesawat.
“Tak usah cemas, Baba. Semua aman, oke?”
Kusalami tangan Baba, kucium pipi putihnya yang mulai menggelambir lemak dan kubisikkan aku menyayanginya. Lepas dari itu kupeluk erat Cik Hafsah.
“Makasih sudah sabar urus Nana dari kecil, Mama Hafsah.”
Wanita lembut hati ini mengelus punggungku. Sepenggal isak kudengar dari bibirnya dan bahunya bergetar, menjalar ke dadaku. Kucium takzim punggung tangannya dan segera berlalu dari keduanya.

Lima purnama kemudian.
Aku berada di antara riuh ramai orang-orang yang berkeperluan di terminal kedatangan Bandara Soekarno Hatta. Hazri. Ya, ‘pakcikku’ itu pada akhirnya meluluhkan hatinya untuk mau meninggalkan Durai demi melanjutkan pendidikannya.
Jika kalian bertanya bagaimana ia bisa bercerai dari tukik-tukiknya, selain itu tentu saja rupa kuasa Tuhan, aku memang telah melakukan percobaan menambah persfektifnya terkait pelestarian penyu. Memang aku ini seorang gadis yang hanya memiliki cita-cita menyeramkan pada masa lampau. Tapi jangan terlalu underestimate begitu, dong. Begini-begini, aku mahasiswi kelautan sebuah universitas bergengsi di Ibukota Negara ini. Maaf kalau terkesan agak tinggi hati, habisnya, aku sedang senang begini. Menunggu Hazri. Sekali lagi, sedang menunggu kedatangan Hazri yang menawan hati. Nah, kumat deh noraknya.
Telah kutuliskan dalam berlembar surat yang kutitipkan tanpa amplop kepada Mama Hafsah (rasanya masih agak ganjil mengganti ‘Cik” dengan ‘Mama’) tentang sebuah kontroversi yang terjadi pada ahli penyu dunia. Para ahli menilai bahwa headstarting (usaha penangkaran seperti yang dilakukan Hazri) banyak memiliki dampak negatif terhadap penyu itu sendiri.
Dari mulai pakan yang biasa diberikan ke tukik, aktivitas itu ternyata bisa menghilangkan insting berburu tukik. Pun tukik menjadi manja, mereka akan selalu mendekat ke kapal nelayan berharap diberi makan. Alih-alih mendapat makanan, nelayan yang nakal malah memburu mereka untuk dijadikan umpan tangkapan.
Kolam penangkaran yang dangkal dan sempit juga menjadi masalah bagi perkembangan paru-paru tukik. Bila dilepas ke laut dan sampai ke arus dalam, mereka akan lemah karena tidak terbiasa berenang jauh dan dalam. Headstarting juga menghilangkan proses imprinting, yaitu fase ketika tukik harus menghafal kondisi tempatnya menetas untuk menjadi panduannya kelak ketika kembali hendak bertelur.
Dari sekian kritik yang dikemukakan ahli penyu dunia, terdapat solusi bagi manusia yang berkonsentrasi terhadap penyelamatan penyu. Upaya itu lebih ditekankan kepada penjagaan habitat bertelur penyu. Pantai tempat penyu mendarat tetap dijaga kealamiannya, menjaga telur penyu dari predator darat (binatang juga pencuri), serta menjaga keselamatan tukik yang sudah menetas dan berjalan kembali ke laut dari gangguan predator. Sudah, itu saja.
Dan aku bersyukur, Hazri memahami isi suratku dengan sangat baik. Kutuliskan juga, awalnya aku berniat memberikan seluruh harta karunku yang tersimpan dalam sekaleng Tancho untuk menambah modal perbaikan sarana penangkaran milik Hazri. Namun mengingat kontroversi ahli penyu seperti tersebut di atas, aku memohon dengan amat rendah hati kepada Hazri agar menerima harta karun itu sebagai ongkos melanjutkan kuliahnya.
Lagi-lagi aku bersyukur, Hazri menerima ide itu dan karenanya di terminal kedatangan yang bising inilah aku sekarang berada.
“Hei, apa kabar kemenakan Nana?”
Nah, ini dia orangnya sudah datang dengan semringah. Bibirnya itu bergerak-gerak tak tentu sebab susah payah menahan ketawa. Dan matanya yang serupa dua bulan purnama itu, sungguh aku melihat rindu yang amat bercahaya.
“Tentu rindu dengan Pakcik.”
Kami tertawa bersama. Tak perduli lalu lalang orang dan gelinding roda travel bag yang ditarik tergesa-gesa. Waktu seolah berhenti. Hazri memelukku menyatukan rindu kami. Dan ketika masing-masing kami tersadar bahwa perasaan adalah tentang sikap, maka kami saling melepaskan dan menatap.
“Kita tak akan bisa seperti Kak Hafsah dan Baba kau. Kau akan hidup bersama orang lain dan mungkin akupun sama. Tapi kita tak akan pernah kehilangan satu sama lain. Selamanya kau adalah adikku.”
“Dan kau pakcikku.”
Deal?
Aku mengangguk. Sungguh, ini berat bagiku pada mulanya. Tiga purnama sebelum ini, Hazri mengirimiku surat dan bertanya perihal perasaannya yang belum kujawab dalam suratku yang tanpa amplop tempo hari. Maka kubalas suratnya dengan sejujur-jujurnya perasaanku. Rasa sayang yang kerap ditelikung takut. Takut akan menitikkan noktah pada lembar-lembar kebahagiaan milik Baba dan Mama Hafsah.
Hazri memang lebih pandai menyikapi perasaan ketimbang aku. Dia memintaku mengikhlaskan perasaanku padanya, pun dia akan coba melakukan hal yang sama. Kami sampai pada satu keyakinan bahwa kebahagiaan Baba dan Mama Hafsah adalah bayaran lunas bagi keridaan jiwa kami.  
“Dan ini milikmu, Nana.”
Hazri mengangsurkan kaleng Tancho ke hadapanku. Ia lantas meraih telapak tanganku untuk menerimanya. “Kak Hafsah dan Baba kau beri aku ongkos kuliah. Harta karunmu masih utuh. Simpanlah untuk sesuatu yang lebih berharga dari upaya pengentasan kesunyian pemuda ini.”
Kami tertawa lagi. Kembali tak perduli pada hiruk pikuk dan segala derita yang pernah menimpa. Semua getir dan anyir di hatiku telah kuikat dan kumasukkan ke dalam kaleng keramat peninggalan Mama; pada sekaleng Tancho.
TAMAT.

2 komentar:

  1. wow banget
    Dan aku belajar tentang penyu
    Makasi mbak

    BalasHapus
  2. dan uni menangis deras....

    uni kenal seseorang seperti Hazri dan Nana. saling menyintai tapi tak bisa dilanjutkan dan harus ikhlas.

    bagus banget Wiwik.... dan pengetahuan tentang penangkaran penyu ini luar biasa....

    BalasHapus

Terimakasih sudah meninggalkan komentar. Mohon untuk selalu berkomentar dengan bahasa yang baik dan tidak SARA, ya.