Selasa, 19 September 2017

[Pemenang 1 Sayembara Cerber Femina 2016/2017] Pada Sekaleng Tancho Bag.2


2.    Bantal Kapuk
Berdiri di bingkai jendela dengan pikiran terbang ke mana-mana (hanya ke Sambung Hidup dan ke Durai bilang ke mana-mana) membuat kakiku pegal. Aku segera membuka lemari pakaian dan mengambil handuk untuk mandi.
Setelah segar, tak bisa kutahan diri untuk rebah di kasur yang dibungkus rapi dengan seprai motif kembang  matahari. Empuk. Seperti kata Cik Hafsah, ini kasur baru menggantikan tilam kapuk milikku yang dulu. 

Baba memang lebih perhatian setelah menikah dengan Cik Hafsah. Atau, mungkin ini ide Cik Hafsah? Pikiranku jadi terbang lagi. mengingat bagaimana Cik Hafsah yang cantik dan banyak penggemar (terlihat dari kedainya yang selalu ramai) mula-mula datang ke rumah ini setelah dipersunting Baba. 

Cik Hafsah bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan sarapan. Dia tentu tak bisa meninggalkan kebiasaan paginya semasa mengelola kedai; menyembelih perut tongkol dan mengeluarkan kotoran-kotoran dari dalamnya demi sebuah olahan lezat; laksa bertabur suwiran tongkol.
Di meja makan kami yang biasanya hanya terhidang nasi lemak hasil beli atau mi instan rebus hasil karya Baba saat sarapan, pagi itu sudah terhidang macam-macam jenis makanan yang bisa kami pilih. Cik Hafsah menyihir Baba melalui tangannya, tapi aku tahu itu bukan salahnya. Melainkan salahku, mengapa lidahku tak dapat merasakan sihir dari tangannya lagi?
Aku mengingat itu sambil satu tanganku bergerak tak henti merayapi bantal kapuk. Oh ya, aku punya kebiasaan mencari dan memecahkan biji kapuk yang ada di dalam bantal. Kebiasaan dari kecil. Aku bahkan tak bisa tidur sebelum lelah memecahkan biji-biji kecil dan keras itu. Rasanya, hatiku menjadi senang bila berhasil memecahkan satu biji. Lalu bergerilya mencari biji lain lagi, lagi dan lagi. Bila kudapati biji yang terlalu keras dan jariku tak berhasil menaklukkannya, maka aku akan mengambil alih pekerjaan jari dengan gigiku.
Jorok? Itu penilaian kalian yang terlahir pada dekade ini. Untukku yang lahir pada dekade lalu, dan sekali lagi ingat betapa aku harus tabah tinggal di sebuah pulau kecil yang parabola kerap terjungkal mencari siaran, maka, bisa memecahkan biji kapuk merupakan prestasi membanggakan yang menimbulkan perasaan senang tak terkira. Puas sekaligus membuat ketagihan. Maka, bantal kapuk adalah teman terbaik saat-saat aku kehilangan Mama.
Aku lima tahun kala itu. Mama sudah sering sakit sejak dua tahun sebelumnya. Aku belum mengerti jenis sakit yang diderita Mama. Yang kuingat, Baba selalu marah bila Mama kerap mengulur waktu makannya. Barangkali, ada maag akut pada mulanya. Aku hanya tahu, pada tahun kedua sakitnya, separuh tubuh Mama lumpuh pada bagian kanannya.
Cik Hafsah sering berkunjung ke rumah untuk menjenguk Mama. Dan selalu, ada saja makanan yang ia bawa. Malam sebelum keesokan harinya Mama meninggal, Mama sempat minta didorongkan kursi rodanya ke teras depan. Beberapa saat Mama hanya diam sambil melihat satu dua orang lewat dengan sepeda motor atau berjalan kaki. Jangan tanya mobil. Itu benda langka dan keramat, hanya satu orang yang memiliki kendaraan roda empat di Tarempa pada masa itu.
Aku berdiri di sebelah Mama sementara Baba berjongkok di sisi lainnya. Baba mengatakan angin malam tak bagus untuk Mama dan sebaiknya Mama kembali ke kamar. Tapi Mama menggeleng. Tangan kirinya terangkat. Gerakannya seperti menunjuk ke arah kedai Sambung Hidup.
“Kau ingin makan sesuatu buatan Hafsah?” tanya Baba.
Mama menggeleng. Bibirnya menggumam tak jelas dan tangannya terus menunjuk-nunjuk ke kedai kopi itu. Baba berjanji esok pagi-pagi sekali akan memanggilkan Cik Hafsah bila Mama akan mengatakan sesuatu padanya. Memang benar, esok paginya, Baba menggedor-gedor pintu Sambung Hidup. Bukan untuk memanggil Cik Hafsah tapi untuk mengabarkan kalau Mama sudah mengembuskan napas terakhirnya.
Cik Hafsah adalah pelayat pertama. Dalam kekalutan Baba mengurus jenazah Mama, maka sepenuhnya kebutuhanku hari itu hingga beberapa hari berikutnya diurus oleh Cik Hafsah. Itulah awal Cik Hafsah tahu aku tak bisa tidur tanpa bantal kapuk.
***
“Cik Hafsah dah buatkan laksa. Mungkin di Jakarta banyak juga orang jual laksa macam ini, ya? Tapi laksa Tarempa pasti beda, kan? Ayolah coba.”
Aku bangun kesiangan pada hari liburan pertamaku. Bukan liburan, lebih tepat, aku pulang karena Baba mengancam tak akan mengirimkan uang jika aku tak pergunakan libur semesterku untuk pulang barang sebentar. Karena tentu saja aku masih butuh makan di tanah orang, maka kuturuti Baba untuk pulang. Dan kukelukan lidah untuk mencoba segala apa yang dihidangkan oleh Cik Hafsah.
“Makasi, Cik. Ini pasti sedap,” jawabku singkat sambil menyuapkan sesendok ke dalam mulut. Mungkin benar enak di lidah orang lain, tapi di lidahku ini menjadi hambar.
“Oya, besok kalau balek Jakarta, kalau Nana nak bawa bantal kapuknya biar Cik Hafsah kemas rapi.”
Aku berhenti mengunyah. Tersentuh dengan perhatian Cik Hafsah. Oh, sesungguhnya, aku telah tertawan oleh kebaikannya sejak aku belum bisa membaca dan Cik Hafsah –disela sibuk mengurus kedai- dengan sabar mengajariku huruf dan angka. Aku juga tertawan oleh kebiasaan mengaji Cik Hafsah saat kedai sedang sepi, dan aku memaksanya untuk mengajariku bagaimana cara membaca huruf-huruf Arab itu. 
“Tak lucukah pergi jauh bawa-bawa bantal? Macam budak kecik je lah.”
“Aih, kenapa pula lucu? Cik Hafsah bisa kemaskan rapi macam kemas kado.”
Aku menggeleng, “Taklah, Nana dah bisa lepas dari candu pecahkan biji kapuk sekarang.”
Wajah Cik Hafsah yang tadi semangat terlihat mengendur. Mata teduhnya menerawang sebelum akhirnya bertanya serius. “Jadi, semalam dah tak sibuk cari biji-biji kapuk itu lagi, ya?”
“Kalau ada bantalnya jadi refleks pula, malah tak bisa tidur sebelum jari kebas,” kuacungkan dua jari yang semalam sibuk bekerja entah sampai jam berapa. Cik Hafsah menggangguk tanda mengerti.
“Syukurlah kalau macam tu. Nanti lepas Nana balek Jakarta, Cik simpankan lagi bantalnya.”
“Bantal busuk, buang juga tak masalah.”
“Tak lah. Itu kan model bantal kesayangan Nana dari kecik dulu. Tak payah simpankan buat kenang-kenangan. Kalau kapan waktu Nana dah menikah, Cik Hafsah bisa ceritakan ke anak-anak Nana, kalau itu bantal sejarah Mama Nana.”
Ada seringai tawa yang terserta dalam kalimat panjang Cik Hafsah. Tapi buatku ini sama sekali tidak lucu. Apa pentingnya menyimpan bantal kapuk? Lagi pula, sebelum Cik Hafsah datang ke rumah ini, semua bantal adalah bantal kapuk. Aku tak memiliki satu bantal istimewa. Asal ada bantal kapuk, yang manapun, tenanglah malamku sebelum tidur. Yang istimewa justru perhatian Cik Hafsah yang ingat untuk menyisakan satu bantal kapuk untukku saat yang lain sudah dipensiunkan.
 Dan tadi Cik Hafsah menyinggung apa? Pernikahan?  Wow, apa Cik Hafsah mengerti aku bahkan belum bisa move on dari Hazri?
Nah, aku jadi kelepasan cerita. Ya, benar. Hazri. Aku jatuh cinta pada bujang kurus adik Cik Hafsah. Cinta yang dalam, diam-diam dan teramat berarti buatku. Jika kalian mengerti betapa sulitnya memilih adakah lebih baik memiliki ibu sambung sebaik Cik Hafsah atau memiliki kekasih sekeren Hazri, kalian pasti mengerti dari mana asal kekeluan lidahku tiap kali menyantap hasil olahan tangan Cik Hafsah. Sebab aku tak bisa lekas menentukan takdirku secepat Baba melakukannya.
Selepas kepergian Mama, Baba begitu percaya pada Cik Hafsah hingga aku dilepas begitu saja bila ingin main ke Sambung Hidup. Saat Baba pada akhirnya mengizinkanku ikut ke Durai pertama kalinya, sebelum itu aku sempat melihat Baba memberikan secarik kertas untuk Cik Hafsah. Begitu pun keesokannya kulihat Cik Hafsah memberi kertas yang lain lagi untuk Baba.
Saat kutanya pada Baba, jawabnya itu hanya kertas berisi catatan biaya jajan yang kuhabiskan di Sambung Hidup dan catatan biaya rantang makan siang-malam kami yang selalu dikirim Cik Hafsah dan Baba harus membayarnya. Kuperhatikan, surat itu tak memiliki periode waktu tertentu untuk saling ditukar. Kadang seminggu sekali, kadang sampai sebulan sekali. Mulanya aku percaya apa kata Baba. Namun kepercayaan itu lenyap  ketika tak sengaja kutemukan sepucuk surat milik Cik Hafsah di meja Baba dan isinya sangat aneh, kira-kira begini, ‘kalau Koh Andi Halim nak belajar agama, pergilah ke guru mengaji di Masjid Jamik. Mengaji dengan niat dapat petunjuk, bukan yang lain-lain.’  
Aku SMP saat itu. Dan agaknya aku mengerti kekuatan apa yang membuat Baba ingin mengaji. Bisa kumengerti bagaimana rasanya hidup sendiri selama sembilan tahun. Kalau aku merasa terhibur dengan keberadaan Cik Hafsah, barangkali Baba pun sama. Kalau aku kadung nyaman bersama Cik Hafsah, mungkin Baba juga ketularan nyaman.
Berbagi Cik Hafsah dengan Baba? Tak masalah. Kupikir, kami dua orang yang memang butuh Cik Hafsah. Masalahnya, saat itu, aku yang sedang beralih dari masa kanak ke masa remaja, dari budak menjadi dayang, sedang merasakan sensasi perasaan yang berbunga-bunga bila bertemu dan dekat dengan Hazri. Entah, mungkin ini yang namanya cinta. Eaaa, aku jadi senyum sendiri mengingatnya.
“Na…, Nana… “ Tahu-tahu, Cik Hafsah yang tadi duduk di seberang meja sudah pindah ke sampingku. Tangannya menepuk halus pundakku dan meluluhlantakkan gambaran cinta pertamaku dari kepala. “Ngapalah melamun sampai tersenyum sendiri. Sudah punya kekasihkah di Jakarta? Bolehlah cerita sikit dengan Cik Hafsah.”
Eh?
“Ingat dulu kita setiap hari bertukar cerita. Nana datang ke kedai trus kita cerita-cerita. Cik Hafsah rindu betul cerita-cerita Nana.”
“Tak ada yang istimewa untuk diceritakan,” kilahku segera. “Pun tak ada kekasih, tak ada orang spesial yang penting Nana ceritakan.”
Barangkali, wajahku lebih datar dari papan setrika saat mengatakan itu. Tangan Cik Hafsah kembali terangkat dan mengelus puncak kepalaku dengan lembut. “Tak masalah, kapanpun seorang spesial itu datang, Cik Hafsah siap dengar.”
Oh, tentu itu tak akan pernah terjadi. Bagaimana mungkin aku menceritakan perihal bujang yang menawan hatiku bila itu adik Cik Hafsah sendiri. Memang pahit benar urusan ini. Sepahit laksa yang kuhadapi dan tak kunjung berhasil ku tandaskan walau hanya beberapa suapan.
***
“Nana boleh main ke Durai, Ba?”
Selesai acara makan laksa yang menyiksa, aku mendatangi Baba ke depan. Ia baru saja melayani pembayaran spanduk seseorang. Jelang pilkada seperti ini, pesanan kaos, spanduk, brosur dan segala pelengkap kampanye naik drastis. Seharian Baba sibuk. Kalau tak diingatkan istirahat untuk makan siang oleh Cik Hafsah, Baba tak akan berhenti melayani pelanggan dan mengawasi pekerja.
Baba membenarkan posisi kacamatanya yang melorot ke puncak hidung sambil menatapku intens, “Kapan?”
“Berangkat sore ini, boleh?”
“Sekarang dah musim angin Utara, ombak kuat betul, Nana.”
“Tapi hari ini cerah, Ba.”
Baba berpikir dan menimbang entah apa.
“Nana rindu tengok penyu bertelur.” Tambahku dengan sedikit improvisasi. Utamanya adalah aku kangen pada Hazri, itulah yang sebenarnya. Oh, kudoakan kalian jangan sampai mengalami apa yang kurasakan. Menekan-nekan perasaan rindu, membenam-benamkan perasaan sayang. Aku harus senantiasa berdoa pada Tuhan yang meninggikan langit tanpa tiang agar berkenan merubuhkan perasaanku yang tanpa harapan.
“Ajak Mama kau.”
Wa bisa berangkat sendiri.”
Baba beralih dari menatapku. Ia mengambil secarik kertas dan menuliskan sesuatu di atasnya. Ia lantas memanggil Ahong dan menginstruksikan kepada operator mesin offset itu untuk menyampaikan kertas itu kepada Pak Ngah.
“Kau siap-siaplah, pergi ke Durai diantar Pak Ngah.” Kata Baba akhirnya.
Aku mengerling tanda terima kasih kepada Baba.
***
“Nana ingat tak, dulu terakhir ke Durai sebelum berangkat ke Jawa, Nana bawa satu bantal kapuk ke sana dan tinggalkan bantal itu di sana?”
Tanganku berhenti dari mengemasi dua lembar pakaian yang akan kubawa ke Durai. Kuperhatikan wajah Cik Hafsah yang masih tampak sangat jelita (kalau kalian pernah lihat Maudy Koesnaedi di televisi, Cik Hafsah lebih jelita dari artis lawas itu). Sayang wanita jelita ini punya masa lalu yang kelam.
Cerita Cik Hafsah, dulu selepas SMP ia berangkat ke Batam menjadi buruh PT[1]. Tiga tahun di Batam Cik Hafsah terbujuk ajakan temannya untuk menjadi TKW ke negeri seberang. Malang ia terjerat PJTKI ilegal dan hampir menjadi korban perdagangan manusia setelah disekap sebulan lamanya.
Selolosnya dari sindikat human trafficking, Cik Hafsah lantas kembali ke Tarempa dan membangun usaha kedai kopi dari tabungan selama bekerja di Batam. Mungkin trauma dengan cukong (manusia berhati binatang), Cik Hafsah rela melajang hingga akhirnya ketulusan Baba sanggup memenangkan hatinya.
“Betul. Bantal kapuk itu dulu tertinggal di Durai. Apa soal bantal itu, Cik?”
“Itulah bantal yang Cik Hafsah sisakan untuk Nana.” Ujar Cik Hafsah sambil menunjuk ke arah bantal kapuk yang semalam kurayapi demi mendapatkan biji-biji. “Hazri yang bawa balek ke sini. Dia pesankan Cik Hafsah untuk baik-baik jaga bantal itu. Tak boleh hilang dan dibuang. Itu milik Nana dan harus selalu bersama Nana.” 
Aku menelan ludah dengan susah payah. Dari radio yang disetel Ahong di ruang cetak kudengar Ari Lasso menyanyi.
Tuhan, mengapa Kau anugerahkan.
Cinta yang tak mungkin tuk bersatu?
Amboi perih betul. Betul-betul perih.

bagian tiganya ini ya....


[1] Pabrik

1 komentar:

Terimakasih sudah meninggalkan komentar. Mohon untuk selalu berkomentar dengan bahasa yang baik dan tidak SARA, ya.