Selasa, 19 September 2017

[Pemenang 1 Sayembara Cerber Femina 2016/2017] Pada Sekaleng Tancho Bag 1



Pada Sekaleng Tancho
Oleh: Dwi Asih Rahmawati (Dulu-dulu ngirim cerpen ke Femina pake nama Wiwik Waluyo nggak ada yang nyangkut. Coba pake nama KTP, alhamdulillah :D)

11. P U L A N G
Pada musim Utara yang ganas.
Ketika ombak Laut Tiongkok Selatan kerap menggulung-gulungkan bahtera.
 Aku pulang ke sebuah teluk kecil.
Demi sebuah hal besar yang tersimpan dalam sekaleng Tancho.

            ***
 Macemana kuliah kau, Nana? Lancar, kan?”
Aku baru masuk rumah beberapa menit lalu dan masih agak mabuk laut. Dua tahun tidak menumpang transportasi laut membuatku pening bahkan walau hanya sebentar di atas speedboat (menyeberang dari Bandara kecil milik perusahaan asing yang eksplorasi migas di laut Natuna di Palmatak menuju Tarempa). Sebaris tanya milik Cik Hafsah yang bahkan tak mengandung unsur penekanan sedikitpun, anehnya, menambah pusing di kepalaku.
“Nana!” Seruan Baba kali ini. Pendek namun berhasil menyentak kesadaran dan membuat segerombolan pening tunggang langgang berlarian dari kepala. “Kalau ditanya jawab sopan, jangan diam macam patung.”
“Nana pasti masih teruk betul badannya. Sekarang kita makan dulu. Cerita-cerita bisa besok, kan Nana?”
Aku mengangguk. Dan tersenyum sedikit untuk Cik Hafsah.
Aneh. Dulu aku senang sekali tersenyum pada wanita empat puluh tahun ini. Bahkan, walau ia tak bertanya dan tak menyapa, aku sebisa mungkin mencari-cari perkara agar bisa berurusan dengannya dan menghadirkan senyum terbaikku. Tetapi itu dahulu. Dahulu sampai tiga tahun lalu. Tahun yang membuatku tertekan dan enggan tersenyum bahkan setipis lembar kertas pun untuknya.
Atas ketersiksaan batin yang bercokol dan enggan pergi itu, akhirnya kuputuskan untuk meninggalkan rumah dua tahun lalu saat lulus SMA. Pada Baba kubuat alasan ingin melanjutkan pendidikan ke Ibukota. Padahal, oi, niat awalku dulu-dulu, lepas sekolah menengah, bila datang bujang dambaanku (sementara kurahasiakan dulu namanya) mengungkapkan perasaannya padaku, rasanya aku sanggup tinggal di Tarempa sampai riwayatku tamat nantinya.
Menyeramkan sekali cita-citaku, bukan?
Ya, itulah cita-cita anak pulau terpencil yang sehari-hari menghirup bau busuk limbah pasar ikan (rumah toko Baba hanya berjarak tiga ruko dari pasar ikan Tarempa) dan hanya mendapat hiburan dari televisi yang kadang jernih kadang dipenuhi gerombolan semut walau parabola sudah diputar ke sana- kemari. Malah tempo-tempo, barang penangkap siaran itu jatuh terjungkal sebab terlalu lelah diputar-putar tak tentu arah. Hanya rahmat Tuhanlah yang membuat aku dan parabola itu tabah menjalani takdir hidup di pulau yang seolah dilemparkan Tuhan ke tengah-tengah lautan maha luas dan aku tak yakin kalian akan temukan nama pulau kami tercatat di dalam peta. Jauh ke mana-mana, serta mahal ke mana-mana.
“Cik Hafsah buatkan cumi hitam kesukaan kau. Makanlah yang lahap, Nana.”
Sepiring nasi hangat yang masih mengepul uapnya disodorkan Cik Hafsah ke hadapanku. Berikut sepiring  lonjong cumi berlumur bumbu hitam yang meneteskan liurku. Langsung hilang gambaran deritaku yang dulu-dulu. Berganti luka yang sekarang terasa kembali menganga.
Cumi masak hitam. Uh, Cik Hafsah masih ingat saja apa-apa yang kusuka. Dia tahu benar dan sudah amat tahu segala tentangku. Dulu aku selalu nambah makan berlauk cumi hitam buatannya, juga laksa buatannya, juga luti gendang[1] buatannya. Ya, harus kuakui tangannya itu ajaib. Apa-apa yang dibuat olehnya terasa sangat enak di lidahku. Tapi itu dahulu. Dahulu sampai tiga tahun yang lalu. Sebab setelahnya, setelah setiap hari ia memasakkan apapun untukku, lidahku ini jadi mati rasa.
Nafsu makanku hilang dan makanku jauh berkurang. Dan sebelum tubuhku terdiagnosa kekurangan gizi dan membuat Baba malu -bagaimana mungkin satu-satunya juragan percetakan di Tarempa, yang makmur dan tambun memiliki seorang putri yang kekurangan gizi?-, maka pamitlah aku merantau untuk belajar ke Ibukota. Yang entah bagaimana kisahnya, di Ibukota, saraf-saraf lidahku kembali berfungsi normal.
Gamang kusendok cumi hitam dan kupindahkan ke piringku.
“Makan yang banyak,” Baba menambahkan satu sendok cumi lagi ke dalam piringku. Aku menurut saja.  Dan pelan mulai menyendokkan satu suapan ke mulutku. Seharusnya ini makanan lezat, pedas, gurih, nikmat. Tapi entah, kenapa lidahku hanya merasa pahit?
“Asin betulkah cuminya, Nana?” Cik Hafsah menangkap perubahan mimikku.
Mmm, taklah. Wa cuma rasa masih kenyang tadi makan di pesawat.”
Hah, kenyang makan apa di pesawat baling-baling? Makan angin? Aku ingin sekali meninggalkan Cik Hafsah dan Baba, tapi pasti Baba akan mengataiku sebagai gadis payah. Maka kutabah-tabahkan hati sembari airmata diam-diam meluncur dan menyumbang rasa bagi cumi yang dipuji Baba sangat istimewa rasanya.

***
Aku naik ke lantai dua dan segera membuka pintu kamar yang sudah dua tahun kutinggalkan. Harum. Tak ada sama sekali apak atau bau khas kamar yang lama ditinggal penghuninya. Pun seprai, cermin di sudut kamar, dan kayu bingkai jendela bersih mengilap tanpa debu. Semua telah dibersihkan dengan sempurna oleh Cik Hafsah.
Oh, aku masih saja memanggilnya dengan ‘Cik’. Bukan ‘Mama’ seperti yang selalu diinginkan Baba, atau bukan pula ‘Mak’ seperti kebanyakan temanku memanggil ibu mereka. Rasanya masih terlalu ganjil, dan berat, juga sakit.
Kulihat seringai bibirku yang tersenyum tanggung di dalam cermin saat batinku mengucapkan ‘sakit’ sesaat tadi. Kalian tahu sekarang, wanita yang kusebut ‘Cik Hafsah’ semenjak tadi, senyatalah beliau adalah ibu sambungku. Walau belum bisa sepenuh hati menerima kehadirannya, menyebutnya ibu sambung terasa jauh lebih sopan dibanding ibu tiri walau artinya tiada berbeda.
Pintu kamar dibuka dari luar. Kukira Baba, ternyata Cik Hafsah. Dia tersenyum lembut. Selalu begitu. Walau aku selalu menarik diri semenjak pernikahannya dengan Baba, tak pernah senyumnya dan sikap baiknya padaku berkurang sedikitpun. Ini membuat hatiku semakin merana.
“Baba kau ganti tilam yang lama dengan yang baru. Bantal-bantalnya juga. Tapi Cik Hafsah sisakan satu bantal kapuk untuk kau,” ujar Cik Hafsah sambil tangannya menunjuk ke tumpukan bantal paling atas.
“Makasih, Cik,” sahutku ringkas. Berharap ia mengerti aku belum ingin bercakap-cakap dengannya.
“Maaf kalau cuminya kurang sedap, ya, Nana. Besok Cik buatkan yang lebih lezat,” janjinya sambil melangkah ke luar. Aku tak menanggapi apapun lagi, takut esok akan membuatnya kecewa dengan selera makanku yang kembali payah.
Selepas pintu ditutup Cik Hafsah, aku melangkah ke bingkai jendela. Mataku terlempar ke seberang. Nanar menatap sebuah rumah kayu dengan seng usang karatan yang kerap bergelontang diterpa angin laut. Di depan rumah itu, menggantung miring satu buah papan bertuliskan Kedai Kopi Sambung Hidup.
Kedai itu tak seramai dahulu. Dahulu, tak hanya Pakcik-Pakcik, aku dan beberapa kawanku pun ikut memenuhi sesak kedai. Aku bahkan menjadi salah satu tamu tetapnya semenjak kanak-kanak. Anak perempuan bermata sipit dan berkulit putih yang suka nongkrong di kedai kopi, akulah orangnya.
Tiba-tiba, pelupukku merebak. Di hadapanku, kedai kopi yang tak terlalu ramai itu seketika didatangi orang-orang. Satu, dua, tiga, terus, dan aku seperti tersedot ke sana, larut bersama riuh orang-orang yang membuang segala penat dalam becangkir-cangkir kopi buatan Cik Hafsah, pengelola kedai kopi paling jelita di Tarempa.
***
Seorang anak lelaki menatapku dengan penuh selidik. Dia duduk di pojok dekat rak yang menyimpan stoples berisi kopi dan gula. Badannya yang kurus tertutup oleh Pakcik-Pakcik yang minum kopi sambil main catur dan membual soal-soal kenegaraan seolah mereka penasehat Presiden.
Kuperhatikan dengan menajam-najamkan mata sipitku; kulitnya bersih, rambutnya ikal dan ada garis melintang bekas luka di pipi kanannya. Sejak hampir sepuluh menit lalu aku datang dan duduk di kursi kayu yang beseberangan dengan kompor tempat Cik Hafsah menjerang air dan mengolah kuah laksa, anak laki-laki itu terus mengawasi gerak-gerikku.
Aku baru sekali ini melihatnya di kedai Cik Hafsah. Namun sepertinya, aku sudah melihatnya sebelum ini tapi lupa di mana.  Karena dia masih terus menatapku, maka kubalas tatapannya dengan balik menatapnya galak.
“Janganlah kalian diam-diaman macam budak begadoh (bertengkar).”
Cik Hafsah mendekati anak laki-laki itu, lalu menarik tangannya dan membawanya dekat kepadaku. Satu tangan kecilnya yang mirip batang muda segera dijulurkan kepadaku, “Nana, kenalkanlah adek paling kecik Cik Hafsah, baru tiba dari Durai dua hari lalu.”
Aku membuang tatapan galakku dan balas mengulurkan tangan, “Nana.”
Dia balas, “Hazri.”
Cik Hasfah menimpali, “Nah, mulai sekarang kalian berkawan. Kau Hazri, tak boleh nakal dan harus jaga Nana kalau main dan sekolah.”
Kata terakhir Cik Hafsah membuatku tersadar. Aku sudah melihat Hazri di sekolah. Ya, kami satu sekolah. Saat kemarin Baba mengantarku hari pertama Sekolah Dasar,  sepintas kulihat Cik Hafsah juga ada di sekolah. Aku tak sempat menegurnya dan bertanya mengapa ia ada di sekolah, teryata, Cik Hafsah mengantar adiknya.
Sejak saat itu Hazri menjadi temanku. Mulanya ia pendiam sekali. Cik Hafsah bilang, itu akibat dia selama tujuh tahun semenjak lahirnya tinggal di Durai, pulau kosong yang hanya disinggahi penyu. Tak ada temannya kecuali mak dan ayahnya, juga tukik-tukik (bayi penyu).
Bisa kubayangkan bagaimana kikuknya orang yang sehari-hari hanya bermain dengan tukik, kini harus bermain denganku dari golongan manusia. Dan aku ini, entah menurun siapa, punya bibir yang susah sekali mengatup alias hobi bicara. Maka mulutku yang bising ini, agaknya, membuat teman baruku itu meriang. Bagaimanapun, aku tidak menganggap enteng seseorang yang kewalahan beradaptasi dari penyu dan tukik yang pendiam kepada aku yang berisik.
“Apa kau pernah tengok penyu bertelur?” tanyaku suatu hari, saat dia sudah mulai terbiasa dengan keberadaanku sebagai temannya dan aku mulai bosan dengan pertemanan yang hanya diam-diaman. Sayangnya, percobaan pertamaku itu hanya dijawab dengan anggukan.
“Apa kau jago menyelam?” tanyaku hari yang lain lagi. Dan dia mengangguk lagi.
“Kau senang tak tinggal di Tarempa?” esok hari coba kutanya lagi, masih dijawab anggukan lagi. Kalau tak mengingat dia adiknya Cik Hafsah, aku pasti malas untuk tanya-tanya lagi. Oh, bukan. Kupikir bukan sebab dia adiknya Cik Hafsah atau bukan, melainkan aku yang butuh teman bicara dan bermain, maka aku masih tetap mencoba.
“Kau tak rindu tukik-tukik teman main kau di Durai?”
Dia diam. Berpikir entah apa. Tak ada anggukan pun gelengan. Apa aku salah bertanya?
“Kau pernah melepas tukik?”
Kemajuan, dia buka mulut sekarang. Maka cepat-cepat kupergunakan kesempatan ini untuk menggali kemungkinan apapun agar kami bisa segera pergi main ke luar dari Sambung Hidup. Mungkin main balap engrang batok kelapa atau melompat dari pelantar kayu dan terjun ke air untuk lama-lamaan waktu menyelam.
Aku menggeleng. “Asyik ya?”
Dia mengangguk. “Kalau aku balik ke Durai, kau bisa ikut dan lepas tukik ke laut.”
Wow. Aku langsung kesenangan. Pertama, temanku sudah mulai bicara. Kedua, dia langsung mengajakku bermain ke pulaunya. Tapi sayang, setiap satu bulan sekali Hazri akan pulang menjenguk ayah dan maknya juga tukik-tukiknya tentu saja, Baba tidak mengizinkanku turut.
“Durai itu jauh, Nana!” larangan Baba bulan pertama.
“Kau masih kecik, naik pompong (perahu tradisional) nanti mabok siapa urus?” tanyanya di bulan kedua.
“Tak payah tengok tukik, nanti malam Baba antar naik komidi putar di pasar malam,” alih Baba bulan ketiga. Dan seterusnya macam-macam larangan hingga aku tetap memohon selama setahun penuh dan Baba tetap belum habis ide melarangku.
“Kau tahu, Nana. Di Durai sana sepi tak ada siapa-siapa kecuali hantu-hantu. Hantu di sana lebih seram dari hantu-hantu di kuburan Gan Ban Tong.”
Baiklah, aku tak lagi merengek sampai suatu hari akhir pekan saat aku kelas empat, tiba-tiba saja Baba mengatakan kalau aku masih ingin ke Durai, ia akan mengizinkan.
Aku berangkat bersama Hazri dan Cik Hafsah pada Sabtu sore. Walau sehari-hari melihat pemandangan laut, tapi Durai berbeda. Tidak ada dermaga walau cuma kayu. Saat pompong kami sampai di pantai, Pak Ngah tekong (pengemudi pompong) kami melepas jangkar. Dan kami menunggu ayah Hazri menjemput dengan jongkong. Itu jenis sampan kecil yang hanya  muat dua sampai tiga orang.
Di Durai, Cik Hafsah mengurusku macam mengurus bayi. Perut dan punggungku dioles minyak, makanku diambilkan, dan aku sebentar-sebentar ditanya apakah pusing apakah lapar. Mungkin, ini akibat Baba terlalu banyak berpesan kepadanya.
Dua hal yang sangat membuatku gembira, Hazri mengajakku melihat penyu bertelur saat malam hari dan membawakan satu ember kecil berisi tukik pada Minggu paginya. Tukik-tukik itu dirawat oleh ayah Hazri sampai tiba waktunya kuat untuk dikembalikan ke laut.
“Ambil satu,” Hazri mengajariku dengan terlebih dahulu ia mengangkat satu tukik dan diletakkan di telapak tangannya. Aku geli. Beberapa saat hanya diam melihat Hazri yang khusyuk dengan tukiknya.
Hazri meletakkan tangannya di pasir dan membiarkan tukiknya merangkak. Sebuah buih sisa ombak menyapu mahluk kecil itu. Dia berjalan terus. Hazri menyorakinya. Dan sebuah sapuan ombak membawa tukik itu pergi, berenang ke rumah aslinya.
“Ayo, cobalah.”
Hazri mengambil tukik lagi dari ember. Enam sekaligus dan langsung dijajarkan di pasir.
“Tiga yang sana milik kau, tiga yang ini punyaku. Siapa dulu yang masuk pantai dia yang menang.”
“Ayo.”
Dan kami bersorak-sorak menyemangati tukik-tukik kami. Hazri sampai rebah ke pasir dan tak peduli pada bajunya. Ia terus merayap mengikuti tukik-tukiknya yang berjalan gesit. Tak mau kalah, aku ikut telungkup di pasir. Kusemangati tukik-tukikku dengan yel-yel. Kami terus merayap di pasir yang basah. Tak peduli baju dan rambut ikut basah. Aku sangat senang walau akhirnya ketiga tukik Hazri hilang terlebih dahulu ketimbang punyaku.
“Aku menang,” umumnya bangga.
“Yalah, kau, kan, semenjak lahir dah lepas tukik ke laut. Macamana bisa kalah?”
Hazri tertawa lepas. Dan matanya menjadi begitu bersinar. Untuk kali pertama sejak aku mengenalnya, baru itulah kulihat Hazri yang lepas dan apa adanya. Mungkin, karena di sinilah rumahnya. Rumah yang nyaman bagi jiwanya.
Sekarang, apa kabar Hazri?

baca bagian dua disini...


[1] Sejenis panada.

1 komentar:

Terimakasih sudah meninggalkan komentar. Mohon untuk selalu berkomentar dengan bahasa yang baik dan tidak SARA, ya.