Sabtu, 19 Agustus 2017

Le Grand Voyage, Umrah Backpacker dan Jalan Kemurnian Diri Seorang Hamba

”Mengapa Ayah tidak naik pesawat saja ke Mekkah? Itu akan lebih mudah.” Ujar sang putra kepada ayahnya.

”Saat air laut naik ke langit, ia akan kehilangan rasa asinnya untuk menjadi murni kembali.”
“Apa?” tanya sang putra tidak mengerti.
“Air lautan menguap saat ia menuju langit. Dan saat air laut menguap, ia akan menjadi tawar.  Itu alasan mengapa lebih baik menempuh perjalanan haji dengan berjalan kaki daripada mengendarai kuda. Dan lebih baik mengendarai kuda daripada naik mobil. Dan lagi, lebih baik naik mobil daripada naik pesawat terbang…”

                Di atas adalah cuplikan dialog Reda dengan ayahnya dalam film lawas Le Grand Voyage (2004). Reda terpaksa menuruti kemauan ayahnya untuk menjadi supir sepanjang hampir lima ribu kilo meter, dari Prancis menuju ke Mekkah.

Saat beristirahat di suatu tempat, sembari membungkus diri dalam selimut dan menyeruput teh, Reda yang sebenarnya tak akur dengan sang ayah bertanya soal kenapa lelaki tua itu tak menempuh cara haji paling mudah saja? Dan, seperti di atas itulah jawaban sang ayah.
                
                                           
sumber dari google.

Le Grand Voyage menyeret saya pada sebuah jalan setapak menuju ke dalam diri. Semenjak kecil, saya senang bermonolog. Semisal mempertanyakan mengapa Allah jadikan saya anak yang kurus hitam dan kutu-an ^_*, serta seribu mengapa dan kira-kira tentang apapun yang saya alami.

Mendengarkan suara batin dan mengurai pesannya di antara banyak suara lain yang berisik memerlukan sebuah keterampilan. Itu kata Kristiane Backer mantan VJ MTV Eropa yang kemudian meninggalkan glamour kehidupan setelah bertemu Allah (mualaf). Saat membaca kisahnya di buku A Thousand Miles of Faith, pada bagian yang saya tulis perlu keterampilan tadi, saya merasa cocok sekali. Dan saya telah berlatih untuk itu sejak kanak, tepatnya ketika Ibu meninggal dunia dan saya harus punya Ibu sambung (tiri) setahun kemudian.

Kepala saya riuh suara-suara selepas menonton Le Grand Voyage yang sederhana namun sarat makna. Dari kepala, suara-suara itu merambat turun ke hati. Saya coba mengurai suara-suara untuk menemukan pesan –walau barangkali hanya sekelumit- yang akan menguatkan makna diri sebagai seorang hamba.

Yup, saya menemukannya. Bukan, bukan saya menemukannya namun Allah berkenan menajamkan pendengaran batin saya untuk menangkap pesan itu. Sebuah pesan amat luhur. Bahwa perjalanan suci yang ditempuh oleh seorang hamba dengan segenap hati yang lapang oleh cinta dan ke-rida-an, ialah perjalanan yang akan memurnikan hati dari segala kotoran yang tak layak dibawa menghadap Allah sang Maha Suci.

Jangan salah menyangka. Saya tidak menganjurkan teman-teman berjalan kaki menuju Baitullah seperti saudara kita Mohammad Khamim Setiawan yang luar biasa dari Pekalongan itu. Bukan. Yang saya maksudkan adalah, ada banyak sekali peluang ‘memurnikan hati’ saat menuju ke tanah suci bila kita melakukannya secara backpacker.

Saya ambil contoh dari perjalanan rombongan Umrah backpacker (Ubepe) Air Asia 6-16 Mei lalu (grup Musahefiz). Studi kasus saya pilih dari kejadian yang menimpa Tour Leader (TL) grup ungu, Pak Rudy. Pak Rudy ini dipilih oleh tim  Musahefiz sebagai TL, bukan Pak Rudy yang mencalonkan diri. Sebelumnya, tiket Pak Rudy juga diurus oleh tim Musahefiz.

Kita sepakat bahwa tiada seorangpun yang maksum setelah nabi terakhir. Dan kita amat paham, kita ini makhluk yang lemah dan terkadang khilaf. Maka, apakah pantas kita kecewa hingga melabel tim Musahefiz dengan sebutan ‘nggak becus’ atau ‘tega-an’ atas sebuah kekhilafan tidak membelikan makan-minum Pak Rudy selama penerbangan saat memesan tiket secara online?

Tim Musahefiz bahkan menyadari hal ini jelang keberangkatan dan mempersilahkan jamaah untuk memesan saja makan minum saat di udara dengan biaya yang nantinya akan diganti oleh mereka. Tapi terkadang kita selalu berpikir dan bersikap dengan nafsu. Sehingga, kekhilafan yang sudah dimohonkan maaf itu tetap terasa sebagai sebuah kepahitan yang tiada taranya.

Kita seringkali terlupa, bahwa jamu yang pahit itu hakikatnya menyehatkan. Maka, atas kejadian yang menimpa Pak Rudy, saya coba mengurai pesan dari suara-suara batin yang timbul tenggelam.

Memang iya kasihan sekali nasib Pak Rudy. Sudah repot dan lelah menjadi TL, tak dapat makan pula. Memang sih bisa pesan makan on board, tapi kan itu merepotkan dan ribet juga urusan claim uang yang ‘tak seberapa’ itu. Eh, tapi bukannya itu justru berpotensi mengundang rahmat dan kasih sayang Allah ya?

Lihat saja, Yulia yang duduk di samping Pak Rudy spontan muncul naluri berbagi-nya. Lagi pula, Pak Rudy-nya juga kelihatan kalem-kalem aja nggak kayak kita yang malah ribut. Nah jangan-jangan, Allah memang merencanakan ini untuk membersihkan dosa-dosa yang masih melekat pada diri Pak Rudy agar setibanya nanti di tanah suci ia sudah dalam keadaan murni.

Bahkan, kejadian tak mendapat makanan ini berulang saat penerbangan pulang. Musahefiz emang kebangetan. Eh bukan, jangan-jangan justru dari situlah Allah bisa menyematkan ke-mabrur-an umrah Pak Rudy. Kita kan tak pernah tahu amal saleh, ibadah dan kebaikan-kebaikan mana yang diterima oleh Allah selama kita umrah. Bisa jadi justru dari kelapangan dan keikhlasan hati Pak Rudy  menerima ujian lapar saat terbang pulang itulah yang diterima Allah dan menyempurnakan ibadah umrahnya?

Saya selalu mengasah keterampilan mengurai pesan di antara riuh suara. Tak mudah. Namun bisa selalu dicoba. Prinsipnya hanya satu, tiada kebetulan atas apa yang menimpa kita. Allah telah sempurna mengatur dan segala apa yang ter-takdir pastilah baik untuk kita.

Bayangkan bila kita umroh regular. Sedikit masalah kita bisa langsung komplain ke pembimbing dan pihak travel. Bila timbul masalah lagi, kita bahkan merasa punya hak untuk berbicara sembari teriak persis di hadapan wajah pucat pembimbing. Kita merasa bebas mengumbar nafsu amarah karena merasa sudah membayar mahal, sudah merasa bahwa itu hak kita. Kita lupa bahwa apa yang kita lakukan di luar ibadah ritual itu dapat mengurangi ke-ridha-an Allah atas diri kita.

Bandingkan saat kita umrah backpacker dengan budget miring. Kerikil dan sandungan-sandungan akan dengan sangat mudah kita hibur dengan, “Sabar, ini backpacker.” 
Pak Rudy menjalankan tugas sebagai TL, sepenuh jiwa menggawangi rombongan yang beristirahat di KLIA.

Dan perhatikan betapa Allah menghampar karpet merah amal-amal yang berpotensi memurnikan hati kita. Dari mulai berangkat, walau tak saling kenal, jamaah pria rela hati menolong jamaah wanita mengangkatkan koper. Tak cukup sekali, setiba di Jeddah mereka akan bantu angkat koper dari konveyor tanpa perlu tahu itu milik siapa. Lantas harus menaikkannya lagi ke bagasi bus untuk nantinya diuturunkan lagi setiba di hotel.

Bukankah ini karpet merah amal yang berpotensi memurnikan kita, meluruhkan dosa-dosa yang kemarin dan tempo hari kita cetak tanpa kita sadari? Bukankah sungguh uwow fasilitas yang diberikan Allah untuk memurnikan diri bila kita berangkat ke Baitullah dengan backpacker?

***
Perjalanan Prancis menuju Mekkah tidaklah mudah bagi Reda dan ayahnya. Reda yang berkata lantang pada ayahnya karena salah menunjukkan jalan. Mobil yang tertimbun salju dan ayah yang pingsan karena hypothermia, uang yang hilang, juga perselisihan yang selalu dilakukan Reda dengan teriak dan ayah yang hanya diam. Itu semua sungguh kejadian yang berpotensi untuk memurnikan seorang hamba dari kerak-kerak dosa.

sumber; google

Dan Pak Tua itu berhasil. Ia seperti hamba yang disebut Allah dalam yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah. Irji’ii ilaa rabbiki raadhiyatan mardhiyyah. Fadkhuli fii ‘ibaadi, wadkhulii jannati.

Finally, Pak Tua itu wafat di tanah suci dalam keadaan diri yang telah murni.


2 komentar:

Terimakasih sudah meninggalkan komentar. Mohon untuk selalu berkomentar dengan bahasa yang baik dan tidak SARA, ya.