Sabtu, 12 Agustus 2017

Jangan Baper, Ya...


Jangan baper ya. 

Begitu tulis Ko Steven Indra Wibowo di dalam status FB beliau. Konten status beliau adalah tentang mualaf yang mendapat pesan ‘menusuk’ dari keluarga. Juga sebuah pesan pertanyaan dari seorang Paman Ko Steven yang menanyakan “Kapan kembali melayani di Gereja?”

Jangan baper ya…


Oh, bagaimana mungkin saya tidak baper? Untuk kasus mualaf yang dikirimi pesan-pesan menusuk oleh keluarganya, saya bayangkan bila itu menimpa diri saya. Oh pasti saya baper. Jangankan ujian yang menimpa mualaf, terhadap muslim yang baru hijrah dari Islam KTP kepada Islam yang kaffah juga bapernya luar biasa.

Dikatakan sok suci, sok benar sendiri, aneh, sedikit-sedikit kok agama, sedikit-sedikit kok surga neraka dll, ini sungguh membuat baper.

Dan baper pangkat entah berapa melanda saya manakala membaca pesan dari Paman Ko Steven. ‘Kapan balik melayani ke gereja?’

Ya Allah, apakah hambaMu yang ini terlalu baper?

Hamba baper ya Allah... 

Demi Engkau yang ubun-ubun hamba berada dalam genggamanMu, sungguh hamba baper dengan pesan itu. Memang Ko Steven, beliau sekarang sedang dalam keteguhan iman Islam. Ia bahkan menjadi ‘wasilah’ cahaya Islam bagi orang-orang yang Kau kehendaki untuk hijrah. Totalitasnya berjuang di Mualaf Center Indonesia juga menancapkan keyakinan -yang dalam hitung-hitungan logika- bahwa ia tak mungkin akan kembali kepada keyakinan sebelumnya dan menjalani aktifitasnya sebagai frater.

Tapi siapalah kami yang lemah ini bila berhadapan dengan kuasaMu ya Rabb?
Sungguh hidayah hanya milikMu. Bila tidak kami selalu memohon untuk selalu kau ikat dalam jalan hidayahMu dan istiqomah di dalamnya, kami sungguh akan gampang tergelincir. Karena kami rapuh, kami lemah dan sama sekali tak berdaya.

^^^
Saya teringat sebuah kisah nyata yang disampaikan Ust Oemar Mita dalam ceramah berjudul ‘Ketika Cintamu Diuji’.

Ini kisah tentang seorang ustadz di sebuah desa di Kudus. Beliau diuji Allah dengan kehadiran anak pertama yang buta. Anak kedua juga buta. Saat istrinya hamil anak ketiga, beliau berdoa pada Allah agar anak berikutnya terlahir normal agar kelak bisa menuntun kedua kakaknya yang buta. Alhamdulillah ‘ala kulli hal, Allah menakdirkan anaknya kembali buta.

Beliau seorang ustadz dan imam di masjid desa. Namun beliau tak sanggup memikul titipan anak buta. Beliau goyah dan merasa Allah tak ada karena tak bisa mendengar doanya. Beliau mulai absen ke masjid, tak lagi mengisi khutbah Jumat dan yang lainnya. Bahkan, terhadap orang-orang (mantan jamaahnya) yang lewat depan rumahnya menuju masjid kerapkali beliau katakan, “Ngapain kalian ke masjid? Allah itu nggak ada.” Dst.

Beliau yang dahulunya shaleh, akhirnya meninggal dalam keadaan tidak memercayai Allah.

Maka, cukuplah kisah nyata di atas sebagai bahan bakar ke-baper-an saya atas sebuah pesan yang dilayangkan kepada Ko Steven.

Ya Allah, hamba baper. Dan hamba cuma punya doa, jagalah hamba, anak-anak, suami, orangtua, saudara seiman termasuk para mualaf wa bil khusus Ko Steven… Jagalah langkah kami semua agar tidak meleset walau sedikit, ke luar dari jalanMu. Engkau Allah ya Latif, lembutkanlah hati kami agar kami senantiasa peka terhadap hidayah dan taufikMu. Tetapkan keimanan dalam dada kami hingga kelak Kau jemput kami dalam keadaan khusnul khatimah.


Ya Allah, bimbinglah baper-bapernya hamba hanya untuk baper yang terkait Engkau, agamaMu, RasulMu juga KitabMu. Aamiin Ya Mujibassailiin….  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah meninggalkan komentar. Mohon untuk selalu berkomentar dengan bahasa yang baik dan tidak SARA, ya.