Rabu, 26 April 2017

L I R I H [Pemenang Keempat Lomba Cerpen Cinta Dalam Aksara 2016]

Konon, lima ribu naskah cerpen masuk ke sayembara yang digagas Bunda Asma Nadia  ini. Keluarga besar FLP serempak turun gunung untuk berkompetisi. Saya cukup tahu diri, selain saya bukan anggota FLP, jam menulis saya juga masih Senin-Kamis. Maka, bisa nyantel di urutan keempat lantas kemudian bisa kembali mengabadikan karya dalam buku yang sama bersama Bunda Asma Nadia, ialah sebentuk kebaikan Allah, Tuhan yang masih kerap saya selisihi segala aturan-aturanNya.

Dan inilah LIRIH, serepih cinta yang ditinggalkan karena ke-mutlak-an cintaNya.


L I R I H
Oleh: Wiwik Waluyo

"Cinta itu serupa cakrawala, Nduk. Langit dan bumi selalu terpandang mesra, padahal jarak nyata menganga."

Riani mengangkat kepala. Setiap kali Mbok memanggilnya dengan nduk, setiap itu pula lorong gelap dalam ingatan jangka panjangnya akan bersinar.

"Kenapa Mbok selalu memanggil Riani dengan nduk?"



"Nduk itu hanya satu panggilan. Ndak ada bedanya dengan orangtua yang memanggilmu dengan nak atau suami yang memanggilmu dengan sayang. Sudah enam belas tahun sejak kamu pertama kali datang ke sini, kamu selalu bertanya kenapa mbok memanggilmu dengan nduk? Kamu ndak suka Mbok memanggilmu seperti itu?"

Biasanya, Riani lekas menggeleng jika pertanyaan Mbok sudah sampai di situ. Tetapi kali ini tidak. Riani menatap wajah Mbok yang penuh kerut sepenuh perasaan. 

"Seseorang, dulu sekali, dia memanggil Riani serupa Mbok memanggil."

"Oh," Mbok meraih satu tangan Riani. Menggurat lembut urat di punggungnya. "Itu hanya panggilan umum, Nduk. Semua orang di kampung sini memanggil anak-anak perempuan, adik-adik perempuan atau istri-istri mereka dengan panggilan nduk."

"Tapi Mas Wim ndak pernah mau memanggil Riani dengan nduk, Mbok. Padahal rasanya selalu terlindungi setiap kali dipanggil seperti itu." Mata Riani yang sebening dan seteduh telaga kini beriak. Mbok melihat sebuah kerikil kecil terlempar ke sana dan membuat kecipak di muka airnya yang tenang. Perempuan tua itu memeluk erat Riani, lama.
***

Sepotong bulan sabit yang merangkak dari kaki langit mengiringi langkah Riani memasuki rumah. Dua permata jiwa menyalaminya. Mencium punggung tangan hingga dan pipi.  Riani baru melepas keduanya ketika iPhone-nya berdering.

“Tadi transfer satu juta, Ri?”

Seorang di seberang bertanya tanpa salam terlebih dahulu.

“Iya, seperti biasa, untuk Imah.”

“Lho, Imah kan sudah wisuda bulan lalu? Lagipula, bulan depan dia akan menikah. Kupikir sudah cukuplah kamu membantunya selama satu dekade ini.”

Riani berpikir sesaat sebelum akhirnya memutuskan, “Ya sudah, setelah ini kamu alihkan untuk anak asuh di pantimu, terserah siapa.”

Orang di seberang mengakhiri teleponnya setelah mengucapkan banyak terimakasih pada Riani. Riani termenung panjang. Memorinya surut ke liang penyimpan ingatan. Setetes bening mengalir, membelah pipi langsat Riani yang mulai ditumbuhi noda penuaan. Riani sudah tak muda lagi. Empat puluh dua usianya. Tetapi secuil rasa tentang seseorang dari masa lalu yang memanggilnya nduk, mengikut sepanjang usianya bertambah. Menggenang setiap Mbok memanggilnya dengan sebutan itu. 

Nduk...

Bahkan, walau hanya mengingatnya saja, Riani masih bisa dengan jelas merasakan getarannya, kasih sayangnya, perlindungannya. Nduk adalah satu kata yang mewakili seribu keromantisan di dunia.Tidak. Ini bukan tentang cinta yang lain. Bukan tentang cinta terlarang. Bukan tentang mendua apalagi perselingkuhan. Riani, sejauh kesuksesannya sebagai pengusaha salon muslimah, ia tetap wanita konservatif yang menjunjung segala nilai adiluhung. Tidak ada ruang untuk perselingkuhan pada diri Riani.

Rumah tangga Riani mulus bersama Wim selama enam belas tahun ini. Si Mbok, perempuan yang melahirkan Wim adalah teladan nyata wanita yang akan masuk surga dari pintu bakti pada suami. Riani ingin seperti itu. Tak peduli seberapa jauh Wim meninggalkan rumah untuk ambisi dunia yang ingin dikejarnya, Riani tetap setia.

Pernah pada suatu masa, Riani merasa Wim tak pernah benar-benar mencintainya. Wim tak pernah meminta pendapatnya sebagai istri, untuk urusannya yang sepele apalagi urusan pentingnya. Wim selalu menomor satukan teman-temannya di atas kepentingan rumah tangga, apalagi kepentingan Riani. Rumah bagi Wim tak lebih sebagai halte. Riani mengurus dua putri mereka seorang diri. Dari pagi hingga gelap hari. Wim bahkan tak pernah sekadar menelepon, memastikan apakah anak-anak sehat. Apakah ibu dari anak-anaknya cukup istirahat?

Riani bertahan. Hingga setengah dekade pernikahan, Riani disapa oleh masa lalu. Seorang yang memanggilnya nduk, yang pernah begitu melindunginya, yang pernah begitu membuatnya jatuh cinta.

"Anakmu berapa, Nduk?"

Bastian nama pria itu. Dia bahkan masih memanggil Riani dengan Nduk.  Membuat Riani ingin menangis bila tak mengingat mereka sedang berada di restoran pusat kota. Lalu untaian kata mengalir deras seperti hujan pertama setelah musim kerontang panjang. Terus hingga ke tepiannya.

"Bapak wafat persis setelah kamu menanyakan hal penting bagi masa depan kita, Nduk. Aku tak menjawab apapun saat itu. Hanya ada ibu dan adik-adik yang butuh pengganti Bapak. Aku pulang sebelum memberikan pilihan apapun padamu. Itu salahku. Tapi aku selalu berdoa kamu baik-baik dan bahagia. Kamu sudah mendapatkan itu, kan, Nduk?"

Riani mengangguk, pelan. Dia juga tersenyum walau hanya sekuntum kecil. Sekuat ego Riani untuk menginjak realitas rumah tangganya dan meraih bayang indah di hadapannya, senyatanya Riani tak pernah benar-benar mampu berpaling. Riani hanya sanggup mengatakan terimakasih atas doa Bastian padanya. Jika ada kesalahan, itu karena Riani memberikan nomor kontaknya kepada pria masa lalu itu.

"Kamu sehat hari ini, Nduk?"

"Hati-hati kalau nyetir ya Nduk."

Dan, pesan-pesan singkat itu segera membajak hati Riani yang kemarin tandus. Hujan perhatian yang jarang bahkan hampir tak pernah didapat dari Wim menyejukkan hari-hari Riani. 

"Seharusnya aku memintamu menunggu saat itu ya, Nduk. Kadang aku masih membayangkan bagaimana rasanya belajar hidup menjadi satu denganmu."

Jika ada pintu yang paling disenangi setan untuk dimasukinya, itu adalah pintu khayal di belakang kata seandainya. Dan apa kata Bastian tadi, belajar menjadi satu? Oh, itu sungguh sebuah cita-cita paling luhur yang pernah mereka perjuangkan. Bahwa ayah Bastian menjadi sebab keduanya tak jadi menyatu, itu sama sekali tak membuat Riani marah. Riani tak menyalahkan Bastian karena ia yang memilih takdirnya sendiri. Ia yang menerima Wim tak lama setelah Bastian pergi. Dan Riani mengerti, setiap pilihan melahirkan konsekwensi. Ia harus menerima paket lengkap Wim termasuk ketika Wim mengabaikannya.

Riani masih wanita normal. Hatinya masih berdesir bila disapa Bastian. Bibirnya masih melengkungkan senyum bila diingatkan sesuatu oleh Bastian. Dan  matanya yang gelap juga masih  bisa berpendar bila membaca serangkai doa Bastian untuknya. Riani merasakan jiwanya utuh, juga penuh. Dan segala sesuatu yang penuh akan mencari jalan ketumpahannya. Riani menyadari itu. Karenanya ia melepas simcard dan menggantinya dengan yang baru. Melepas sepotong cinta karena rasa takutnya pada sang pembuat hidup jauh lebih besar.

Dering iPhone memberai semua masa lalu dari benak Riani.

"Ri, sorry lupa, undangan kawinan Imah sudah di aku. Sebenarnya dia pingin banget ketemu kamu. Keluarganya juga mendesak."

Sejak Riani melepas sepotong cinta yang tumbuh dalam diamnya, Riani memiliki sebuah  kebiasaan baru. Ia akan mengeluarkan sedekah setiap kali bayangan Bastian hadir dan menyelipkan rindu pada bilik hatinya. Semakin besar rindunya, maka semakin besar sedekah yang ia keluarkan.

Kebiasaan itu telah satu dekade Riani jalani. Terakhir ia keluarkan sedekah itu tadi, sepulang dari rumah Mbok. Dan Imah, gadis kecil yang terancam tak dapat meneruskan sekolah selepas SD, sekarang sudah lulus kuliah berkat sedekah cinta Riani.

"Ri, keluarga Imah cuma ingin tahu  siapa malaikat penolong mereka selama ini. Mau ya ketemu mereka?"

Riani menimbang sejenak sebelum akhirnya mengiyakan. "Oke, kita datang bareng ke sana."
***

Wim pulang dari luar kota. Kesenangannya jika di rumah adalah duduk di beranda yang teduh kembang wundani merah jambu hasil tangan dingin Riani. Riani membuatkan secangkir teh. Tapi sering, teh itu dingin telantar hingga barisan semut hitam menemukan cawan tempat pesta pora. Dan Wim,  ia terus sibuk dengan gadget yang berjajar di meja dan batang racun yang terselip di bibirnya.

"Besok ada acara, Mas?"

"Hem?" Mata Wim tak beralih dari gadget sementara bibirnya mengepulkan asap, "Mau ke mana?"

Riani mengajak Wim ke pernikahan Imah. Wim berpikir sambil jemarinya terus bergerak di layar gadget. Asap rokok meliuk di udara, Riani menepisnya lalu melongok. Wim sedang asyik main instagram. 

"Waduh besok, ya? Mas sudah ada janji turnamen kecil. Gimana, Sayang?"

Riani tersenyum tipis, sangat tipis. Tapi tipis dan tebal senyumnya tak jadi masalah sebab Wim tak akan benar-benar melihatnya. 

"Nggak apa, aku bisa datang sendiri, Mas golf saja."
***

Saat pernikahan Imah, akhirnya Riani datang bersama May, sahabat yang selama ini menyalurkan transferan sedekah dari Riani sekaligus pemilik sebuah panti sosial. Riani sudah bertemu Imah tadi. Betapa gadis itu beserta keluarganya yang hanya buruh tani mengulang-ulang terimakasih pada Riani. Sepuluh tahun dibantu, baru sekarang bisa bertemu.

“Ternyata, ada laki-laki yang juga hobi sedekah kayak kamu, Ri," ucap May disela mereka menyantap hidangan. 

"Masih banyak orang baik di dunia ini, May. Jangan terlalu pesimis walau setiap hari menonton berita televisi."

May terbatuk kecil. Ia tahu Riani tak suka dipuji-puji. "Tapi yang ini beda, Ri. Karena laki-laki itu juga menyantuni satu anak sepertimu. Sampai anak itu berhasil dan sekarang menjadi mempelai prianya."

Riani mulai tertarik dengan kisah May. "Bukan sinetron, kan, ini?"

"Ya ampun, Ri. Imah sudah lama cerita tentang ini. Kata calonnya, mungkin kalau dulu dia enggak kerja angon domba di peternakan milik si bapak entah siapa itu, dia enggak bakal bisa lanjut sekolah sampai sekarang bisa punya peternakan sendiri."

Riani mengawang. Rasanya tak percaya dua anak manusia dengan kesamaan sejarah bersanding di pelaminan. Tapi, bukannya Tuhan memang sebaik perencana?

Riani baru akan melanjutkan santapannya ketika sudut matanya menangkap sesosok kharismatik berjalan ke arah pelaminan. Sosok itu, walau rambutnya mulai sewarna tembaga, tetapi Riani tetap belum lupa. Bahkan ketika tubuh yang dulu gagah sekarang tampak susut kekurangan berat badan, sungguh Riani juga belum lupa. 

Riani buru-buru meletakkan sendoknya. Lekas ia pamit pada May yang kebingungan. Riani segera menghilang sebelum sosok itu melihatnya dan membuka kembali lembaran yang susah payah ia khatamkan.  Namun, baru saja ia menutup pintu mobil, seseorang mengetuknya dari luar.

"Surat untuk Ibu," seorang remaja berlalu setelah memberikan sebuah amplop putih. Riani membuka amplop itu. Gemetar tangannya saat menarik isinya ke luar. Dan matanya mengembun bahkan ketika baru membaca satu kata.

Nduk...
Maaf kalau dulu aku mengganggumu hingga perlu kamu berganti nomor. Aku salah. Tak akan kuulangi setelah ini. 
Jauh-jauh hari, aku berharap bisa bertemu denganmu saat resepsi 'anak-anak kita' hari ini. Jangan kaget, Seno 'anakku' sudah lama bercerita tentang Imah yang memiliki 'ibu' bernama Riani. Aku yakin itu kamu, Nduk. Tapi kamu pasti menolakku. Jadi hanya kutitipkan apa yang ingin kusampaikan di kertas ini.
Aku menyayangimu, Nduk. Dulu dan tak berkurang sampai hari yang sekarang. Kita memang tak punya takdir bersama. Namun 'anak-anak kita' memilikinya. Rekam jejak hati kita terlakon pada mereka. Aku akan terus berbagi, terus membelah diri dalam kebaikan karena itu satu-satunya jalan penebus dosa dari cinta yang tak bisa kuhentikan. Dan kamu, Nduk, teruslah menjadi istri dan ibu yang hebat bagi anak-anakmu. Allah merahmatimu.
Salam,
Bastian.

Kertas surat itu terlepas. Bulir-bulir kristal berlesatan jatuh dari mata Riani dan pecah di pipinya. Lirih Riani menelusuri perjalanan hatinya seiring mobil yang mulai dilajukannya. Tak perlu May, Bastian dan siapa pun tahu apa yang dirasakan Riani.

Riani menangis. Untuk sebuah cinta yang masih serupa warnanya. Bukan Riani kehilangan cinta meninggalkan Bastian begitu cepat. Dahulu, ia menerima Wim karena sebuah kebutuhan. Ia harus menikah dan melahirkan anak-anak yang akan mengisap ASI-nya. Agar hilang benjolan dan nyeri yang selalu menjalar di dada. Riani tak bisa menunggu Bastian.

Riani bersyukur benjolan di dadanya sembuh setelah memiliki anak. Dan ia menginsafi, sikap Wim adalah ujian untuk kembali mensucikan dirinya. Riani menyeka air matanya. Dari audio, tembang Lirih milik Ari Lasso mengalun selembut hatinya mengeja cinta yang tersimpan di palung jiwa.

Aku menangis
Mengenangmu
Segala tentangmu
Kumemanggilmu
Dalam hati ini…[]





2 komentar:

Terimakasih sudah meninggalkan komentar. Mohon untuk selalu berkomentar dengan bahasa yang baik dan tidak SARA, ya.