Minggu, 08 Januari 2017

Gadis Pembawa Pesan






Aku mencium pipi ibu dari belakang. Diam kuhirup dalam-dalam aroma kelembutan yang murni, menguar sangat jernih dari tubuh ibu yang ringkih.


“Aku akan merindukan Ibu,” bisikku sambil mengecupnya sekali lagi, “hanya dua hari aku pergi, Bu.”



Ibu beralih dari layar laptopnya. Bukan. Perhatian ibu bukan pada layar laptop tetapi pada kertas pudar yang ditempel di dinding, persis di atas laptop. Ibu menggerakkan kakinya, kursinya berputar seratus delapan puluh derajat hingga penuh berhadapan denganku. Sepasang matanya menatapku sembari mengirim permohonan. Ada selaput bening yang rapuh, siap pecah dan luruh dalam sepelan kedipan.


“Jangan pergi, Arimbi.” Tangan ibu menggamit lenganku. “Jangan pergi untuk sesuatu yang tidak berguna,” tambahnya lagi.


Tidak berguna?


Aku menatap ibu dan menusuk-nusuk manik matanya dengan segala kemarahan yang kupunya. Memangnya apa yang lebih tidak berguna dari sebuah pelarian diri? Aku tak ingin terus-menerus melihat ibu berlari dari kenyataan pahit sepanjang kehidupannya dikhianati ayah hingga kanker menggerogoti tubuhnya. Aku juga tak ingin ibu terus berpura-pura dalam kebahagiaan artifisial buatannya. Bagiku, semua yang dilakukan ibu adalah sebuah sikap eskapis, melarikan diri dari yang seharusnya ibu jalani.


“Kalau ini tidak akan berguna buat Ibu, paling tidak ini berguna untukku.”


Jam berdentang dua kali. Aku harus pergi agar tak tertinggal kereta pukul empat sore nanti. Kulepas tangan ibu dan beranjak. Langkahku berhenti sejenak lalu kembali. Kutarik selembar kertas pudar yang menempel di dinding. Ibu menggumam sesuatu. Aku pura-pura tak mendengarnya. Aku meyakinkan diri bahwa ibu sudah tak membutuhkan kertas pudar ini lagi. Aku melipatnya dan menyimpannya dalam saku sambil terus melangkah.


***

Aku merapatkan punggung di kursi kereta Gumarang yang akan membawaku ke Semarang. Sejak meninggalkan stasiun Pasar Senen, mataku nanar melepas gedung-gedung dan rumah-rumah petak yang berlari di sepanjang bantar rel kereta api.


Apakah orang hidup harus berlari seperti pemandangan yang kulihat dari dalam kereta ini? Apakah kita tak bisa tinggal, menyelesaikan satu demi satu masalah tanpa perlu jauh berlari meninggalkan masalah yang tak pernah benar-benar tercerabut dari akarnya?


“Kita baru tujuh belas tahun, Arimbi, tak perlu ikut repot-repot memikirkan masalah orang tua.”


Terngiang oceh Arci, teman sebangkuku yang tak berhasil mengajakku bersenang-senang akhir pekan ini. Ya, saat kebanyakan temanku menikmati masa muda dengan kehidupan bergelimang senang, aku justru tersedot pada masalah orang tua. Tidak. Bukan ibu dan ayah menyeretku untuk memahami bahtera mereka yang terombang-ambing badai. Tapi aku sudah semenjak kecil tak dapat merasakan keteduhan. Semakin remaja dan beranjak gadis aku semakin dapat merasakannya. Ayah yang berkhianat dan ibu yang selalu tutup mata dengan pengkhianatan itu. Penyakit kanker ibu adalah bukti bahwa ibu –sebenarnya- nelangsa.


“Ibumu asyik dengan dunianya sendiri, Arimbi. Dia terlalu kuat. Tanpa Ayah juga tetap kuat.” Itu kata ayah. Secara tak langsung menuduh ibu yang siang-malam menulis karya-karya indah dan laku keras di pasaran sebagai penyebab terbuangnya waktu ibu untuk membersamai ayah. Bahkan ketika ibu mengidap kanker dan bergabung dalam cancer survivor belakangan ini, ayah semakin merasa ibu bisa hidup tanpanya. Suatu pemikiran yang aneh, paling tidak di kepalaku. 


“Yang Ibu lakukan hanya cara untuk bertahan, Arimbi. Ibu yakin pada  waktunya Ayah akan pulang dengan ketulusannya.” Itu kata ibu. Sebuah keyakinan yang rapuh. Sebab bagaimana mungkin ibu menanti ayah kembali sementara hampir tak pernah kulihat ibu berusaha memperlihatkan kemarahannya pada ayah. Hey, aku saja marah ketika Bhadra, cowok yang pedekate padaku terlihat mendekati gadis lain pada suatu kesempatan. 


“Api tak akan pernah bisa memadamkan api, Arimbi,” tambah ibu lagi. “Kisah-kisah yang ibu tulis adalah air bagi jiwa Ibu, dan Ibu harap suatu saat ayahmu terpercik dinginnya.”


Ugh. 


Bagaimanapun indahnya retorika ibu, yang tampak olehku adalah ayah dan ibu yang saling berlari meninggalkan diri mereka sendiri. Aku barangkali akan lebih lega –walau tak bisa kukatakan akan senang- jika ibu terang-terangan minta berpisah dari ayah jika ayah tetap egois dengan pemikiran dan sikapnya. Aku sudah memikirkannya matang-matang, selama air tak masuk ke dalam bahtera ibu dan ayah, aku yakin bahtera ini tidak akan karam. Dan aku bisa coba menyelamatkannya. Melalui secarik kertas pudar dalam sakuku ini. 


Tanganku refleks menarik kertas itu dan membukanya.


“Hey muka badak, menulis fiksi itu ada teorinya. Sudah tua sok toy lagi. Pingin Ed biarin tapi sayang kalau punya temen yang begonya sampe kebawa mati.”


Aku menutup kertas itu. Kertas ‘mantra’ yang ditempel di dinding dan selalu dipandangi ibu dan melejitkan semangat ibu untuk menulis. Kertas ‘mantra’ yang membuat ibu tak peduli pada rasa sakitnya dan membuat pikirannya hanya terfokus pada menulis. Menulis adalah pelarian diri ibu. Dan kepergianku ini demi memutus jalan pelarian itu.


Aku melipat kembali kertas itu. Hatiku sibuk bermonolog hingga lelah dan mataku menyerah mengikuti apapun yang berlari di luar kereta. Aku jatuh tertidur, lelap tanpa mimpi. Aku terbangun oleh dentam suara dan jeritan-jeritan. Dimensiku berubah menjadi gelap dan tubuhku seperti tercampak lalu tertindih entah apa. Aku dicekam takut. Takut tak bisa melanjutkan perjalananku. Namun tiba-tiba, seberkas sinar putih membuatku gembira. Aku tak peduli apapun yang terjadi asalkan aku bisa melanjutkan misi ini.


***


“Bagaimana cara berhenti berlari dari kenyataan, Paman?”


Laki-laki seusia ayah itu terkejut. Paman itu baru saja selesai membawakan syair-syairnya pada sebuah acara seni budaya di Taman Srigunting. Aku telah mengikuti jadual Paman penyair ini dari akun media sosialnya demi bisa menjumpainya, dan juga demi mengajukan pertanyaan seperti yang baru saja kuutarakan. Demi misiku. Tapi Paman itu tetap geming. Ia hanya melihatku selewatan sambil terus membereskan urusannya. 


“Di mana ujung pelarian diri itu, Paman?”


Agaknya pertanyaanku berhasil kali ini. Paman itu menatapku dalam. Aku berdeham untuk menghilangkan kegugupanku. 


“Apa kau lapar?”


Hah?


“Aku lapar sekali. Akan kujawab pertanyaanmu di sebuah tempat makan kalau kau mau. Dan kupikir, kau juga perlu makanan hangat untuk menyegarkan tubuh. Wajahmu pucat sekali.”


Oh. Aku memang belum makan semenjak malam tiba di Semarang. Kecelakaan kecil kereta yang kutumpangi sesaat sebelum sampai Semarang membuatku terkejut dan berantakan. Evakuasi memakan waktu agak lama dan waktu sisanya kuhabiskan untuk merancang pertemuan ini agar aku tenang setelahnya.


“Aku ikut Paman,” putusku segera mengikut langkahnya. Kami berjalan sedikit tergesa. Pada sebuah restoran Tionghoa kami berbelok. Paman penyair itu memesan sup hi piu dan fu yung hai. Aku meminta i fu mie kesukaanku. Bukan. Bukan kesukaanku tapi kesukaan ibu. Belum-belum, aku sudah sangat rindu pada ibu.


“Kenapa Paman menulis Eskapis[1]?”


Aku benar-benar tak sabar. Aku mengeluarkan buku Eskapis karangan Paman itu dari dalam tas dan memintanya untuk membubuhkan tanda tangan.


“Namaku Arimbi, Paman. Tapi Paman tulis saja buku itu untuk ibuku. Namanya Moktika. Dan kumohon, Paman menuliskan pesan yang dapat membuat ibuku berhenti lari dari kenyataan hidupnya.”


Pelayan datang dengan dua cangkir teh krisan. Paman menyeruputnya tak sabaran, padahal uap panasnya masih mengepul tebal.


“Eskapis ini buku puisi pertamaku,” Paman mulai menjawab pertanyaanku sembari mengangkat bukuku, eh ralat, buku milik ibu maksudnya. “Aku menulis ini dulu saat muda, saat aku asyik menyendiri dalam kamar dan orang lain yang mengintipku dari lubang pintu adalah ancaman bagiku. Aku tersesat dalam prasangka yang kubuat-buat. Dan kau, anak-anak zamanmu mungkin akan menyebut itu dengan galau.”


Paman itu terkikih. Aku memutus kikihannya dengan sepotong tanya, “Bagaimana mengakhiri itu, Paman?”


Pelayan datang mengantar pesanan. Aku harus bersabar karena Paman langsung mendekatkan makanannya dan menyendok sedikit demi sedikit. “Makanlah, Arimbi. Kau semakin pucat.”


“Aku pucat menanti jawaban dari Paman,” sanggahku, lepas.


“Baiklah.” Paman itu mengalah, “bayangkan kau menjadi penumpang gelap di sebuah kereta. Kau akan mondar-mandir dalam gerbong dan takut tertangkap petugas karcis. Lalu saat akhirnya tiba di stasiun tujuan, ternyata, tak ada seorang pun yang menunggumu. Dalam keadaan seperti itu, apa hidupmu masih terasa berarti?”


Aku menggeleng, “Orang lain dan segala aturan sangat perlu untuk bantu mengarahkan jalanku, Paman. Tanpa orang lain, memangnya aku bisa apa?”


Paman itu menyeruput sup hi piunya, “Kau gadis cerdas, Arimbi.”


Aku mendadak mengerti satu hal. Ibu, ya, ibuku harus mengerti bahwa ikatan pernikahan seharusnya membuatnya memiliki tujuan. Kesakitan-kesakitan yang ada di dalamnya bukan untuk dinafikan. Sebab itu hanya membuat ibu merasa menjadi penumpang gelap yang hanya mondar-mandir tak karuan dalam bahteranya sendiri.


“Apakah Paman mengingat ini?”


Aku memberikan secarik kertas pudar pada Paman. Ia membacanya dengan lirih.


“Hey muka badak, menulis fiksi itu ada teorinya. Sudah tua sok toy lagi. Pingin Ed biarin tapi sayang kalau punya temen yang begonya sampe kebawa mati.”


Keningnya berlipat. Aku sangat berharap Paman mengingatnya. Itu adalah komentarnya terhadap karya ibu, pada masa lalu.


“Kata-kata dan tulisanku pada masa lalu memang sangat busuk.”


“Benar Paman yang menuliskan? Ed itu berarti Edgar nama Paman, bukan?”


Paman itu mengangguk. “Kau dapat dari mana?”


“Oh, aku setiap hari membaca komentar pedas Paman ini. Ibuku menjadikannya mantra. Kehidupannya yang gersang membuatnya berlari. Mantra dari Paman itu mencungkil keberanian ibu untuk lesat meninggalkan siapapun. Ibu tak peduli. Ia tak pernah benar-benar peduli pada apapun kecuali pada kemegahan semu yang dibangunnya melalui karya-karyanya yang best seller.”


“Siapa ibumu?”


“Tadi sudah kusebut, Moktika yang terkenal itu adalah ibuku.”


Kening Paman kembali terlipat. “Moktika penulis yang tak pernah menampakkan jati dirinya?”


Aku mengangguk mantap, “Benar. Paman masih ingat tidak, kalimat pedas Paman itu pernah Paman tujukan pada siapa?”


Paman itu memejamkan kedua mata, agak lama. “Julia. Dia teman kuliahku belasan tahun lalu. Dia senang membuat cerpen. Dan aku sering memberinya komentar busuk agar dia tak cepat puas dengan karya-karyanya. O, ternyata dia sudah berhasil sekarang.”


“Tapi tidak dengan rumah tangganya, Paman,” potongku cepat dan kembali menambahkan bahwa ibu sekarat sekarang ini. “Aku mohon, sebagai teman lamanya, Paman menemui Ibu dan berbicara sedikit. Aku yakin yang sedikit itu akan membuat ibu berhenti dari pelarian dirinya.”


Selesai, aku telah mengatakan apa yang menjadi misiku. Aku sangat berharap Paman penyair ini mengasihaniku dan menjumpai ibu.


“Paman, traktiran Paman membuat perutku penuh. Aku ke toilet, ya.”


Aku pergi meninggalkan Paman, tas, buku Eskapis juga secarik kertas pudar di atas meja. Lima belas menit, setengah jam, satu jam, dan Paman mencium gelagat tak beres kenapa aku tak kunjung kembali.


Dari tempatku bisa kulihat Paman sibuk menanyai pelayan yang mereka sama bingungnya seperti Paman. Paman membereskan barang-barangku lalu bersiap pergi. Langkahnya mendadak terhenti ketika televisi dari sudut restoran menayangkan berita sore. Kecelakaan kereta Gumarang malam tadi telah merenggut sebelas korban jiwa termasuk seorang gadis bernama Arimbi. Termasuk aku.[]



*Cerpen ini tayang di Gogirl!Magz.com tanggal 10 Desember 2016
Bagi yang ingin mengirim cerpen ke sana sila email ke metha@gogirlmagazine.com. Format A4, Calibri 11, spasi 1, minimal 900 kata. 
Honornya Alhamdulillah, setengah juta potong pajak ^_^
 

[1] Eskapis adalah judul buku kumpulan puisi karya Arif Fitra Kurniawan

2 komentar:

Terimakasih sudah meninggalkan komentar. Mohon untuk selalu berkomentar dengan bahasa yang baik dan tidak SARA, ya.