Sabtu, 06 Agustus 2016

Di Ujung Jalanku

 Foto: dokumen pribadi Shabrina Ws

Tuhan,
dulu aku sering berlari lalu menjauh dari jalanMu.

Kulakukan itu karena aku masih bisa melihat jalan lain; belokan-jalan tikus-jalan pintas-bahkan jalan putar balik- pada indera pandangku yang terbatas dan kerap salah.

Saat semua jalan pelarian itu telah sampai pada ujungnya yang berupa jurang dan mengangakan duka paling duka, aku tak lagi punya jalan lain. Sungguh tak punya. 

Jalan di belakangku sudah terbakar dan aku tak cukup berani menginjak baranya. Pun di depanku hanya jurang. Jurang yang di seberangnya Kau mengulurkan tanganMu, melambai-lambaikan rahmat kasih sayangMu.

Aku tahu panggilanMu teramat merdu dan dekapanMu teramat damai, Tuhan. Tapi aku tak cukup nyali untuk menyeberangi jurang. Sama tak beraninya berlari menjauhiMu, lagi dan lagi. Satu-satunya cara adalah aku harus menghadapi jurang itu.

Maka kususun rencana perjuangan; melompat, terjun, mungkin nanti akan terjatuh lalu terguling dan berdarah-darah serta pada akhirnya binasa dalam kekalahan yang menistakan. Tapi Itu semua hanya kemungkinan-kemungkinan. Dan setan senang menghasut pikiran untukku mencemaskan segala kemungkinan itu. Padahal seharusnya aku tahu, sebuah janji kepastian yang Kau hadiahkan pada orang yang percaya kepadaMu, bahwa Engkau akan menolong, mengulurkan lengan perkasaMu untuk mengangkatku dengan caraMu yang tak pernah terpikirkan olehku.

Tuhan, aku tak punya jalan pelarian lagi kali ini. Jalanku buntu. Di depan hanya ada Engkau. Maka papahlah aku menujuMu...

Kamar Karya, isya 5 Agustus 2016


2 komentar:

  1. semoga selamat sampai ke surganya, aamiin

    salam
    gabrilla

    BalasHapus
  2. Sebab hanya Engkau tempat pulang paling tenang, bisakah kudapati surga?

    Salam,
    Puput

    BalasHapus

Terimakasih sudah meninggalkan komentar. Mohon untuk selalu berkomentar dengan bahasa yang baik dan tidak SARA, ya.