Jumat, 05 Agustus 2016

[Cerpen] Matinya Sirih Merah Lotta




Matinya Sirih Merah Lotta
Oleh: Wiwik Waluyo

Kartik paling bangga dengan menantunya yang bernama Lotta. Bukan karena Lotta tinggal persis di sebelah rumahnya dan sering mengiriminya panganan. Bukan juga karena Lotta sering mengajak Kartik pergi-pergi ke luar, untuk jalan-jalan atau sekadar jajan-jajan. Yang Kartik senangi dari menantunya yang ini adalah, Lotta memiliki tangan dingin yang bisa menumbuhkan semua jenis tanaman yang ia tanam.
Sebelum rumah di samping rumah Kartik selesai direnovasi untuk ditempati Jais anaknya dan Lotta menantunya, menantunya itu sudah membeli banyak sekali bibit tanaman. Dan walau Lotta itu perempuan berkarir, ia tetap menanam semua tanaman dengan tangannya sendiri. Lotta tidak jijik mengaduk-aduk tanah dan tidak menjerit jika bertemu ulat. Dan lihatlah sekarang, belum dua tahun Lotta tinggal di sana, pekarangannya sudah menghijau.
Di sisi dalam pagar Lotta menanam bambu Jepang yang sekarang sudah tinggi rapat dan cukup sebagai penampik abu jalanan. Pekarangan samping penuh dengan tanaman buah dalam pot yang mangga dan sawonya sudah tiga kali berbuah. Sementara di teras samping, terdapat lapangan hijau dengan cemara yang rindang dan perdu yang rapi teratur. Pot-pot berisi melati dan aglaonema berjajar apik. Dan sirih merah tumbuh subur menjalar-jalar di tali yang dipasang Lotta sepanjang satu sisi teras. Sirih merah itu menjadi kerai alami yang meneduhi teras kala siang hari.
Sebagai orangtua, Kartik sangat mengerti manfaat daun sirih merah. Mulai penyakit ringan berupa jerawat dan gatal-gatal hingga bronkitis, darah tinggi, asam urat, tumor, diabetes, juga paru-paru bisa diterapi dengan daun sirih merah. Berulang-ulang Kartik memuji Lotta karena keberhasilannya menanam tanaman obat dari banyak penyakit itu. Dan sore ini, Kartik yang merasakan badannya pegal-pegal akibat serentet penyakit tua yang menggelayuti tubuhnya datang ke rumah Lotta.
“Ibu minta daun sirih merahnya tiga lembar, ya?”
Lotta memandang wajah penuh gelambir milik Kartik, “tiga lembar cukup, Bu?”
“Cukup, kata orang-orang tua dulu memang harus ganjil. Kalau nggak tiga ya lima, atau tujuh. Pokoknya ganjil.”
“Kenapa harus ganjil?” Lotta menyerahkan gunting kepada Kartik.
“Nah itu Ibu nggak faham,” jawab Kartik sambil menggunting tiga lembar daun sirih merah dari tangkainya.
“Ambil yang banyak, Bu. Sembilan atau sebelas lembar gitu,” tawar Lotta tulus.
“Wah, ini tiga saja sudah pahit bukan main,” Kartik mengembalikan gunting pada Lotta. “Lagipula, nggak semua orang bisa menanam sirih merah seperti kamu Lotta. Ibu saja sudah coba beberapa kali tapi mati terus-terusan. Jadi yang kau tanam ini harus baik-baik dirawat, disayang-sayang. Kau bersyukur punya tangan yang dingin.”
Lotta menerima pujian mertuanya dengan senyuman kecil. Ia tahu benar bahwa yang memumbuhkan segala sesuatu hanyalah Tuhan. Jika benih dan bibit yang ditanam dengan tangannya mampu tumbuh besar, itu sama sekali bukan karena kehebatannya. Tapi karena Lotta memang telaten merawat tanaman dan Tuhan berkenan menyuburkannya.
Kartik terus memuji Lotta. Lotta bisa menerima pujian itu dengan wajar andai saja Kartik tak terlalu berlebihan. Lotta jadi jengah. Apalagi, ketika kemudian tetangga, saudara-saudara bahkan orang-orang entah dari mana datang meminta sirih merah milik Lotta, Kartik menjadi resah dan keresahannya itu tak masuk di akal Lotta.
“Itu Uwak Liang, kemarin datang minta sirih merah lagi, ya?”
“Iya, Bu. Luka diabetesnya lumayan kering setelah minum rebusan sirih,” jawab Lotta jujur.
“Lha, tapi ya jangan terus-terusan minta ke mari. Cari di tempat lain kan ada!”
“Nggak apa-apa, Bu. Lotta malah senang kalau yang kita tanam ada manfaatnya untuk orang-orang.”
“Iya, tapi ya jangan keseringan. Ibu saja sungkan kalau mau minta ke Lotta.”
Ups, Kartik kelepasan. Lotta memandang sekilas ke wajah Kartik yang serba salah.
“Ibu nggak perlu sungkan. Kalau ibu mau, setiap hari juga nggak masalah ibu petik sirih merahnya.”
Kartik mengendurkan nada bicaranya. “Bukan apa-apa, sirih merah itu susah menanamnya. Kalau sembarang orang petik nanti bisa mati. Kalau mati susah ditanam lagi.”
Dan, apa yang dikatakan Kartik itu serupa kaset yang selalu diputar-putar saat datang bertandang ke rumah Lotta. Bahwa tak mudah menanam sirih merah, tak boleh orang sembarangan memetiknya dan karenanya harus Lotta awasi tiap-tiap yang meminta ke rumahnya. Dan itu sungguh membuat Lotta tidak nyaman. Terlebih, Kartik beberapa kali meneriaki tetangga yang datang meminta sirih merah ke rumah Lotta.
“Heh, jangan banyak-banyak!”
“Jangan asal petik!”
“Kalau mau banyak beli di pasar!”
Sikap Kartik membuat Lotta mengurut dada. Satu sisi hati ia tak ingin bersikap buruk di hadapan ibu mertua, namun sisi lainnya ia juga tak bisa menerima sikap Kartik yang terlalu perhitungan. Di antara ketidak enak hatian itu, daun-daun sirih merah mengalami perubahan. Daunnya yang berwarna merah hijau dengan corak abu-abu berubah menjadi kuning. Daun-daun kuning itu lantas kering seolah terbakar dan gugur satu per satu diterpa angin.
Lotta mengira perubahan itu hanyalah akibat anomali cuaca. Karenanya ia memotong sulur-sulur sirih merah yang daunnya telah mengering. Ia juga menambahkan volume air saat menyiramnya. Namun usaha itu tak membuahkan hasil. Kian hari sirih merahnya semakin berubah. Daun-daun yang menguning itu seolah menular. Maka perlahan, helai-helai daun berubah menjadi kuning. Terbakar. Luruh.
Kartik menjadi naik darah. Uwak Liang yang datang ke rumah Lotta mengantar makanan mendapat sasaran kemarahannya.
“Itulah, karena terlalu sering dipetik, mati dia.”
Uwak Liang yang mendengar itu merasa bersalah. Sementara Kartik puas telah menumpahkan uneg-unegnya. Dan Lotta cepat-cepat meredakan suasana.
“Mungkin hanya karena cuaca, Bu. Selama batang utama masih segar, sirih kita masih bisa tumbuh sulur-sulur yang baru.”
Kartik tak puas dan terus menggerutu. Uwak Liang berulang-ulang meminta maaf. Dan berhari-hari setelahnya, Lotta tetap merawat sirih merahnya. Bahkan, Lotta selalu berbicara dengan sirih merahnya yang semakin meranggas, setiap malam menjelang tidur.
“Kalau kau lelah mendengar orang-orang meributkanmu, aku ikhlas kau pergi dan beristirahat.”
Dan, pada sebuah pagi yang ribut cericit emprit, saat Lotta membuka pintu teras sampingnya, ia melihat daun-daun sirih merahnya yang menguning dan terbakar luruh sepenuhnya menutupi tanah. Batang utamanya kisut dan kering. Lotta mengerti, sirih merahnya butuh jeda untuk kembali hidup dan tangguh pada angkara yang membumbung semesta.[]


Cerpen ini tayang di buanakata.com hari Minggu, tanggal 31 Juli 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah meninggalkan komentar. Mohon untuk selalu berkomentar dengan bahasa yang baik dan tidak SARA, ya.