Rabu, 27 Juli 2016

Romantika Luka



ROMANTIKA LUKA
Oleh: Wiwik Waluyo



1
Agustus 1999, Luka...

Suatu masa di hampar kebun kopi Ermera
di bawah sinar bulan yang lolos dari daun-daun kopi robusta
bersama lolongan anjing, panjang merintih perih
tahu waktu akan menyembelih damai mimpi.


Aku berjalan terhuyung memanggul beban sejarah dan cinta yang belum usai
bersama orang-orang
hewan-hewan peliharaan
juga tekad-tekad yang menggumpal sekental darah merah dan seputih tulang Indonesia.

Prajurit berjaga tiada boleh leka
Senjata siaga secemas angin malam yang mencubit-cubit kulit kedaulatan
Di depan, truk berbaris siap mengangkut pengungsi-pengungsi yang bergemeletukan gigil perpisahan.

Kakiku terseret di atas tanah yang telah banyak meresap darah manusia dalam perang-perang saudara
Terus berjalan mengoyak hening malam yang lebih mencekam dari tembakan-tembakan
ke Barat
Ke perbatasan yang akan mengantarkan jasad ke pangkuan Ibu Pertiwi yang tak lelah mengaum-aumkan integrasi.

Adalah air mataku yang berjatuhan di sepanjang jalan terjal referendum ini
Bukan aku bimbang berlari ke haribaan Ibu yang wangi melati
Tapi ini soal perasaan yang kadung terbiasa bersama di bawah kolong langit yang selalu mendung
bersama belahan jiwaku yang tertinggal di Timur
ia memilih tegak di tanah yang anyir luka sepanjang usia.

Ialah tertuduh sebagai pengecut
Pembelot
Pemberontak
Pelantak mimpi-mimpi NKRI harga mati.

2
September 1999, Sunyi...

Belum satu purnama ketika bendera merah putih diturunkan dari langit Timur Timor bersama air mata yang bandang.
Jalan-jalan lengang
Plang-plang tumbang
Bangunan-bangunan suram bertahta mambang
Bahasa ibu hilang melayang-sumbang.

Dan aku, yang dikandung dalam rahim peperangan
Terlahir tepat saat Mario Lemos Pires tunggang langgang dari tanah ini
Ibu Pertiwi memapahku
menyanyikan lagu kemenangan dan merawat mimpi-mimpi perdamaian hingga dua tiga usiaku.

Aku mencintai tanahku serupa aku mencintai gadis yang berjalan tersaruk-saruk ranting kopi kering
ia telah meninggalkan Ermera
meninggalkan sunyi yang paling sunyi dan mengempasku ke dalam teks buku sejarah.

Inilah kisah bangsa yang terpecah belah
referendum membumbung angkara
jiwa-jiwa terantai
jasad-jasad terbantai
bumi hangus kepul asap melambai-lambai.

Aku terberai,
jantungku lerai.

Ruhku cepat terbang menyusul ke Barat
Ke dalam dekapan Ibu yang hangat
Gadis itu harus tahu
Masih ada merah dan putih yang tercetak jelas
di dadaku.

Medan, 29 Maret 2016
Untuk Shabrina Ws, sahabat yang selalu membersamai jiwa-jiwa terluka di Timur sana…

*Syair di atas termaktub di dalam buku Kumpulan Syair-syair Keindonesiaan, Interlude, Mei 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah meninggalkan komentar. Mohon untuk selalu berkomentar dengan bahasa yang baik dan tidak SARA, ya.