Sabtu, 04 Juni 2016

Sendiri atau Berkelompok, Terus Saja Menulis dan Menulis.

2009 adalah tahun awal mula saya memiliki blog di platform Multiply. Itu menjadi tahun kebangkitan menulis saya setelah mati suri sejak 2001. Menulis apa? Menulis apapun yang menjadi kegelisahan saya. Orang bilang itu curhat, silakan. Selain itu, saya kadang-kadang menulis syair, kadang-kadang juga menulis cerpen sebagai sebuah produk olah batin.


Saat itu, menulis benar-benar menjadi ajang bersenang-senang bagi saya. Mengungkapkan apa yang tersimpan dan saya gelisahkan, lalu dibaca orang banyak, rasanya sudah cukup. Sangat cukup membuat saya gembira. 

Kegembiraan saya banyak terusik setelah saya berteman dengan seseorang. Kita sebut saja dia Y. Y ini senang menulis syair dan cerpen juga. Komentarnya sangat tidak umum. Kadang dia bilang cerpen dewasa saya hanya layak masuk Bobo. Dia juga bilang saya ini seorang bermuka badak yang so toy dan bego. Dan saya tak habis pikir kenapa dia repot sekali mengurusi cerpen saya seolah-olah cerpen itu akan saya layangkan ke meja redaktur sebuah surat kabar.

Marahkah saya? Saat itu iya. Marah besar malah. Apalagi saya ini termasuk golongan yang bapernya bukan main. Urusan komentar seperti itu berakibat fatal. Kami tak lagi saling tegur setelahnya.

Bertahun-tahun kemudian, tepatnya dua bulan belakangan, saya seperti diberi kesadaran oleh Allah. Tentang kenapa saya dahulu ngambek berat kepada Y. Bahwa ada perbedaan antara saya dan Y dalam memandang cerpen saya. Perbedaan itu adalah, saya memaknai cerpen itu cukup sebatas sebuah karya batin. Hasil olah batin atas pembacaan saya terhadap diri dan lingkungan. Dan itu selesai sampai di situ. Saya tak ingin cerpen itu ke mana-mana, cukup saja di situ.

Sementara Y melihatnya berbeda. Y melihat karya saya semestinya bisa diperbaiki secara teknik, didandani, ditempel mana yang bolong dan dibuang kerikil yang menghambat jalan ceritanya sehingga ia menjadi layak untuk dihadirkan ke meja Redaktur sebuah media.

Seandainya dahulu saya tidak ngambek terhadap Y, barangkali saya akan cepat keluar dari zona nyaman. Ya, setelah tak saling tegur, saya kembali ngeblog dan menulis dalam zona nyaman. Saya kembali menjadi katak dalam tempurung yang menganggap tulisan saya sudah cukup bagus. Syair dan cerpen cukup berasal dari olah batin dan hanya untuk kepuasan batin belaka.
 Setelah Multiply wafat dan wafat pula kesenangan menulis saya, saya sampai pada suatu pemikiran –sebagai IRT dengan tiga orang anak- bahwa saya butuh wadah untuk kembali bereskpresi. Yang tidak hanya bisa memenuhi kepuasan batin tetapi juga menghasilkan secara finansial. Uang. Itulah motif saya selanjutnya.

Apakah saya hina berniat menulis untuk uang? Saya tidak tahu. Yang saya tahu, agar bisa menghasilkan tulisan yang ‘beruang’, itu sangatlah butuh kerja keras. Tulisan harus bagus dan secara teknik harus memenuhi segala unsur-unsur pembangunnya, tak cukup hanya mengandalkan tulisan apa adanya. Karena itu saya butuh belajar.

Masuklah saya ke grup penulisan. Belajar menulis yang bagus. Yang ketika satu tulisan saya share, saya akan mendapat masukan-masukan persis seperti dahulu Y melakukannya untuk saya. 

Bagi sebagian orang, hal ini dianggap telah menciderai proses menulis cerpen yang sejatinya cukup sebagai hasil dari sebuah olah batin penulisnya. Menurut mereka, biar penulis sendiri yang menemukan cela karya mereka untuk diperbaiki kemudian. Penulis sendiri yang mengasah kepekaan batin sehingga semakin lama karyanya semakin bagus.

Saya memahami ini sebagai proses pengendapan karya. Ketika saya membaca cerpen lama saya, maka saya akan geli dan malu karena itulah proses batin yang diolah dengan teknik ala kadarnya. Sementara saat ini sangat banyak komunitas yang secara sukarela saling mengoreksi, sehingga penulis dapat melipat waktu yang sedianya dipakai untuk mengendapkan karya, bisa segera memperbaiki karyanya setelah menerima masukan-masukan.

Salahkah hal ini? Bagi saya tidak. Karena saya pemula. Saya harus membuat cerpen saya memikat secara batin juga teknik penulisan agar Redaktur mempertimbangkannya untuk dimuat. Karena tujuan saya sekarang adalah uang. 

Cerpenis sekelas Sungging Raga atau Guntur Alam mungkin tak perlu ribet dengan tetek bengek urusan setting, plot apalagi isu lokalitas dalam karya sebab mereka sudah punya nama. Barangkali, bila Redaktur membaca nama mereka saja sudah bergetar hatinya dan loloslah cerpen mereka.

Kemudahan itu tak berlaku buat saya dan banyak pemula lainnya. Saya tak hanya butuh terus mengolah batin namun juga perlu kerja keras mengemas produk batin itu dengan indah. Maka please jangan judge usaha saya dan teman-teman sebagai intervensi terhadap sebuah kemurnian karya dan hanya menjadikannya teks yang kehilangan ruh. FYI, masukan teman-teman itu tak lantas semua harus dipakai. Terserah masing-masing pemilik hak paten, pemilik jiwa karya tersebut. Cocok ambil enggak ya no problem. Itulah bukti bahwa mental kami pantang menyerah bukan mental gotong royong walau gotong royong itu sejatinya sangat mulia pada zaman elu-elu gue-gue ini.

Lalu, Sungging Raga menulis dalam blognya bahwa apa yang dilakukan grup penulisan seperti akan memasak bersama. Seseorang datang membawa bahan mentah lalu ramai-ramai berdiskusi akan membuat menu apa dan sebaiknya bahan apa yang dibanyakin atau tak usah dipakai.

Kenyataannya, hey, apa yang kami lakukan tidaklah seperti itu. Yang kami bawa bukan bahan masakan tetapi sudah dalam bentuk hidangan. Teman-teman dalam grup tinggal mencicipi saja hidangan itu. Apakah garamnya kurang, apakah penyajiannya sudah apik, apakah garnishnya sudah pas, atau tak jarang hidangan yang kami bawa sudah sangat lezat dan menggoda selera walau hanya melihatnya saja. Perfect tanpa perlu ditambah dikurangi.

Ya, begitulah kami. Kami bukan datang ke grup dengan bahan mentah yang belum diapa-apakan sehingga terkesan kami ini tidak modal secara personal. Semua dikerjakan berkelompok. Dan produknya disebut sebagai produk kerja kelompok. Buat saya pribadi, bila berkelompok akan semakin mengasah kepekaan jiwa dan menguatkan batin, kenapa harus sendiri dan menyepi? Buat saya, kalau berkelompok akan memberi inspirasi, dan ilmu yang dibagi menjadi amal, kenapa saya harus setia dengan kesendirian?

Mau berkelompok ataupun sendiri menyepi, saya tetap setuju bahwa sejatinya sebuah karya tetap harus menampilkan pesan-pesan batin penulisnya. Bukan semata teks kosong yang apabila dimuat dan atau menang lomba hanya akan dilabeli secara kejam oleh pihak tertentu bahwa itu hanyalah teks yang telah kehilangan ruh.


3 komentar:

  1. Redaktur membaca nama mereka saja sudah bergetar hatinya dan loloslah cerpen mereka.eeng jangan ah sekedar nama hiiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya mudah-mudahan nggak begitu, mb naq. Tapi baca cerpen kompas dua edisi terakhir rasanya pening juga ya :D

      Hapus
  2. aku pun terus nulis dan belajar untuk nulis lebih baik lagi meskipun belom jodoh buat punya buku sendiri, huhuhu

    salam,
    kesya

    BalasHapus

Terimakasih sudah meninggalkan komentar. Mohon untuk selalu berkomentar dengan bahasa yang baik dan tidak SARA, ya.