Sabtu, 18 Juni 2016

(Cerpen Majalah Paras) NOSTALGIA


Cerpen ini tayang di Majalah Paras edisi 149/Mei 2016. Selamat membaca ^_^
 NOSTALGIA

Oleh : Wiwik Waluyo

"Terlambat!”

Oh sial!

Ege menggerutu. Rahangnya mengeras menahan kesal. Ia berbalik. Tanpa pilihan ia meninggalkan konter check in sebuah maskapai penerbangan yang sudah ditutup persis lima menit sebelum kedatangannya.


Ege melangkah keluar gedung terminal keberangkatan. Sebuah bus melintas di hadapannya. Ege mendapat ilham. Ia cepat-cepat memanggil sebuah taksi dan meninggalkan bandara Adi Sucipto. Taksi melesat ke Jalan Perintis Kemerdekaan dengan kecepatan penuh. Dan di sebuah pool bus lintas provinsi inilah ia berada, pada akhirnya.

***

Kenang duduk nyaman di sebuah bangku kayu. Ia mengacuhkan suara-suara gaduh yang berasal dari pedagang air mineral, pengamen serta hiruk pengantar dengan penumpang di pool bus ini. Fokus Kenang lurus pada buku di hadapannya. Ia sungguh tak menyadari, seorang pria berkaca mata hitam yang berdiri di salah satu pojok mengamatinya semenjak tadi.

Petugas mempersilahkan penumpang naik. Kenang tidak terburu-buru. Pria di pojok terus mengawasinya. Saat Kenang bersiap, pria itu juga sigap bersiap. Langkah mereka bersamaan mencapai pintu hidrolik. Keduanya berhenti. Dan terdiam.

"Naiklah, Kenanga!"

Kenang terkejut oleh suara bariton yang memerintahnya. Cepat ia berbalik badan dan terpana dengan sesosok pria yang berdiri tegap di hadapannya.

"Kenanga. FE awal dua ribuan, pernah indekos di Jalan Bimokurdo!"

Oh, Kenang terkejut lagi. Pria ini dengan tepat menyebutkan identitasnya. Kenang memiringkan wajahnya. Dahinya mengernyit. Ia akan memohon pria entah siapa ini untuk membuka raybannya agar ia mengenalinya.

Namun pria itu kembali mendahuluinya. Tidak dengan kata-kata. Tapi dengan dua langkah mundurnya yang sangat kharismatik. Ketenangan sikapnya bersinergi dengan gerakan kepala yang seolah-olah menginstruksikan pada Kenang tanpa perlu bantahan lagi; "cepat naik atau kau tertinggal bus!".

Sungguh, itu benar-benar membuat perut Kenang mulas.

***

Bus mulai merangkak meninggalkan pool. Kenek membagikan snack. Dari belakang kemudi, sopir tua berambut dan berkumis putih yang tebal melintang sangar memutar lagu oldies. Scorpion dengan Wind of Changes mengalun dan mengayun hati Kenang yang duduk di bangku nomor satu. Bangku kesukaannya sejak dahulu. Sebab matanya akan dimanjakan dengan lukisan yang disajikan alam selama bus melintasi sebelas provinsi, dari Yogyakarta sampai Sumatera Utara.

Kenang melirik ke bangku nomor tiga. Pria mengagetkan itu ada di sana, sibuk dengan laptopnya. Disebelahnya duduk seorang gadis muda. Entah siapanya. Tapi Kenang bersyukur pria itu tampak serius sendiri dan tak terlalu akrab dengan gadis di sebelahnya. Oh, Kenang merutuki diri sendiri. Memangnya apa urusannya dengan pria itu akrab atau tidak dengan siapapun di dalam bus ini?

"Boleh duduk di sini?"

Ups… Tahu-tahu, pria itu sudah berdiri jumawa di lorong bus. Dia menunjuk bangku kosong di sebelah kenang. Tepatnya bangku yang sengaja dibayar Kenang agar tidak siapapun duduk di sebelahnya karena ia ingin menikmati perjalanan ini tanpa orang lain di sampingnya.

"Boleh?"

Pria itu mengulang pertanyaannya. Satu tangannya terayun dan membuka raybannya. Kenang mencermatinya.

Satu detik.

Dua detik.

Ya Tuhan.... Kenang mengingat sesuatu. Ia memekik tertahan. "Abang Bombom?!"

Pria itu mendaratkan tubuhnya di kursi kosong sebelum mendapat persetujuan Kenang. "Dua belas atau tiga belas tahun, kumaklumi kalau ingatanmu payah. Selain tentu aku jauh bertambah kurus. Dan seharusnya kau tak lagi memanggilku dengan Bombom!"

Kenang tersipu. Benar. Dia Bombom. Edward Ghazali nama sebenarnya. Pria matang yang kala mudanya sangat tambun dan membuatnya lebih populer dipanggil Bombom daripada Ege. Dua belas tahun lalu saat Kenang baru kuliah tingkat dua dan Ege tingkat tiga, mereka mudik lebaran dengan bus yang sama. Kenang di bangku satu. Ege di bangku lima tepat di belakangnya.

Tiga hari tiga malam waktu yang sangat cukup untuk mengubah status para penumpang menjadi sahabat dan bahkan saudara. Begitu pula Kenang dan Ege. Mereka bertukar nama pada mulanya. Lalu bertukar camilan, bertukan bacaan, dan di penghujung perjalanan bertukar nomor ponsel.

"Jadi, gadis mana yang sanggup membuat abang berpayah-payah diet sampai berubah demikian fantastis?"

Kenang tak bisa menutupi kegembiraan. Wajahnya jelas berseri. Sikap defensifnya kontan hilang ditelan euforia pertemuan teman lama. Namun Ege, alih-alih menanggapi pertanyaan Kenang, ia justru tetap kalem dan mengendikkan bahu.

"Kenapa kau lebih tertarik membahas orang lain daripada membahas kita?"

Hah. Kenang menyipitkan matanya. "Kita?"

Ege menelisik manik mata Kenang. Perempuan di hadapannya ini masih tetap belum berubah. Dia selalu pura-pura tak mengerti.

"Ya, kita. Kau bisa bertanya, misalnya, apakah aku mencarimu setelah kau menghilang selepas pertemuan terakhir di rumah kosmu? Atau... "

Ege menggantung kalimatnya. Wajah Kenang sontak menegang. Ia tak siap dengan pertanyaan Ege yang tiba-tiba menyinggung soal perasaan. Itu sudah lama sekali. Sudah satu dasawarsa berlalu. Namun Kenang juga tak bisa memungkiri masih tetap mengingat peristiwa itu sebaik Ege mengingatnya.

Kala itu, pada tahun kedua persahabatan mereka. Setibanya kembali di Yogyakarta dari mudik, Ege berkunjung ke rumah kos Kenang untuk memberikan oleh-oleh. Satu wadah sambal kering teri Medan yang dicampur kacang. Ada pria lain bersama Kenang kala itu. Namun Ege tak berbalik arah. Dengan gagah berani ia mengatakan, "sambal teri buatan ibu, untukmu."

Kegagahan Ege membuat laki-laki yang bersama Kenang marah. Kenang memilih pergi dan menghilang dari Ege. Ia tak nyaman terus menerus dipaku prasangka oleh kekasihnya.

"Kau milikku. Aku tak mau ada laki-laki lain yang menatapmu dengan segenap hatinya."

Kenang mendesah mengingat itu. Namun sungguh ia tak ingin membahasnya lagi. Beruntung, dering iPhone milik Ege menyelamatkan tuntutan pria itu atasnya. Ege  menyentuh layar iPhonenya dan segera berbicara dengan seseorang di seberang. Kenang mendengar Ege mengatakan ia tertinggal pesawat. Hal ini dimanfaatkan Kenang dengan membelokkan obrolan segera setelah Ege selesai dengan teleponnya.

“Jadi ceritanya tadi abang tertinggal pesawat? Trus memutuskan pulang dengan bus, begitu?”  

Ege kembali mencermati wajah Kenang. Wajah yang sudah lama hilang dan sekarang muncul di hadapan. Ege mengangguk mantap. “Tak seharusnya aku mengumpat saat tadi pesawat meninggalkanku. Bukankah takdirku sekarang begitu menakjubkan?”

Takdir menakjubkan?

Oh, Kenang membuang pandangannya. Tak ingin lebih jauh terseret oleh sorot mata Ege. Kenang harus mengingat bahwa perjalanan pulangnya saat ini adalah sebagai tawanan yang akan menawar kebebasannya. Dan tak ada yang menakjubkan dari itu.

***

"Kau kenapa pulang menumpang bus?"

Mereka duduk beralas koran di anjungan kapal feri. Dari Merak menuju Bakaheuni. Kenang merapatkan syalnya. Pertanyaan Ege kali ini sulit ia jawab. Bukan sulit. Hanya Kenang merasa Ege tak harus tahu alasan yang sebenarnya. Mengingat betapa perjalanan ini adalah dalam rangka melobi orangtua. Bahwa ia sungguh tak kesepian dan apalagi menderita hidup sendiri pada usia matang seperti saat ini. Karenanya ia merasa tak  harus diselamatkan orangtua agar statusnya berubah. Kenang berharap kepulangannya ini akan membuka hati orangtuanya dan tak lagi berusaha menjodohkannya dengan pria entah siapa.

"Ini hanya perjalanan nostalgia, Abang."

Ege memanggil penjual mie dalam gelas yang lalu lalang di sana.

"Untuk sebuah nostalgia," satu buah cup terjulur ke hadapan Kenang.

Kenang deja vu. Sekarang, tiba-tiba mata Kenang memanas. "Abang sendiri kenapa pulang? Ini bukan sedang hari libur apapun, bukan?"

Ege meletakkan gelas minya. Ia menghirup udara Selat Sunda sebanyak paru-parunya bisa menampung. "Aku mencarimu selama dua puluh empat purnama. Tapi kau hilang seperti disembur lahar Merapi. Well, aku masih laki-laki normal. Aku bertemu seorang wanita, kami jalan, dan sial dia menolak kuajak menua bersama. Sekarang ibu memanggilku pulang. Aku harus pulang."

"Anak baik dan berbakti."

Ege tersenyum samar mendengar itu. “Tapi setelah bertemu denganmu sekarang ini, aku mendadak berniat menjadi anak yang nakal.”

“Jangan mulai cari perkara, Abang!"

Ege mensedekapkan kedua tangannya di dada. "Oke," katanya dengan tatapan yang bertambah intens kepada Kenang. "Anggap saja aku pria brengsek karena dulu tak sungguh-sungguh berjuang mencari dan mendapatkanmu. Anggap juga aku anak durhaka karena berniat lari dari perjodohan yang sudah diatur ibuku. Tapi kupikir aku bisa bertaubat setelah ini. Semuanya pantas bila kita bisa bersama, Kenang.”

 Kenang terenyak dan sebentar kemudian terkekeh kesal, “jangan ngaco. Abang pikir aku masih sendiri?” tanya Kenang mengelak. Bagaimanapun bahagianya berjumpa kembali dengan Ege, tapi tetap ia tak ingin merusak apa yang sudah disusun oleh keluarga pria yang sekarang justru tersenyum di hadapannya ini.

Ege mengambil alih mi gelas dari tangan Kenang. Ia lantas meraih kedua tangan Kenang dan meletakkannya di lantai kapal, “belum ada satu pun cincin melingkar di jarimu, Kenang. Aku akan mencari satu dan memasangkannya di jari menismu, segera setelah kita sampai di Medan.” 

Kenang menarik tangannya. Ia melempar gelas mi yang memang sudah tandas isinya ke dalam tong sampah. Gelas mi itu terkulai serupa pikiran Kenang. Sungguh tak sanggup Kenang pikirkan, akan ke mana nasib melemparkannya di kemudian hari, setelah ini.

***

Bus terus berjalan melintasi Lampung. Lalu menerabas hutan angker Lahat juga tebing dan jurang-jurang yang menganga senyap. Saat melintasi Danau Singkarak, Sumatera Barat, bus berhenti pada sebuah restoran apung. Hari sudah petang menjelang malam.

Kenang membangunkan Ege dengan tepukan kecil di lengannya. Pria itu mengucek matanya. Menguap lagi. Dan rasa kantuk membuatnya kembali jatuh tertidur. Kenang meninggalkannya. Ia bergegas menuju toilet lalu mushola. Lalu memesan seporsi sate dan kesadarannya muncul; teman seperjalanannya belum turun.

"Turun atau abang akan kelaparan sepanjang malam ini?" Kenang membuang bantal dalam dekapan Ege. Ege menggeliat. Ia merentangkan tangan dan mematah-matahkan lehernya ke kiri dan kanan. Hal pertama yang membuat kesadaran Ege terjaga adalah harum wewangian bayi yang menguar dan kuat menusuk penciumannya.

"Kau mandi malam-malam begini? Harummu itu belum berubah juga."

Ada kebahagiaan magis yang tiba-tiba menelusup hati Kenang. Secuil kebahagiaan sebab pria ini masih menyimpan aroma kayu putih yang selalu ia bubuhkan setiap kali dari kamar mandi, selama di perjalanan, semenjak dahulu. Kenang membuang perasaan magis itu. Ia lekas turun untuk menyantap satenya. Ege membuntutinya.

"Pesankan nasi goreng. Aku ke belakang dan salat dulu."

Salat?

Pria itu, baru bermimpi apakah dia gerangan?

***

Dahulu, jika bus sudah masuk wilayah Sumatera Utara, hati Kenang akan gembira. Namun saat ini sangat jauh berbeda. Apalagi supir tua kembali menyetel tembang-tembang golden moments. Lagu-lagu yang hanya membuat syahdu.  Beruntung bus sudah memasuki Kabupaten Batubara, Sumatera Utara. Kenang berkemas. Sebentar lagi ia sampai.

Kenang melihat Ege juga berkemas. Entah apa yang akan dia lakukan. Rumah orangtuanya ada di kota Medan. Dan itu masih tiga jam perjalanan lagi. Bahkan lihatlah, pria aneh ini sudah berdiri di lorong dan membopong ranselnya dengan lapang bidang dada yang dia busungkan. Kenang hanya bisa menatapnya aneh. Dan Ege memahami arti tatapan itu.

"Begini Kenang, kau pasti akan takut dan menganggapku kesurupan Lionel Richie jika tiba-tiba kutanyakan padamu 'hello, is it me you're looking for?' Apalagi kalau aku sampai kesurupan Andy William dan mendadak merayumu dengan lagu 'the sweet love story that is older than the sea'.  Tapi Kenanga, setidaknya aku bisa mengikut apa kata Doris Day. 'Que sera-sera, whatever will be, will be... Jadi biarkan aku ikut turun bersamamu."

Kenang menggeleng. Berulang-ulang menggeleng sebagai penegasan ia tak mengijinkan Ege berbuat konyol. Tidak akan pernah itu terjadi.

***

Di simpang Inalum, dua anak manusia frustasi mempertahankan pendapatnya masing-masing. Pada akhirnya Kenang tak bisa menghalau keteguhan Ege. Pada wajah pria itu menggurat keseriusan yang khidmat dan membuat Kenang sinting menghadapinya.

"Tolong jangan konyol." Kenang mengatakannya untuk yang kesekian kali. Tapi Ege masih tetap sama keras kepalanya.

"Aku ikut turun denganmu justru karena tak ingin mengakhiri hidupku secara konyol. Sudahlah. Biarkan kutemui orangtuamu. Setelah itu kubawa kau ke depan ibuku dan aku bisa terbebas dari niat mulia ibuku untuk menjodohkanku dengan gadis entah siapa."

Rasanya, Kenang ingin sekali meninju Ege lalu berteriak di kedua telinganya sampai ia pekak. Betapa Ege keterlaluan. Betapa pria itu menjungkir balikkan perasaannya dan betapa Tuhan sangat terlambat telah mempertemukan mereka kembali.

"We may delay but time will not, Kenang."

Ege mengatakan itu seolah bisa membaca pikiran Kenang. Namun Kenang acuh. Lekas ia memanggil becak dan menaikkan barang-barangnya. Dengan menguatkan-nguatkan perasaan Kenang berujar setengah bergetar.

"Kita sudah benar terlambat, Bang. Sebab aku pulang juga dalam rangka memenuhi panggilan dan hajat orangtuaku, seperti hajat ibumu memanggilmu pulang."

Secepatnya Ege terpaku. Kelu. Beku.

***

Ege tak bisa berbasa-basi lagi. Sesampainya di rumah ia lekat menatap wajah tua  ibunya. Tak berkedip. Wajahnya penuh harap, memohon ibunya untuk meninjau kembali rencana perjodohan atasnya dengan seorang perempuan anak dari sahabat lamanya. Sang ibu tak bisa berkata-kata sebab rencana pertemuan sudah disusun rapi. Namun perempuan tua itu beranjak. Ia masuk ke kamar Ege. Mengambil selembar foto dari lemari Ege.

"Dengan gadis ini kau akan dipertemukan, apakah ibu harus meninjau ulang?"  

Ege habis akal. Selembar foto itu, adalah foto berusia lebih dari satu dasawarsa. Mengabadikan dirinya dan Kenang, di dalam sebuah bus lintas provinsi dan pulau. []

3 komentar:

  1. Meski di akhir ending bisa dibaca, tapi dari awal membaca sudah laru banget. Keren Mbak. ^_^ Cuma itu lho, namanya di narasi jadi Kenang jadi berasa cowok. Hehhh Kenapa tidak disamakan kenanga baik dinarasi juga percakapan.

    BalasHapus
  2. Waaaaaaa aku pernah menulis kisah seperti ini jaman di MP dulu, tapi beneran dari kisah nyatanha temenku sendiri

    Lalu mbak wiwik sekarang menuliskannya dengan sangat apik. Ini kereeeeen

    BalasHapus
  3. Wah bagus mbak, ceritanya mengalir mengajak berimajinasi menulusuri jalan mulai dari Yogya, merak, bakau heni sampai danau Sngkarak .. tapi kok Padangsidimpuan gak kesebut yaaa .., trus lewat dan dipotong nyampe ke Medan. Dan ternyataa ...

    BalasHapus

Terimakasih sudah meninggalkan komentar. Mohon untuk selalu berkomentar dengan bahasa yang baik dan tidak SARA, ya.