Selasa, 10 Mei 2016

Tetap Menulis Walau Honor Kritis

"Jadi, di antara yang sudah terbit itu mana-mana saja yang sudah cair?"

Kemarin di sebuah kamar RS tempat ibu dirawat karena typus, adik saya yang otak kiri dan kemistrinya terhadap uang cukup tinggi bertanya tentang honor tulisan-tulisan saya.

Saya angkat bahu. Memang tak tahu honor mana yang sudah cair/belum karena kebanyakan koran akan membayar setelah ditagih dan itu belum pernah saya lakukan. Lagipula, saya baru menulis sedikit. Nanti-nantilah, mudah-mudahan nggak lupa.


Terkesan nggak butuh uang?

Bukan begitu. 

Kepsek Penulis Tangguh tempat saya belajar kerap berpesan, "menulislah untuk media yang menghargai penulisnya (honor layak)."

Saya faham, nasib penulis fiksi amat sedih di Negara yang sebelah mata dengan sastra ini. Maka jika ingin memperoleh honor layak, menulislah untuk media Nasional yang nggak perlu pakai drama urusan mencairkan honornya. 

Tapi, dinamika media Nasional itu juga penuh drama. Kau seolah-olah bisa membuat cerpen yang lebih bagus dari yang pernah terbit di sana. nyatanya, saat kau kirim sekali, lima, sepuluh, dua puluh naskah yang kau anggap lebih bagus dan kau buat dengan otak terperas dan otot terpelintir kesudahannya, ternyata naskahmu belum juga diberi tempat. Pedih.

Saya bukan sedang pesimis. Tapi saya harus memahami diri saya sendiri yang butuh menulis lebih dari kebutuhan mendapatkan honornya. Sekali lagi, tolong jangan salah sangka. Saya masih ibu-ibu yang melek uang dan doyan gratisan.

Tapi, ya, tapi, saya belum bisa menjadikan uang sebagai motivasi menulis dalam kondisi seberapa butuh uang pun saya.

Saya butuh menulis untuk melembutkan hati saya. 

Ketika pagar saya berkarat akibat dikencingi orang mabok-judi setiap malam, saya yang emosian ini sungguh ingin memaki dan melabrak mereka. Tapi saya sekuat tenaga menahan diri. Sebab kalau tidak, orang-orang dengan pengaruh NAPZA itu bisa kalap balik menyikat saya. Maka saya perlu menulis (walau sekadar status FB) untuk melembutkan hati saya.

Lantas, saya butuh menulis untuk menyenangkan diri sendiri.

24 jam di rumah, tiga anak dengan tiga karakter, belum lagi ditambah bapaknya yang kadang lebih rewel. Di antara pekerjaan-pekerjaan kerumah tanggaan berikut kewajiban mendidik dan itu butuh konsistensi, saya harus tetap happy dan satu caranya dengan menulis. 

Dan lagi, saya butuh menulis sebagai jembatan. Jembatan untuk menyeberangi kenyataan dan realitas-realitas yang pahit kepada keindahan sebuah alam ideal. 

Saya kadang getir dengan kenyataan seorang teman yang untuk menjajankan bakso anaknya saja sulit minta ampun sementara teman lain dengan sangat gamblang mempertontonkan kehidupannya yang serba indah dan mahal. Realitas kesenjangan yang membuat saya bisa apa kecuali meramunya dalam sebuah kisah. Yang kisah itu syukur-syukur membuat pembaca berkaca dan berkontemplasi. Lebih paten lagi bila timbul sebuah kesadaran baru untuk bersikap hidup yang menipiskan kesenjangan itu.

Ya, saya menulis masih sebatas untuk itu. Untuk melembutkan hati, menyenangkan diri, dan membangun jembatan termudah dan termurah menuju alam ideal. 

Jadi, apakah saya tak masalah bila tak ada honor? Oh, sepertinya engkau telah salah menyangka. Saya ini tetap juga ingin mencicipi honor sesedikit apa dari puisi yang kemarin terbit di Radar Surabaya ini. ^_*


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah meninggalkan komentar. Mohon untuk selalu berkomentar dengan bahasa yang baik dan tidak SARA, ya.