Rabu, 04 Mei 2016

Benarkah Jogja Berhati Mantan?

Tak terkira euforia film AADC2 membanjiri beranda FB saya. Dari status gaje sampai share link review filmnya yang spoiler. Saya –pada akhirnya- latah menulis tentang AADC2 karena terentak pada ending sebuah review yang menyebutkan bahwa, “Jogja dipilih sebagai setting AADC2 karena Jogja memang berhati mantan.”


Saya sejujurnya agak tidak gembira dengan plesetan jargon ‘Jogja Berhati Nyaman’ menjadi ‘Jogja Berhati Mantan’. Apalagi bila ‘mantan’ dimaknai sebagai seorang yang berkonotasi negatif. Walau sebagian kita menjadi mantan yang baik bagi mantan kita, tetapi diakui tidak diakui, dikatakan tidak dikatakan, mantan selalu berkaitan dengan sebuah rongrongan dan ancaman bagi keharmonisan sebuah pasangan. 

Saya tidak akan membahas mantan karena terus terang, sejak awal LINE heboh aplikasi cari alumni dan Rangga ikutan mencari Cinta, saya agak-agak khawatir. Bayangkan berapa ribu hati yang akan mencari mantan belahan hatinya dan membuat hati lain terluka. Bilanglah tidak terluka, yang jelas ribuan hati itu tidak dapat memokuskan kepalanya untuk bekerja juga tak nyenyak tidur macam Cinta dan Rangga. Berantakan apa-apa yang sudah berjalan indah. Ini bahaya. Nah, kenapa malah bahas mantan? Maaf saya suka khilaf orangnya :D 

Oke kembali ke topik. Benarkah Jogja Berhati Mantan?

Secara pribadi, sebagai salah satu dari jutaan mantan pelajar di Jogja, atmosfer Jogja jelas masih bersenyawa dalam diri saya bahkan walau sudah sebelas tahun saya meninggalkannya. Hingga saat ini, segala hal tentang Jogja menjadi penyumbang terbesar ide tulisan-tulisan fiksi saya. Dan jargon plesetan Jogja Berhati Mantan membuat saya –iseng- menguji keabsahan frasa tersebut melalui dua pertanyaan.

   1. Apa yang terlintas pertama kali dalam benak saya ketika mendengar kata ‘Jogja’?

    2. Tempat apa yang paling ingin saya kunjungi/hal apa yang paling ingin saya lakukan jika berkunjung ke Jogja?

Apakah dua pertanyaan ini mampu menguji keabsahan jargon Jogja Berhati Mantan bagi saya? Mari kita lihat. 

Pertanyaan pertama, apa yang terlintas dalam benak ketika mendengar kata Jogja? Saya, selalu dan selalu teringat sebuah jalan lurus, dari Ahmad Dahlan, menyeberang perempatan nol kilometer Jogja ke jalan Panempahan Senopati, terus sampai ke tempat mangkal angkutan di Pasar Beringharjo.

Pasti ada yang langsung cie-cie, mengira saya mengenang jalan itu karena selalu melewatinya berdua dengan mantan. Sayangnya, itu sama sekali salah. Faktanya, seringkali saya melewati jalan itu seorang diri. 


Gedung Suara Muhammadiyah di Jl.Ahmad Dahlan. Foto dari google.
 
Dahulu, saya menjadi reporter lepas di Majalah Suara Muhammadiyah yang berkantor di Jalan Ahmad Dahlan. Setiap dua pekan sekali saya rapat redaksi dan jam pulangnya bisa dipastikan sore hari. Awalnya, saya diajak Mas Isngadi (reporter senior) untuk berjalan kaki sampai Pasar Beringharjo demi menghemat ongkos. Namun seiring waktu, ada tak ada Mas Isngadi, ada tak ada ongkos, saya secara impulsif berjalan kaki seorang diri. Menyusuri Ahmad Dahlan, PKU Muhammadiyah, kantor pos, melewati tukang-tukang becak dan lapak-lapak kaki lima yang mulai buka.

 Perempatan Nol Kilometer Yogyakarta. Atas adalah Jl.Ahmad Dahlan dan Bawah Jl.P.Senopati (jalan lurus yang selalu saya lewati). Kanan ke Malioboro dan Kiri ke alun-alun. Foto dari google.


Saya masih bisa merasakan dengan jelas was-wasnya hati saya ketika menyeberang perempatan nol kilometer yang tak pernah sepi. Lalu kelegaan menguar ketika saya berhasil menapak trotoar  Jalan Panembahan Senopati yang asri. Dan saya selalu gembira melewati lapak-lapak penjual lukisan di depan Gedung Agung yang rindang pepohon tua. 

 Gedung Agung Yogyakarta, teduh pohon tua. Foto dari google.

Ketika langkah saya menginjak daun-daun kering, nyaring ‘kres-kres’ di bawah sepatu menjadi backsound bagi hati dan kepala saya yang riuh oleh monolog-monolog. Tentang diri dan kenaifan masa muda, tentang hubungan-hubungan yang rumit dengan orang-orang juga kadangkala dengan Tuhan, tentang masa depan yang ghaib, tentang segala hal yang melintas, saling-silang, berkelindan.

Berjalan sendiri, di bawah bayang senja yang lolos dari deduan pohon tua dengan rumit rumusan hidup yang berkecamuk di dalam hati juga kepala, rasa-rasanya, itu adalah senja-senja terbaik selama saya di Jogja. Lantas pada ujung kesunyian itu hati saya selalu melafalkan; “kelak aku akan merindukan saat-saat ini. Saat berjalan sendiri dengan bebat pikiran yang tersesat-sesat.”

Dan ini benar terbukti. Setiap saya mendengar kata Jogja, maka saya akan mengingat sebuah jalan lurus dengan telinga yang riuh oleh nyaring dedaun kering yang terinjak sepatu dalam kesunyian hati tak terperi. Indah bukan main.

Oke pertanyaan kedua. Hal apa yang paling ingin saya lakukan/tempat apa yang paling ingin saya kunjungi selama di Jogja?

Jelas, saya ingin mengulang perjalanan di jalan lurus itu, seorang diri pada senja hari, dan mendengar riuh hati saya bernyanyi bahwa saya telah kembali meraup secawan kenang yang tercecer di sepanjang jalannya.

Pada penghujung 2013 saya dan keluarga berkesempatan ke Jogja. Tapi saya belum berhasil mewujudkan keinginan itu. Barangkali esok entah kapan, ketika anak-anak sudah mandiri dan kami berkesempatan kembali ke Jogja, saya akan mencuri waktu untuk mengulang episode berjalan sendiri di jalan lurus itu. Saya tahu banyak hal telah berubah di Jogja. Namun saya yakin, tiada yang lebih cerlang dari sebuah kenang yang lusuh dan kita basuh dengan secawan rindu. Nah jadi berkaca-kaca.

Jadi, setelah apa yang saya tulis di atas, apakah jargon Jogja Berhati Mantan berlaku untuk saya? 

Rasa-rasanya, saya lebih mengingat Jogja yang nyaman, yang murah-meriah-manusiawi-selow ketimbang Jogja yang ingar dengan sederet mantan-mantan. Lagipula, saya baru ingat, saya ini ternyata memang tidak punya mantan selama di Jogja. Well done, antiklimaks mode on.





11 komentar:

  1. Cie cie itu mantan reporter udah nulis bertema mantan �� ntar nulis ah versi aku xixii

    BalasHapus
  2. kota berhati mantan mah kalau buat saya SOLO, JOGJA itu kota penuh cerita cinta bersama mantan pacar yang kini jadi suami.. eh

    BalasHapus
  3. mantannya bukan aku yaaaaaa
    he he he

    BalasHapus
    Balasan
    1. hwaaa, mas Issssss, kangen. terima kasih sudah baca dan meninggalkan jejak. *sungkem

      Hapus
  4. Tulisan yg manis, mbak... :)

    BalasHapus
  5. Tulisan yg manis, mbak... :)

    BalasHapus
  6. Weleh... mantan org koran rupanya.... uni baru 2 x nginjakkan kaki di yogya. Suka dgn kebudayaannya dan gak suka ama tukang becak di malioboronya. Hehehe

    BalasHapus
  7. Weleh... mantan org koran rupanya.... uni baru 2 x nginjakkan kaki di yogya. Suka dgn kebudayaannya dan gak suka ama tukang becak di malioboronya. Hehehe

    BalasHapus
  8. Mantan komen nih... Mantan komen. Mantan tetangga di MP :p

    BalasHapus
  9. pas lah mbak wiek jadi pujangga. lagi jalan2 sendirian di jogja aja bisa ditulis seromantis itu. aku mah kalo inget yg kayak gitu sekedar ngakak sendiri.hehehe

    BalasHapus
  10. Hmm, boro-boro mantan di yogya, ke yogya aja aku belom pernah, huhuhu, nanti mau ke sana sama suami :p

    Salam,
    Shera.

    BalasHapus

Terimakasih sudah meninggalkan komentar. Mohon untuk selalu berkomentar dengan bahasa yang baik dan tidak SARA, ya.