Jumat, 08 April 2016

DASTER



Ini adalah kisah lucu yang saya tulis untuk rubrik gado-gado Femina. Karena belum berjodoh, maka saya posting di blog untuk dibaca saat senggang.
D A S T E R
Oleh: Wiwik Waluyo
                                                         Foto pinjam dari google

Saya punya tetangga baru. Beliau  mengenalkan diri sebagai Ibu Tedja. Ibu Tedja ini walau sudah paruh baya tetapi penampilannya tetap modis. Apalagi kalau mendampingi suaminya pada acara-acara kantor. Mengingat suaminya adalah seorang Kepala Cabang sebuah Bank yang ada di kota kami.

Selain modis, Ibu Tedja juga baik hati dan ramah. Senyumnya selalu terkembang saat pagi hari menyapa saya. Namun entah mengapa keramahannya menguap pagi itu. Ia sedang menyiram tanaman dan hanya menjawab sekilas saja ketika saya sapa.
"Aku tuh lagi sebel banget sama orang kantornya Pak Tedja," lapornya sore hari kepada saya. "Kemarin itu kan ada orang kantor datang ke rumah. Lha, Pak Tedja masih di kamar mandi. Jadi tamunya kusuguhin minum. Eh, masa dia nanya, 'Ibu Tedjanya nggak di rumah, ya?' Lha, dipikir aku ini siapanya Pak Tedja? Pembantunya?"
Huft. Saya menahan tawa.
"Ya mungkin orang kantor belum hafal wajahnya Ibu, kan baru..." Saya coba menghibur sambil terus menahan tawa. Takut Ibu Tedja tesinggung.  
"Ibu juga kan kalau ke kantornya Pak Tedja dandan rapi dan wangi. Sedangkan di rumah polosan, jadi pangling deh orang kantor," ujar saya lagi. Berharap beliau maklum dengan kekeliruan anak buah suaminya.
"Pasti karena aku pake daster makanya dikira pembantu!" Simpulnya yakin. "Nah kamu, kalau di rumah jangan dasteran terus, nanti dikira pembantu juga!" Pesannya sebelum meninggalkan saya.
Saya mengiyakan dengan anggukan. Walau tak yakin apakah saya bisa mengurangi frekuensi memakai daster. Lha, daster itu sudah jadi 'pakaian dinas' saya sehari-harinya yang hanya IRT saja. Apalagi suami saya juga bukan orang kantoran. Jadi tak mungkinlah saya sebal dengan orang yang akan mengira saya pembantu.
Namun saya keliru. Setelah beberapa pekan melupakan kejadian daster Ibu Tedja, saya justru terperangah dengan apa yang menimpa saya sendiri.
Jadi ceritanya, sore saat duduk di depan rumah sambil menunggu dua balita saya bermain di luar. Datanglah seorang pria tinggi, putih, keren dan tampan. Dilihat sekilas miriplah dengan aktor Ari Wibowo yang ngetop tahun 90-an. Pria tampan ini terlihat bersemangat memasuki halaman rumah saya. Lantas ia tersenyum dan menyapa ramah, "Sore… Ibunya, ada?"
Ibu?
Wah, apakah wajah saya terlihat terlalu muda dengan dua balita yang seketika mengelendot pada saya ketika melihat ada orang asing datang? Atau? Oh, kesadaran saya lekas muncul begitu mata saya menangkap motif batik dari pakaian saya. Apakah karena daster ini? Lalu apakah dia mengira saya pembantu?
Huft.
Sekejab saya merasakan jengkel. Ingin sekali membalas pertanyaan pria tampan itu dengan berlaga bodoh, ‘Oh, ibunya sedang ke Luar Negeri.’
Namun saya buru-buru menepis niat jail itu. Dengan senyum yang coba saya ukir setulus-tulusnya, akhirnya saya jawab dengan tegas, "saya ibu di rumah ini. Masnya ada keperluan apa, ya?"
Dan, Pria keren tampan itu langsung tersipu malu. Dengan agak sungkan ia mulai menjajakan dagangannya. Walau setelah kejadian itu saya berjanji akan mengurangi frekuensi memakai daster, namun saat itu saya puas. Rasanya senang sudah membuat pria keren si penjual susu dan yogurt menjadi kikuk karena sudah salah menyangka.
Memangnya, sejak kapan daster hanya boleh dipakai pembantu? []

2 komentar:

  1. Uni nyaris gak pernah pake daster. Hahaja. Pakaian kebesaran uni di rumah adalah t shirt dan celana panjang batik atau celana legging. Hehehe....

    Tp tetep aja sekali dua.. ada org yg datang dan baru ketemu suka bersikap menyepelekan. Nada sepelenya akan menguap kalau uni udah mengeluarkan karakter dosen killer uni. Wkwkwkwk

    BalasHapus
  2. Uni nyaris gak pernah pake daster. Hahaja. Pakaian kebesaran uni di rumah adalah t shirt dan celana panjang batik atau celana legging. Hehehe....

    Tp tetep aja sekali dua.. ada org yg datang dan baru ketemu suka bersikap menyepelekan. Nada sepelenya akan menguap kalau uni udah mengeluarkan karakter dosen killer uni. Wkwkwkwk

    BalasHapus

Terimakasih sudah meninggalkan komentar. Mohon untuk selalu berkomentar dengan bahasa yang baik dan tidak SARA, ya.