Kamis, 04 Februari 2016

[30HMSC hari ke5] Underneath The Moon

Malam, Tobi…

Aku duduk di teras yang harum sedap malam, sendirian. Mamak melemparkan baju hangat seperti membuang anak kucing nakal ke tepi jalan. Aku memakainya. Walau sebenarnya yang kuingin bukan hangat dari sepotong baju tebal itu, tapi dari bertemunya dua jiwa yang sama menyimpan cinta.

Oh, lelucon apalagi yang akan kukisahkan tentangmu, Tobi?

Adakah kau menganggap aku berlebihan jika tiba-tiba kukatakan aku kembali demam dan mengigau? Ah, aku jadi tertawa sendiri. Getir. Satir.

“Tenanglah, Anna. Jika langit bisa menggantung tanpa tiang, maka semestinya harapanmu juga.”

Aku jadi terngiang ucapanmu. Pada waktu yang lalu, saat menghiburku sebab terjatuh pada rerimbun olokan teman-teman. Apa kau masih mengingat apa impian yang membuatku dihantam peluru cemooh dari segala penjuru, Tobi?

Kau pasti sudah lupa.

Tapi tak apa, aku tak keberatan bahkan walau harus terus mengulangnya.

“Aku ingin menjadi penulis. Seperti penulis Lima Sekawan yang buku-bukunya selalu kita rebutkan."

Itu impianku. Dan seisi kelas bertepuk tangan sambil mencibir. Bahwa impianku keterlaluan. Bagaimana mungkin membuat buku yang menjadi rebutan jika tulisan tanganku tampak seperti cacing kelaparan? Kuingat, masih sangat kuingat olokan itu, Tobi. Masih kubiarkan hatiku berpura-pura lemah agar selalu kembali kukenang dukunganmu yang selalu berhasil menguatkan. Lebih menguatkan dari ramuan telur ayam yang dikocok bersama madu hutan yang selalu dicekoki Mak saat sakitku.

Malam ini, di bawah bulan yang masih sangat muda, kukirimkan kabar bahwa impianku sudah hampir menyentuh pintu gerbang keberhasilan. Aku nekad mengikuti sebuah lomba menulis cerita. Tak tanggung-tanggung, seratus lima puluh tujuh halaman berhasil kuselesaikan disela mengurus ladang jeruk dan kebun sayur Paman Lintar. Bayangkan, Tobi, ada di daftar dua puluh besar dari tiga ratusan naskah, oh, aku menangis setengah harian sambil menyingkirkan gulma di antara kol yang berumur tiga minggu. Dan di sana, kuharap kau turut merasakan kebahagiaan ini, Tobi.

Aku tak sabar lagi menunggu naskah ini menjadi salah satu dari tiga yang terbaik. Lalu, maafkan aku, akan kutulis namamu di halaman persembahan terimakasihku. Teruntukmu, Tobi, yang membuatku mengerti bahwa harapan selalu bisa menggantung tanpa tiang.

Terimakasih, Tobi…
Sepucuk rindu kutanam, di bawah pepohon jeruk yang sedang harum-harumnya, di bawah sinar bulan yang menggodaku untuk terbang, kepadamu…

 #30HariMenulisSuratCinta Hari ke-5

5 komentar:

  1. syalalalaa syalalaaa *efek nonton pidio*

    -ikavuje

    BalasHapus
  2. Waaa...suka sama surat-surat Anna buat Tobi! :D

    BalasHapus
  3. makasih sudah mampir dan suka surat-surat Anna buat Tobi, kakak Manda :)

    BalasHapus
  4. saya jatuh cinta pada surat-surat ini

    BalasHapus

Terimakasih sudah meninggalkan komentar. Mohon untuk selalu berkomentar dengan bahasa yang baik dan tidak SARA, ya.