Minggu, 21 Februari 2016

[30HMSC hari ke22] Thanks, God

Dear, God...

Sebenarnya aku ingin sekali memutar Dear, God milik Avenged Sevenfold sebagai latar dari surat ini. Namun sepertinya, lirik lagu yang memintaMu untuk menjaga kekasihnya ketika dia pergi, kupikir itu sangatlah biasa. 

Bukan, bukan maksudku mengecilkan arti seseorang yang selalu meminta pertolongan kepadaMu. Buatku, tiada tempat meminta pertolongan paling istimewa kecuali Engkau. Hanya, pada momen khusus ketika aku harus mengirimkan surat ini kepadaMu, kupikir ada hal lebih istimewa selain memintaMu melakukan ini dan itu. Dan sesuatu itu adalah, rasa terimakasihku yang tak terhingga kepadaMu.

Dear, God... Terimakasih masih mengembalikan ruhku, pagi ini. Ketika tadi malam sulit sekali tidur karena kepala seperti dihantam batu dari segala penjuru, rasanya, bisa kembali membuka mata dan menghirup udara beraroma kembang sedap malam yang tertimpa buliran embun sangatlah luar biasa.

Dear, God... Terimakasih telah menjadikanku ada di dunia ini. Walau aku selalu merasa belum siap lepas dari rahim kasih sayang Nande, tapi aku bersyukur Engkau mengirim Mamak yang sabar dan Bapa yang bertambah kebijaksanaannya selepas Nande pergi.

Dear, God... Terimakasih untuk teman-teman, untuk Tobi yang pernah Kau takdirkan kami tumbuh bersama. Tiada hal terjadi di luar kehendakMu. Aku tahu, ada dan tiadanya adalah caraMu untuk membuatku semakin mengenalMu.

Dear, God... Terimakasih telah begitu sempurna menggilirkan siang dan malam, meninggikan langit tanpa tiang, melembutkan ombak di lautan, meneduhkan angin di pegunungan, menghijaukan padang-padang. Terimakasih telah begitu erat memelukku dalam keheningan yang ramai cintaMu serta dalam keramaian dunia yang hening oleh angkaraMu.

Dear, God... Terimakasih atas segala karunia yang sering luput kuinsafi, bahwa semua itu, tak lebih adalah berkat kasih sayangMu belaka. Terimakasih masih tetap menjagaku walau aku seringkali lalai dan ingkar kepadaMu. Terimakasih atas nikmat dan kesempatan sakit yang sekarang. Dalam sehatku, aku tak yakin apakah bisa seintim dan semesra ini saat bersamaMu, setiap pagi hingga malamku.

Terimakasih Tuhan, sungguh terimakasih...


 
#30Harimenulissuratcinta hari ke22

2 komentar:

  1. Surat untuk Tuhan tak akan pernah ada matinya :)

    BalasHapus
  2. jangan lupa juga meminta, Tuhan memang tempatnya. Dia tak punya lelah.


    -Ikavuje

    BalasHapus

Terimakasih sudah meninggalkan komentar. Mohon untuk selalu berkomentar dengan bahasa yang baik dan tidak SARA, ya.