Jumat, 12 Februari 2016

[30HMSC hari ke13] Tentang Aksara


Tobi, apa kau pernah mendengar sebuah puisi tentang bangku tua yang menunggu? 

Hujan dan angin mengelupaskan pewarna dari tubuhnya. Udara yang cemas melubangi dadanya. Dan dingin mendidihkan sepinya. Tetapi semakin renta, bangku itu tak lelah bersetia. Mulutku bisa katakan bahwa itu hanya bualan Khrisna Pabichara belaka, tapi hatiku meresapinya seperti para jamaah menyesap tiap tetes kata para pengkhutbah. 


Jiwaku meyakini bangku renta itu memang ada, seperti aksara yang tak pernah ingkar meninggalkan kalimat dan paragraf-paragraf yang membangun kisah-kisah abadi. Tak perlu jauh meneropong Layla dan Qays, Ainun dan Habibie itu senyata-nyatanya kisah asrama yang melegenda. Aksara di dalamnya tak akan berguguran bahkan walau kertasnya lepas dimakan rayap, habis menyerpih dan menjadi cerih.

Tobi, jangan cemas jika aku tetap mencintai aksara. Akan tetap kususun tiap satuannya menjadi bait-bait yang indah, sajak-sajak yang mengoyak congkaknya dunia, dan kisah-kisah berhikmah pembangun jiwa. Aku mencintai aksara, tak peduli media membuka ruang lapang bagi sepotong kisahku atau menutupnya rapat tanpa cela.

Aku mencintai aksara, tak peduli bahkan jika engkau akan bergumam dari sana, "tutuplah, kuburlah kisah kita pada nisan paling renta di liang jiwa."

Sungguh tak mengapa, Tobi. Di sini, aku akan tetap mencintai aksara.

-Anna

#30HariMenulisSuratCinta Hari ke13

1 komentar:

  1. Hoammm,

    selamat pagi Anna, hari ini kau akan memberitahu siapa tobi kan?




    Ikavuje

    BalasHapus

Terimakasih sudah meninggalkan komentar. Mohon untuk selalu berkomentar dengan bahasa yang baik dan tidak SARA, ya.