Minggu, 28 Februari 2016

[30HMSC hari ke29] Sebuah Pengakuan

Medan, 28 Februari 2016
Teruntuk Penjemput Surat yang punya side job sebagai penyanyi ataupun kebalikannya.

Hai, Assalamualaikum Ika Vuje...

Sebentar, agar tak terjadi gagap komunikasi, apakah aku harus memanggilmu dengan kakak atau cukup nama saja? 

Soalnya begini Penjemput Surat, walau tinggal di Medan yang terkenal gaya bicaranya ngegas dan suka-suka, namun aku ini sering tak enak hati memanggil seorang yang baru dikenal langsung kepada namanya. Apalagi, sungguh bodoh sekali diriku ini, tidak tahu bahwa Penjemput Surat sebenarnya adalah seorang penyanyi terkenal.

Pantas saja, sejak awal aku seperti deja vu, merasa tak asing dengan nama Ika Vuje. Tapi bila berkunjung ke rumah-nya aku selalu gagal menemukan siapa gerangan dirinya kecuali sarang laba-laba dan debu yang menebal di tiap sudutnya. Aku baru menemukan petunjuk tentang siapa dia pada hari ke dua puluh empat, saat tak sengaja membaca kicauannya tentang sebuah lagu. 

Seperti dicubit, aku langsung mengetikkan namanya di mesin pencarian dan saat itulah aku merutuki diriku sendiri. Hey, aku bersapa setiap hari dengan Penjemput Surat tetapi tak mengenali siapa sesungguhnya dirinya. Padahal aku sempat dua kali menonton film yang salah satu soundtracknya dinyanyikan  olehnya. Luar biasa! Orang Indonesia (maksudku aku pribadi) memang tak suka membaca credit title seusai film ditayangkan. Kumohon maafkan aku, Penjemput Surat.

Foto: pinjam dari google. Tobi pasti setuju kalau senyum dalam gambar di atas sangatlah maut.

Seandainya kau tahu wahai Penjemput Surat, sejak kesadaranku tentang siapa dirimu sebenarnya, aku jadi memutar lagu Berpisah terus menerus. Tak peduli selagi di ladang bahkan sepanjang malam ketika menulis. Aku yakin, Tobi tertawa setengah mati di sana melihat kenorakanku.

Penjemput Surat, well, aku berterimakasih atas kesediaanmu menjemput dan membaca surat-suratku selama tiga puluh hari hingga esok. Aku berharap kau tak jemu membaca kisah cinta yang usang ini. Buat orang lain surat cintaku memang usang, tapi buatku ini berarti besar dan selalu terasa segar sehingga perlu aku mengikuti ajang bergengsi yang memerlukan dedikasi sepanjang tiga puluh hari ini.

Terimakasih banyak, Penjemput Surat. Kuharap kau tak tersinggung dengan pengakuan memalukan ini. Aku sangat berharap suatu saat bisa berjumpa denganmu. Mungkin saat kau mengunjungi kampung halaman di Medan, aku akan mengajakmu memetik jeruk di kebun Paman Lintar, sebanyak yang kau inginkan. Atau, jika suatu saat aku berkunjung ke Ibukota Negara untuk menghadiri suatu acara bergengsi, mungkin penerimaan hadiah atas karya tulisku yang spektakuler, yah, saat itu aku akan mengabarkan padamu agar kita memiliki sedikit waktu untuk bertemu.

Dari kebun jeruk Paman Lintar kulayangkan doa, semoga karir menyanyimu sumakin laju dan sukses. Dan apabila saat itu tiba, yang aku tak yakin apakah kau masih akan sempat menjemput surat seperti sekarang, aku sangat berharap kau tetap akan menjadi seorang yang asyik dan rendah hati.

Rasanya sedih sekali menuliskan ini. Bukan karena kesempatanku menulis surat kepada Tobi hanya tinggal esok hari, tetapi karena memang begitu mengerikan mengakhiri sesuatu yang sudah dimulai dan terpelihara dengan indah selama empat pekan. Lagu yang kuselipkan mungkin tak terlalu cocok dan amat berlebihan. Kata Tobi, aku memang terkadang lebay. Tobi tak tahu, di belakangnya aku ini lebay sekali ^_^

Oke baiklah. Nah, jadi tadi bagaimana Penjemput Surat, aku harus memanggilmu kakak atau bagaimana?
 
Salam sukses untukmu dariku,

-Anna

#30harimenulissuratcinta hari ke 29


2 komentar:

  1. panggil aku kesayangan saja, semoga ceritamu terus berkembang, barangkali Tobi pulalah yang mengantarmu ke Jakarta untuk perayaan bergengsi. Terima kasih suratmu yang membuatku haru. Senyumku mengembang lebar sekali, bahagia. Semoga kaupun sama.


    -Ikavuje

    BalasHapus
  2. aih penjemput suratnya cantik sekali

    BalasHapus

Terimakasih sudah meninggalkan komentar. Mohon untuk selalu berkomentar dengan bahasa yang baik dan tidak SARA, ya.