Senin, 29 Februari 2016

[30HMSC hari ke30] Sebuah Akhiran

Dari kebun Jeruk Paman Lintar yang kemarin gagal panen raya, 
aku menemui Penjemput Surat dan Tuan Bosse pada penghujung Februari yang mendung,
di Istana PosCinta.

Hai, my dear Penjemput Surat dan Tuan Bosse, surat terakhir ini untuk kalian. 


Semalam, sejujurnya aku sudah membuat surat untuk Tobi dan akan kuposting pagi-pagi sekali. Namun sebuah kejadian lebih menghebohkan dari Kang Emil yang menolak diusung ke Pilgub DKI Jakarta membuatku menyimpan surat itu kembali. Sebagai gantinya akan kukisahkan kejadian mengehbohkan itu untuk kalian. Maaf kalau agak panjang, kuharap kalian memahami tabiat berceritaku yang susah sekali dihentikan.

Jadi, malam tadi seusai menuliskan surat untuk Tobi, angin berputar sangat kencang. Dari kamar aku sangat jelas mendengar desau angin yang menggesek daun-daun pinus di sepanjang jalan depan rumah. Anjing melolong di kejauhan serupa tangisan bocah yang tertimpa bencana. Saat alam sedang bersedu sedan, pikiranku kembali melanglang kepada Tobi.

Sudah lebih dari empat puluh delapan purnama ia pergi. Dan sudah hampir dua tahun tak pernah kucoba menanyakan kabarnya kembali. Tidak bertanya kepada saudaranya, apalagi kepada Mamaknya. Aku khidmat kepada janji yang lamat-lamat terucap ketika Tobi akan pergi. Bahwa kami tak akan merisaukan siapapun lagi setelah ini. 

Cukup tangisan Mamak yang memohon Tobi untuk menjauh pergi. Cukup ultimatum Bapa agar kami tak melanggar adat. Cukuplah kami mencoreng arang ke wajah keluarga dengan kisah asmara terlarang ini. Atas dasar-dasar itulah, jangankan mengirim pesan kepada Tobi, bahkan, walau sekadar membuka buku telepon dan melihat kombinasi angka ponselnya pun tidak pernah kulakukan.

Barangkali sebab terlalu letih memikirkan Tobi, aku jatuh tertidur dengan dirinya yang kubawa serta. Tobi muncul dalam tidurku. Rahangnya yang tegas tertutup cambang yang rapi teratur. Dia sepertinya baru bercukur sebelum menemuiku. Lalu matanya yang bening dan hening selayak telaga mendadak beriak seperti ada batu dicebur ke dalamnya. Batu yang diberati rindu.

Aku ingin sekali hambur ke bidang dadanya yang lapang dan melebur segenap perasaanku yang dalam di sana. Namun Tobi mundur. Lalu kabut tebal turun sangat rendah dan menghalangi pandanganku atas dirinya. Aku berupaya membuka suara sekeras yang kubisa, namun tiada satu aksara tercipta. Aku memukul-mukul dinding kabut di hadapanku dengan marah hingga lelah. Dan aku terjaga dengan napas terengah-engah.

Aku terus membawa mimpi itu. Saat sarapan, saat berbicara dengan Bapa dan Mamak, saat mendengar arahan Paman Lintar di ladang, hingga saat tengah hari Bibi Selena datang. Kulihat senyum Bibi Selena lebih mengembang dari kelopak mawar yang ditanam Mamak. Senyum itu bahkan sudah ia pasang semenjak turun dari mobil double cabinnya.

"Kau mimpi apa semalam, Anna?"

Hah?

Duhai Penjemput Surat dan Tuan Bosse, apa tanya Bibi Selena tadi? Mimpi apa aku semalam? Kenapa tiba-tiba dia menanyakan itu padaku? Apakah Bibi sudah berubah menjadi cenayang sekarang?

"Oh, apakah Bibi membawa sewadah cimpa lagi?" tanyaku gugup mengalihkan pertanyaan Bibi. Sebentar Penjemput Surat, apakah kau mengerti apa itu cimpa? Aku sudah menuliskan tentang cimpa hari ke dua puluh empat namun sepertinya kau belum menjemput surat itu. Kau bisa ambil surat itu nanti kalau senggang di Aroma Cimpa, ya. 

Bibi belum sempat menjawab pertanyaanku ketika dari rumah Ruth berlari mengangsur-angsurkan ponselku, "telepon Kakak, ada telepon..."

Aku meraih ponsel, membaca nama tertera di layar, dan, eh, apa aku mulai rabun sekarang?

"Tobi? Hey, cepat angkat!" Bibi Selena melongok dan mencubit lenganku. Aku, maksudku tanganku kebas sekali. Lalu dalam kesadaran yang mengambang kutekan tombol jawab dan suara di sana seketika membuatku lumpuh. "Halo Anna, is it me you're looking for?"

Tanganku gemetar, hatiku berdenyar, lidahku seperti terbakar.

"Anna?" Tobi memanggilku sekali lagi dari sana. "Kau tak ingin lagi berbicara denganku?"

Bukan, sungguh maksudku bukan begitu. Aku terlalu ambyar sebab terlalu gebyar merasakan sensasi bahagia ini. Aku masih menyusun huruf dalam lidahku ketika sebuah suara pintu mobil terbanting dari tepi jalan. Aku tak tahu apakah ini akibat aku terlalu letih memikirkan Tobi hingga berhalusinasi parah seperti ini. Bahwa seseorang yang keluar dari mobil Bibi Selena, dia, mataku menangkapnya sebagai Tobi. 

Aku sekonyong-konyong ambring dalam semesta yang hening. 
***

Penjemput Surat dan Tuan Bosse, terimakasih banyak telah membuat sayembara istimewa #30harimenulissuratcinta ini. Senja ini, ketika puncak gunung Barus sempurna tertutup kabut, aku merasa kasih sayang Tuhan begitu tercurah kepadaku.

Baru saja bubar sebuah pertemuan kecil di rumahku. Pertemuan yang aku sama sekali tak tahu bagaimana bisa terjadi. Hadir pada pertemuan ini Bapa dan Mamak, Bibi dan Paman Lintar yang mereka adalah orangtua Tobi, juga Bibi Selena dan tentu saja tokoh utama dalam surat-suratku selama ini. 

Ya, ternyata aku tak berhalusinasi. Yang tadi keluar dari mobil Bibi Selena adalah Tobi. Aku menduga, sejak insiden cimpa Bibi Selena diam-diam mengatur ini semua. Aku berhutang budi setinggi gunung Barus kepadanya. Pertemuan kecil tadi membuka sebuah fakta yang mengagetkanku. Tobi, barangkali dia sudah terlebih dahulu mengetahui sehingga dapat dengan lancang menyanyikan lirik Hello milik Lionel Richie saat menelepon tadi.

"Kami orang-orangtua ini kadang ada khilafnya juga, Anna." 

Itu pembuka dari Paman Lintar. 

"Ternyata, perpisahan hanya mampu menjauhkan jasad kalian. Karenanya kupanggil Tobi pulang. Kami merestui kalian. Adat merestui kalian."

Jadi my dear Penjemput Surat dan Tuan Bosse, detik ini baru kutahu, sepupuku Tobi ini, dia ternyata bukan putera kandung Paman Lintar. Aku sangat bahagia karenanya. Semoga Penjemput Surat dan Tuan Bosse juga bahagia di istana PosCinta. Besar harapan kiranya Tuhan memanjangkan umur agar sampai waktuku menuliskan surat pada tahun-tahun yang akan datang.

Terimakasihku yang buncah,

-Anna


 #30harimenulissuratcinta hari ke30


1 komentar:

  1. Aku sukaaaaaaaaaa sekali dengan akhirannya yang indah iniii, aahh, berarti sebentar lagi kaupun memakai gaun indah dan tanganmu dihias inai? semoga iya tak lama lagi. Amin.
    AKu terima kasih dengan cerita cintamu yang selalu konsisten kau kirimkan padaku selama Poscinta ada. Hari ini aku pamit ya, semoga bertemu lagi suatu hari. sampai jumpaaaaaaaaa.

    -Ikavuje

    BalasHapus

Terimakasih sudah meninggalkan komentar. Mohon untuk selalu berkomentar dengan bahasa yang baik dan tidak SARA, ya.