Senin, 08 Februari 2016

[30HMSC hari ke9] Satu Rindu Untuk Nande

Hai, Tobi, hari Senin lagi sekarang. Senin yang basah dan teman-temanku yang berkulit putih menyebutnya berkah. Ya, tiada keberkahan yang melimpah-limpah kecuali hujan yang sambung-menyambung, sepanjang hari saat Imlek tiba seperti saat ini.

Aku sebenarnya tak sabar ingin bercerita tentang pesta kebun yang indah kemarin, Tobi. Tapi karena hari begitu gigil, sesuatu yang berasal dari ingatan jangka panjangku hadir dan memanggil-manggil untuk kutulis dalam surat ini.

Hujan, tiada hal lain yang lebih menggenang di ceruk ingatan kecuali tentang Nande (Ibu). Kau tahu itu, Tobi. Karena kau juga menjadi aktor utama yang berperan menabahkanku saat selendang duka terselempang di dada. Aku rindu Nande bukan karena tak sayang Mamak, Tobi. Nande yang mengandung lalu mengantarku ke dunia bertaruh nyawa, dan Mamak yang merawatku, setia menjagaku hingga waktu yang sekarang. Aku menyayangi keduanya, tentu saja.

Nande, apa kabar sekarang? 

Sudah hampir satu dasawarsa Nande pergi, apakah Nande bisa melihat tinggiku sudah melebihi Bapa? Ketabahanku juga sudah menjulang-julang sekarang. Aku juga sudah lupa kapan terakhir kali mengeluh kenapa Nande cepat pergi dan Bapa menikah lagi bahkan ketika belum kering benar tanah merah yang menyelimuti rumah Nande.

"Kau terlalu berlebihan, Anna. Nande sudah dua tahun pergi. Bapa butuh pendamping untuk merawat kau, merawat adik-adik kau."

Ya, sekarang aku bisa mengerti maksud kalimat Tobi dahulu itu, Nande. Mungkin tanpa Mamak, Bapa akan kerepotan mengajariku saat ujian akhir SMP sekaligus adik-adik yang bila kupikir-pikir sekarang, sangat menguras tenaga dan pikiran Mamak. Terkadang, diam-diam aku perhatikan, Mamak mengusap sudut matanya dengan punggung tangan. Apakah dahulu aku begitu bandal, Nande? 

"Nandemu tidak mati, tidak pergi. Nande tetap hidup tapi di dunia yang lebih tinggi, lebih indah, lebih damai, lebih memukau. Berhentilah membuat Mamak jengkel kalau kau ingin Nande bahagia di sana."

Dulu aku benci sekali mendengar nasehat Tobi. Tapi semakin besar aku mengerti, Tobi benar tentang itu, Nande. Aku tahu Nande tak pernah benar-benar pergi. Aku selalu bisa merasakan, saat-saat sedihku, atau saat senangku, selalu ada Nande yang melintas dan tersenyum padaku. Maka maafkan aku, Nande. Maafkan kenalakan-kenakalan masa kecil yang membuatmu sulit. Maafkan aku belum sampai membuat Nande tersenyum dan bangga kepadaku.

Nande, apa kabar hari ini? 

Di sini hujan semalaman dan bersambung seharian. Puncak gunung sempurna tertutup awan. Dan ingatanku terselubung oleh cinta Nande yang tak berkesudahan. Hujan selalu membawaku kepada Nande. Pada tiap tetes yang jatuhnya serasa terburu-buru ini, aku menitipkan rindu. Satu rindu untuk Nande... 


 
#30harimenulissuratcinta hari ke9

4 komentar:

  1. Nande ini artinya nenek bukan? Di sini aku membacanya ibu.

    -Ikavuje

    BalasHapus
    Balasan
    1. dlm bahasa karo, nande berarti ibu, kakak

      Hapus
  2. Balasan
    1. yep, hasil kamus bhs karo sih gitu :)

      Hapus

Terimakasih sudah meninggalkan komentar. Mohon untuk selalu berkomentar dengan bahasa yang baik dan tidak SARA, ya.