Kamis, 25 Februari 2016

[30HMSC hari ke26] Right Here Waiting

Satu harian ini kabut mengungkung Barus, Tobi. Hujan berkunjung semenjak pagi, di tengah waktu sarapan yang dingin. Dingin bukan karena sepiring jeruk madu dan pepaya yang sering kupilih sebagai menu sarapan akhir-akhir ini demi alasan kesehatan, tetapi karena Bapa yang tiba-tiba saja menyoal usiaku. 


"Bulan depan umurmu sudah berapa, Anna?"

Tentu aku kaget mendengar pertanyaan itu. Walau Bapa memang tak pernah lupa tanggal lahir anak-anaknya, tetapi ini di luar kebiasaan. Tanpa kalimat atau pertanyaan-pertanyaan pembuka, Bapa biasanya selalu mengucapkan doa-doa terbaiknya pada hari ketika usia kami bertambah. 

"Ulang tahun Kakak Anna, kita akan jalan-jalan ke mana, Pak?"

Pertanyaan  yang meluncur dari bibir mungil Ruth dan sahutan Keke juga Jo yang berebut ide tempat liburan, seketika menghangatkan suasana. Aku bisa sedikit rileks saat akhirnya menyahut dua puluh lima kepada Bapa.

"Kau sudah gadis dewasa," lirih Bapa diakhiri dengan sebuah dehaman. Aku tak mengerti apa arti dehaman itu karena Bapa tak melanjutkan apapun lagi selain berjanji pada Ruth akan sebuah perjalanan liburan. Aku mengira urusan umur berhenti sampai di situ. Ternyata salah. Barusan ini Bapa membahasnya lagi sepulangnya dari kerja.

"Apa kau masih memikirkan Tobi?"

Telingaku seperti disengat lebah mendengar pertanyaan Bapa. Hey, Bapa menanyakan kau, Tobi? Apa aku masih mengingatmu? Apa maksud Bapa mencungkil masa lalu yang Bapa pasti tahu sangat menyakitkan bagiku? 

"Kau masih menunggunya, Anna?"

Astaga Tobi, aku sampai tak berkedip menatap mata Bapa yang serius dan terasa menembus sampai ke ulu hatiku. Aku harus mengatakan apa pada orangtua yang padanya tak mampu kusembunyikan apapun jua?

"Bapa tak perlu mencemaskan apa pun lagi. Kami berjanji tak akan melawan adat, selamanya tidak."

Tobi, apa kau senang mendengar jawabanku? Apa aku sudah benar menjawabnya? Apakah terdengar segetar kebohongan dari sana? Oh, aku berharap tidak. Kalaupun Bapa mendengarnya, aku berdoa semoga Bapa mengerti bahwa itu hanyalah sisa dari perasaan yang akarnya kuat tertanam di hatiku. Semoga Bapa mengerti. Ya, semoga Bapa mengerti walau masih ada setitik asa pada salah satu bilik hatiku, aku belum lelah menunggumu, Tobi...

-Anna
  
 
#30harimenulissuratcinta hari ke 26 

1 komentar:

  1. Aku gak mungkin bisa merenangi dalamnya cintamu pada Tobi. Tapi aku selalu suka membaca ceritamu.


    -Ikavuje

    BalasHapus

Terimakasih sudah meninggalkan komentar. Mohon untuk selalu berkomentar dengan bahasa yang baik dan tidak SARA, ya.