Jumat, 19 Februari 2016

[30HMSC hari ke20] Istana Impian

Jelang sore di sini, Tobi. Aku menahan kantuk agar bisa menulis surat ini untukmu dan dijemput tepat waktu. 

Kau tahu, Tobi, kemarin penjemput surat berteriak-teriak karena aku terlambat beberapa menit saja. Bagaimana tidak, selepas menelan obat pukul dua siang, kelopak mataku rasanya seolah dioles lem setan yang melekatnya minta ampun kat kat. Aku jatuh tertidur, pulas sampai Mamak membangunkan pukul empat lewat. Itu pun karena ada agen wortel yang datang dan aku harus menimbangnya. Jadi bagaimana lagi, aku baru bisa duduk menulis surat saat jarum panjang di angka sepuluh dan yang pendek di angka lima. Aku hampir tak bernapas saat menuliskannya.

Well, sekarang aku sudah mengganjal mataku dengan setoples keripik ubi. Dan aku akan mengabarkan padamu tentang sebuah istana impian. Hey, masih ingat tak saat dulu aku menggambar rumah di atas tanah? Dulu kau hampir membuatku mengamuk karena mengacaukan gambarku. Bagaimana tidak, taman main milikku kau ganti dengan kandang kuda.

"Kau harus memiliki kuda yang banyak, Anna. Nanti aku pinjam satu dan kita menunggang sampai ke dalam hutan."

Kau yang ingin menunggang kuda kenapa aku yang harus membuat kandangnya? Pemikiran yang tidak simple sama sekali. Tapi, Tobi, agaknya kau benar soal menghapus taman main itu. Sebab istana impianku saat ini sudah sangat jauh berbeda. Kau ingin aku menggambarnya?

Coba bayangkan.

Rumah itu tidak terlampau luas. Tapi atapnya tinggi dan jendelanya lebar tanpa teralis. Jika pagi, istana itu akan hangat dikecupi mentari. Dan jika hujan, aku akan bisa menghirup bau tanah sepuas yang kuinginkan. Dan aku akan membuat lantainya dari kayu supaya hangat, Tobi.

Di dalam istana itu, ada pojok pintar di mana akan kutempatkan rak buku yang menguasai dinding-dindingnya. Dan laptopku akan anggun bersanding dengan foto masa kecil kita di atas sebuah meja yang menghadap ke kebun mawar putih. Jangan curiga dulu, Tobi, maksudku foto kita bersama Jun dan Hotma juga teman-teman yang lain. 

Lantas, di dekat pojok pintar itu ada taman kecil dengan kolam pancur yang gemericiknya akan menemaniku menuliskan kisah-kisah. Juga ada perapian agar aku tak gigil saat menulis atau sekadar membaca hingga larut. 

Aku membayangkan istana impian ini akan sempurna mendekapku sebagai seseorang yang menua sebagai penulis. Oh, sudut mataku telah berair saat ini, Tobi. Aroma istana impian ini begitu pekat mengalir dalam darah dan memenuhi kepala. Aku bahagia, bahkan walau hanya membayangkannya.

Oh, istanamu pasti jauh lebih indah di sana, bukan? Aku berharap demikian, Tobi.

Doaku selalu,
-Anna


 
 #30harimenulissuratcinta hari ke20

2 komentar:

  1. akuu gak teriakteriaakk, beneraaaann. etapi tulisanmu yang ini cukup lucu, kecuali kata "bagaimana tidak" yang lumayan berulang. semangat menulismu aku kasi jempol. teruskan.


    -Ikavuje

    BalasHapus
    Balasan
    1. bagaimana tidak, kepalaku pusing sekali, kakak. anggaplah bagaimana tidak itu sebagai bonus ya...

      Hapus

Terimakasih sudah meninggalkan komentar. Mohon untuk selalu berkomentar dengan bahasa yang baik dan tidak SARA, ya.