Rabu, 03 Februari 2016

[30HMSC hari ke4] I Can Wait Forever

Awal Februari yang gigil, Tobi.
Namun kentang dan wortel yang tersebar di pelataran gunung Barus selalu hangat di rahim bumi, tak peduli pucuk-pucuk daunnya basah tersiram embun semalaman.

Aku menggeliat sebelum ayam Paman Lintar berkokok. Tubuhku sudah jauh lebih bugar pagi ini. Dan kumohon, Tobi, lupakan suratku kemarin. Lupakan syair rinduku. Banyak orang mengigau saat demam, dan anggaplah aku demikian.


Ok, agar segera tunai janjiku, baiknya kulanjutkan saja kisah Bibi Selena untukmu.

"Selama kita masih bisa berproses secara normal, aku sebenarnya tak menghendaki kita berakhir, Nduk. Tapi kalau kamu memaksa, aku tak bisa menahanmu."

Tobi, itu kalimat perpisahan dari lelaki yang dicintai Bibi Selena. Ya, pada akhirnya Bibi Selena memaksa berpisah karena tak sanggup menanggung cinta yang tak murni, tak apa danya. Paling tidak, begitulah Bibi Selena menilai lelaki itu. Lelaki yang selalu berkata tak ada apa-apa tapi senyatanya sikapnya menandakan ada apa-apa.

Agaknya ini akan menjadi pelajaran ilmu budaya, Tobi. Sebab aku curiga, jangan-jangan antara Bibi dan lelakinya itu mengalami gegar budaya. The Clash of Culture kata orang pintar. Bayangkan saja Bibi Selena dengan watak Sumateranya yang to the poin, blak-blakan, harus memahami orang Jawa yang sangat pandai menyembunyikan perasaan demi ketertiban bersama.

Wah ini pelajaran berat, Tobi. Karenanya aku membuatnya sederhana dengan sepotong tanya, "bukankah waktu akan menyembuhkan luka, Bibi? Maaf, kenapa Bibi tak sabar saja menunggunya?"

"Kau tak akan bisa merasakan seberapa besar cinta pada seseorang hingga kau menjauh darinya, Anna. Dan itulah yang kurasakan."

"Bibi menyesal?"

Kuharap kau tak menganggapku kurang ajar dengan bertanya demikian, Tobi. Aku hanya menyesalkan sikap Bibi Selena yang tak mau menambah persfektifnya dengan persfektif lelaki itu. Hey, kita toh masih ingat lelaki itu marah karena Bibi Selena menganggapnya mesin, bukan? Oh, andai kelindan persoalan ini bisa selesai dengan satu kali bersin, pasti Bibi tak perlu pusing,  ya, kan, Tobi?

"Aku tak pernah suka kata menyesal, Anna. Tetapi, rindu dan perasaanku semakin membesar seiring besarnya usahaku melenyapkan apapun tentangnya."

Dan, semua memang berakhir, Tobi. Bibi Selena bahkan merangkum sekuntum kecil senyum ketika mengatakan akhiran itu.

"Sekarang rambutnya sudah sewarna tembaga, Anna."

Sekali lagi Bibi memperlihatkan foto dalam ponselnya. Foto lelaki idaman hatinya. "Anaknya sudah empat, tetapi perasaanku padanya masih tetap. Dia adalah orang terakhir yang kusebut dalam doa. Tak peduli dia masih mengingatku ataupun tidak. Aku sudah cukup bahagia dengan ini."

Ya Tuhan, Tobi, harus bagaimanalah aku bersikap di depan Bibi Selena? Ternyata inilah sebab keanehan sikapnya. Tak peduli keluarga mengecamnya sebagai pembawa aib keluarga karena tak menikah, ternyata inilah sebabnya, Tobi. Oh, kenapa Bibi Selena menjadi senaif ini? Dan eh, apakah ini yang dinamakan cinta platonis, Tobi? mengagumi diam-diam, merasakan bahagia lalu yah, begitu saja sudah cukup. Wah, mungkin kapan-kapan aku harus belajar dari Bibi Selena cara merawat cinta tak bersyarat seperti itu.

Eh, uff...

Sudah pukul enam sekarang, Tobi. Aku harus mengurus semaian kembang kol sebelum Paman Lintar melakukannya. Aku pamit dulu, ya.

Anna,
Yang selalu berharap kau baik-baik di sana. I Can Wait Forever, Tobi. Surely I can...



#30HariMenulisSuratCinta Hari ke-4

3 komentar:

  1. setiap hari akan kubaca suratmu pada Tobi, semangat menulis ya
    -ikavuje

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha, apakah engkau mulai lelah, kakapos?

      Hapus
  2. "...pandai menyembunyikan perasaan demi ketertiban bersama"

    mesem-mesem jadinya hihihi

    BalasHapus

Terimakasih sudah meninggalkan komentar. Mohon untuk selalu berkomentar dengan bahasa yang baik dan tidak SARA, ya.