Rabu, 24 Februari 2016

[30HMSC hari ke25] Elegi Tobi

Tobi, pada dunia yang terbungkus ruang dan waktu, tanggalan hari ini sudah menunjuk angka 24 pada bulan Februari. Aku yang juga terperangkap ruang dan waktu harus mulai berkemas, menuntaskan semua apa yang ingin kukisahkan padamu dalam sisa 120 jam saja. Itu tak akan cukup, Tobi. Dan sangat jauh dari cukup. Namun cukup tidaknya, sesedikit itulah waktuku untuk menuliskan surat kepadamu, karena di luar waktu ini, kau tak akan berkenan menerima apapun racauku lagi, bukan?

Tobi, bagaimana aku harus mengikuti nasehatmu untuk melepaskan segala hal tentangmu? 

"Tidak akan sulit, Anna. Kebun Paman Lintar terlalu luas dan akan menguras tenagamu. Lahir batinmu pasti tersirap ke sana dan dengan mudah akan melupakan apapun tentang kita." 

Kau mengatakan itu segampang orang menguap, Tobi. Apakah semudah itu juga kau menanggalkan segala kenangan yang  terbentang di ladang dan padang-padang di pelataran Barus? Sementara aku merasa simpul hubungan kita tak ada tandingannya. Aku kadung mengandalkan kisah kita  lebih daripada kemampuanku sendiri menjalani hidup di dunia yang semakin lama semakin seram ini. 

"Jangan marah pada Tuhan, Anna. Kau boleh mencaciku sepanjang usiamu asal jangan marah kepada Tuhan."


Kau tahu aku tak mungkin punya keberanian untuk marah pada Tuhan, Tobi. Kepada Tuhan? Kepada Bapa saja aku selalu berusaha menjadi anak budiman. Kecuali larangan kita tak bisa terus bersama yang teramat susah kuindahkan, kurasa, aku bisa mendapat rekor MURI untuk kategori kepatuhan anak terhadap orangtua.

Aku sungguh tak pernah marah pada Tuhan. Aku hanya merasa, kenapa perasaan ini bisa begitu kuat. Kenapa aku harus begitu menyayangimu, sepupuku sendiri yang adat menghukumi kita sebagai turang impal (tabu untuk dinikahi)?

"Tidak ada yang salah, Anna. Kalaupun ada, itu semua menjadi tanggung jawabku untuk menghentikannya."

Sekarang aku ingin kau tahu, Tobi, aku benci sekali saat kau mengatakan itu dan bertambah benci saat kau memutuskan pergi. Tapi itu dahulu. Sekarang kau tak usah cemberut di sana. Bagiku, berpisah denganmu tak lagi soal ruang dan waktu. Karena aku tahu,  jika aku angin dan kau samudera, aku pasti akan sampai. 

Dengar, Tobi, aku pasti akan sampai.

With heart,

-Anna


#30harimenulissuratcinta hari ke 25


1 komentar:

  1. Wawaawaw, aku suka banget lagunyaa. *diinjek*


    - Ikavuje

    BalasHapus

Terimakasih sudah meninggalkan komentar. Mohon untuk selalu berkomentar dengan bahasa yang baik dan tidak SARA, ya.