Minggu, 07 Februari 2016

[30HMSC hari ke8] Dear, Nic...

Dear, Nic...

Pernah suatu masa, ketika aku tengah duduk sendiri di bawah kanopi reranting jeruk yang saling tertaut dengan buku yang selesai kubaca  di pangkuan, dan oh, aku jatuh cinta pada penulisnya. Kupikir itulah satu-satunya kesempatan, sebuah ide mendua, tercetus di benakku. Bahwa selain Tobi, aku pernah begitu tertarik pria lain dan membayangkan bagaimana rasanya jika hidup bersama.

Dear, Nic, aku selalu kagum caramu mengisahkan sesuatu. Sesuatu sederhana yang selalu membekas besar setelah membacanya. Apa kau tak percaya aku termenung lama, bahkan meneteskan beberapa air yang ke luar dari relung jiwa setelah menamatkan A Walk to Remember? 

Dear, Nic, apa kabar hari ini? Sedang menulis apa hari ini? Aku selalu membayangkan ada sebuah ruang kecil yang hangat  dengan jendela tinggi dan besar yang menghadap ke taman. Ada sebuah perangkat menulis di sana juga ada piano di sudut lain yang kupikir, kau akan berganti-ganti, setelah lelah mengetik maka akan memainkan sebuah lagu. Oh, itu sebuah cara menikmati usia  setengah abad yang istimewa, Nic.

Sungguh aku membayangkan, pagi-pagi sekali memasak air di ketel dan membuatkan secangkir teh untukmu. Oh bukan, bukan teh. Karena kita sudah tua -kulit kita mengerut kekurangan kadar air, stok enzym dalam tubuh jauh berkurang, kerja seluruh organ jauh dari prima- maka alangkah lebih baiknya bila kita mulai konsisten menjalani hidup sehat dengan pola makan yang juga sehat. Kalau begitu, akan kupetik lemon di halaman samping dan kuperas dalam secangkir air hangat. Lalu, ketika kau menggeliat, aku akan cepat-cepat menyodorkan minuman itu tak peduli kau meracau mencari teh atau kopimu. Oh, pagi yang berisik. Indah sekali, Nic.

Dear, Nic, sekarang apa kabar Jhon, apa kabar Noah, apa kabar Landon dan semua tokoh-tokoh pria dalam kisahmu? Aku bergarap mereka tetap hidup bersamamu. Sebab aku membayangkan, bersamamu akan sama seperti Noah dan Landon yang setia. Tiada hal paling didambakan wanita kecuali menghabiskan waktu bersama kekasih hati yang setia sepanjang waktu. Walau kadang aku sangsi, adakah pria yang semacam itu tertinggal di dunia kita? Aku yakin ada, dan kau salah satunya.

Nic, terimakasih untuk menuliskan kisah-kisah indah yang tiada tepiannya. Cinta-cinta abadi yang lebih tua dari lautan. Aku berdoa, untukmu, my dear Nic, tetaplah hidup hingga Tuhan menghendaki enkau kembali dengan caraNya yang agung. Jangan, jangan putuskan cintaku dalam sepatuk peluru seperti Hemingway. Jangan juga seperti Woolf yang menenggelamkan seluruh kehidupannya di sungai Ouse. Kumohon, jangan my dear Nic. Jadilah kekasihku yang setia, dalam caramu yang sederhana...

Sepotong cinta dari pelataran Gunung Barus, untukmu my dear Nicholas Spark...

-Anna




#30Harimenulissuratcintaharike8



3 komentar:

  1. waaaa, kamu suka sekali mencantumkan lagulagu di tiap tulisanmu, semangat selaluu

    -ikavuje

    BalasHapus
  2. lho kok jadi Nic
    apa kabar Tobi?

    BalasHapus

Terimakasih sudah meninggalkan komentar. Mohon untuk selalu berkomentar dengan bahasa yang baik dan tidak SARA, ya.