Senin, 01 Februari 2016

[30HMSC hari ke2] Cinta Tak Bersyarat


Hai Tobi,
Pagi yang gigil di sini.
Dan kabut masih setebal kantukku.
Tapi aku sudah berjanji meneruskan kisah Bibi Selena yang terpenggal kemarin.  

Maaf sudah membuatmu menunggu. Kalau kau tahu, rombongan keluarga yang berwisata memetik jeruk di ladang Paman Lintar kemarin, wah, mereka berisik sekali. Bayangkan, ketika satu kantung penuh jeruk kududukkan di atas timbangan, seorang pangeran kecil yang buntal dan tak bisa tenang barang sebentar, tiba-tiba ia menubruk timbangan dan jatuh tepat di atas jeruk yang tumpah ke tanah.
Bisa kau reka adegan selanjutnya, Tobi? Ugh, dari sudut pertimbangan manapun, rasa-rasanya aku lebih tertarik untuk melanjutkan kisah Bibi Selena daripada menceritakan pangeran itu. 

Jadi, sampai di mana kemarin? Oh, sampai dada Bibi Selena meledak bahagia, ya? Nah Ok. Tapi sebentar, Tobi, setelah itu, alur kisahnya ternyata berubah secepat air bening yang tercelup serbuk teh. Yang bahagia itu lantas tersapu sedih tak terbantah.

"Aku baru saja buncah oleh harapan hidup menyatu dengannya ketika kabar pahit datang dari kampung kita." 

Aku mendongakkan wajah. Menuntut tak sabar lewat setatap permohonan.

"Itu dahulu sekali Anna. Mungkin ingusmu masih berleleran dan kau main putri-putrian bermahkota rangkaian kembang marigold hanya dengan memakai celana dalam dan kaos singlet."

Hey, kenapa Bibi Anna malah membahasku? Kenapa pula Bibi membocorkan rahasia kostum terhebat yang selalu membuat Mamak punya alasan untuk mendaratkan cubitan di pahaku dan baru hilang tiga pekan setelahnya? Oh, Kuharap kau melewati bagian ini, Tobi. Aku sentimentil tadi. Dan tak memiliki penghapus untuk menghilangkannya. Ya Tuhan, Bibi...

"Orangtuaku berpisah, saat itu. Walau aku sering disuguhi tontonan pertengkaran sejak kecil, tapi mendengar kabar mereka berpisah, aku tetap saja sedih dan terpecah. Saat seperti itu, aku ingin sekali ada dalam dekapan pria itu. Mendengarnya memanggilku nduk dan mengatakan semua akan baik-baik saja. Dan mungkin dia akan menggaransi hidupku aman bersamanya. Tetapi itu tak pernah terjadi, Anna.”

Bibi Selena menatapku dalam sebelum melanjutkan, “Dia sibuk bekerja. Terlalu sibuk bekerja. Dia tak datang saat aku butuh. Sementara aku terlanjur menjadi anak kucing yatim piatu. Aku marah dan mengatakan hal-hal bodoh atasnya. Bahwa manusia kebanyakan bertransformasi menjadi mesin yang kehilangan waktu untuk sekedar menghibur orang lain.”

Bibi Selena terdiam sampai di situ. Aku mendengar keganjilan dari apa yang diungkapkan Bibi Selena. Tentang kemarahannya yang menurutku berlebihan. Kupikir, tak seharusnya Bibi Selena memvonis kejam laki-laki itu sebagai mesin hanya karena ia belum bisa datang menghiburnya. Ah, tetapi, Tobi, kau pasti tak sependapat denganku, bukan? Kau pasti akan mengatakan bahwa seorang ksatria seharusnya selalu ada kapan dan di mana pun sang pujaan hati memerlukan bantuan. Seperti engkau, dahulu…

Oh, Tobi, sungguh aku masih belum lupa ketika tubuhku tertimpa plang, papan nama kebun jeruk Paman Lintar yang memang sudah bengkok ditohok badai. Dulu kau tunggang langgang meninggalkan plastik mulsa yang seharusnya kau pasang menutupi lahan yang akan ditanam sroberi. Kau juga bodoh sekali membiarkan Mamak berteriak-teriak sampai berleleran ludah merah akibat kunyahan sirih dari mulutnya hanya demi aku yang masih bisa tersenyum melihat kedatanganmu.

Apa kau masih mengenang itu, Tobi? Oh, apakah kau juga masih mengenang jeritmu pada Mamak yang membuat hatiku dikepung haru dari segala penjuru? Aku bahkan masih bisa jelas mendengarnya. Mendengar teriakanmu kepada Mamak.

“Tak bisa menunggu orang yang sedang sakit, Mak…”

Ah, kenapa aku jadi menyisipkan kisah kita di antara kisah Bibi Selena? Maaf, Tobi. Maafkan aku tak bisa menahan diri. Baiklah, kupikir Bibi Selena tak akan peduli apapun pendapat kita. Yang Bibi butuhkan hanya satu, aku mendengarkan curahan hatinya.

“Esoknya ketika datang, dia telah berubah, Anna. Aku jelas bisa menangkap kecewanya padaku walau setegas mungkin ia menyangkal. Ia masih selalu datang, selalu memanggilku nduk, selalu mengajakku diskusi tentang apa saja. Tetapi aku jelas merasa, ada jarak tak kasat mata yang terbangun antara dia dan aku. Dan itu karena penghinaan yang demi Tuhan tidak dengan sengaja kulontarkan.” 

“Apakah Bibi tak coba mengatakan maaf padanya?” tanyaku hati-hati. Aku takut sekali salah bertanya, Tobi. 

“Berkali-kali, berulang-ulang.”

“Lantas?”

Tak ada yang perlu dimaafkan, Nduk. Semua baik-baik, percayalah. Selalu itu jawabnya. Dan aku merutuki kebodohanku sendiri melebihi rutukan seluruh orang bodoh di dunia ini.”

Tobi, rasanya getir itu menjalar hingga ke pucuk-pucuk cemara di kejauhan Bukit Kubu sana. Aku membayangkan, apakah aku bisa tetap mencintai seseorang seperti Bibi Selena melakukannya?

“Atas nama pekerjaan dia mulai jarang mengunjungiku. Aku diam, tak ingin menganggu dan apalagi sampai salah bicara. Tapi rindu yang kutanggung ini pada siapa harus kubagi sebab itu hanya untuknya, Anna? Aku memeluk rindu-rinduku sendirian. Aku mendekap rasa cintaku seerat gelap membungkus malam. Aku selalu mengatakan aku mencintainya tetapi ia geming. Ia seolah-olah menjelma mesin seperti tuduhanku. Raganya memang datang, tapi hatinya yang mungkin terluka entah tertinggal di mana. Dan aku tak sanggup mengembalikannya.”

Bibi Selena mencabut sebatang rumput dan melilitkan ke jarinya. Anehnya, Tobi, mata gelap Bibi Selena kembali memercik sinar padahal ia sedang mengenang luka. 

“Kau tahu Anna, akhirnya aku meminta ia melepasku.”

Hah. Aku menegakkan telinga takut salah mendengar. Tetapi telingaku memang tak salah sedikit pun. Bibi Selena tersenyum saat mengulang bahwa ia benar meminta putus. 

Aku tak akan melepasmu selama kita masih bisa berproses secara normal, Nduk. Karena kita manusia, bukan mesin. Kalimatnya itu, Anna, sungguh membuatku tenggelam dan mengapung secara bersamaan. Aku seperti amblas lalu terlepas ke udara bebas.”

Aku termenung memahami perasaan Bibi Selena. Tentu berat menanggung derita cinta yang seperti itu, Tobi.

“Annaaa, kau simpan di mana andaliman, Mamak?”

Aduh, Tobi, maaf, Mamak memanggilku sekarang. Kau dengar teriakannya tadi itu, Tobi? Bayangkan Mamak masih tetap suka berteriak hanya demi andaliman. Oh, maafkan aku Tobi, sungguh maafkan. Aku pasti akan menyambung surat ini setelah bantu Mamak menemukan andalimannya. Itu pun jika tidak aku harus sekaligus memasak sarapan kami nanti. 

Pagi ini, kukirim lagu Cinta Tak Bersyarat, untukmu, Tobi.
Dariku, selalu...

Anna

  


#30HariMenulisSuratCinta Hari-2

3 komentar:

  1. surat yang panjang sekali, akan habis berlembar kertas untuk Tobi


    -ikavuje

    BalasHapus
    Balasan
    1. bahkan jika lautan menjadi tintanya, takkan habis cinta dituliskan, mbakpos :)

      Hapus

Terimakasih sudah meninggalkan komentar. Mohon untuk selalu berkomentar dengan bahasa yang baik dan tidak SARA, ya.