Selasa, 23 Februari 2016

[30HMSC hari ke24] Aroma Cimpa

Sore yang masih terik di sini, Tobi. Tapi aku merasa semuanya baik dan aman-aman saja. Eh, iya, sore kemarin Bibi Selena datang membawa sewadah besar kue cimpa. Saat bibi membuka tutup wadahnya, indraku segera tersirap pada aroma gurih kelapa dan harum gula merah. Angin gunung menerbangkan aromanya yang khas. Manis, pada mulanya.


"Begini caranya, Anna..."

Tobi, maafkan ingatanku surut. Aku masih sangat jelas mengingat kau membuka daun pisang yang jadi pembungkus cimpa dan meletakkan daun itu di tanganku. Lantas kau membelah cimpa yang terbuat dari tepung ketan dicampur santan dan  mengeluarkan isinya. Di atas daun yang kupegang, kau menuang inti kelapa berwarna merah yang manis. Ini bagian kesukaanku.

"Makanlah..."

Lalu kau sendiri memasukkan bagian cimpa yang kenyal legit gurih ke dalam mulutmu. Kau mengunyah dengan lahap sambil menatapku yang tak kalah nikmat menyantap inti kelapa yang manis.

Tobi, dulu aku mengira kau memang tak suka inti kelapa di dalam cimpa. Tapi sesudahnya aku tahu, apa yang kau lakukan hanya menjagaku dari bersikap bohong kepada Mamak. Aku mengingat kau pernah memergokiku membuang bagian cimpa yang legit setelah menghabiskan isi kelapanya. Lalu aku berlari kembali ke rumah dan mengambil cimpa berikutnya. Mamak sebenarnya mengendus gelagatku yang aneh, terbirit ke luar masuk rumah membawa cimpa seperti maling tertangkap basah. 

"Kau tak suka cimpa, Anna?"

Bagus sekali, saat mengingat kenakalan itu, Bibi Selena menggebyahku dan menyodorkan satu yang sudah dikupas ke hadapanku. Aku meraih cimpa dari tangan Bibi. Rasanya berat sekali membuka mulut. Namun senyum Bibi membuatku tak punya pilihan. Aku memasukkan cimpa ke dalam mulutku. Perlahan aku mengunyahnya, gurih santan terasa pahit tiba-tiba saja. Dan aroma luka menguar jelas dari sana.

Tobi, aku sudah dewasa sekarang. Aku tak pernah lagi membuang-buang makanan. Tapi sungguh, dalam mulutku, cimpa yang gurih dan manis terasa sangat pahit. Kau mengerti apa maksudku, Tobi. Mamak membuat cimpa sangat banyak pada hari ketika kau pergi. Dan semesta seolah berpesta ketika kita berpisah.

Maafkan aku, Tobi. Aku belum bisa memenuhi nasehat terakhir sebelum kepergianmu. Aku tak menyerah saat kau pergi. Tapi mataku basah saat kau melangkah. 

"Apa yang kau sembunyikan dari kue cimpa, Anna?"

Lagi, Bibi Selena memberai semua hal buruk dari kepalaku. Kemarin, untuk kali pertama aku berbagi kepahitan itu kepada Bibi.

"Kau penulis, Anna. Kau bisa tuliskan kisah kalian sebagai penawar aroma cimpa yang luka."

Agaknya tebakan penjemput surat ada benarnya, Tobi. Aku akan coba menuliskan kisah kita dalam sebuah novel. Mungkin, novel itu akan kuberi judul dengan 'berpisah'. Dan hey, bukankah itu lagu milik penjemput surat? 

Tobi, sudah dulu, ya. Biar kuselidiki terlebih dahulu siapa sebenarnya penjemput surat-suratku selama ini.

Salam,
-Anna



#30harimenulissuratcinta hari ke 24

2 komentar:

  1. Kue cimpa wujudnya kayak gimana Mbak? seperti biasa, sampeyan jagoan nulis cerpen.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kayak nagasari. tp kl nagasari tepung beras yg diisi pisang, kl cimpa tepung ketan diisi inti kelapa. nah, bugis tau ga? ini mungkin seperti bugis hanya beda bentuk. soale aku ngerti cimpa jg dapet googling. kue kebesarannya org batak karo, selalu ada di acara2 besar mereka. mks sdh mampir keluarga biru...

      Hapus

Terimakasih sudah meninggalkan komentar. Mohon untuk selalu berkomentar dengan bahasa yang baik dan tidak SARA, ya.