Minggu, 30 September 2012

Night in November Rain

When I see into your eyes
I can see a love restrained


     Semilir angin malam bulan  November berdesir menerpa wajah perempuan sederhana. Menghadapi laptop tua, sesekali ujung bibir tipis tanpa polesan tertarik pada dua sisinya. Terangkum dalam senyum. Menampakkan satu gingsul di kiri atas yang khas. Konon, seorang kerabat yang amat disegani dan kerap dipanggil dengan embel-embel Abah mengatakan, bahwa gingsul tersebut membawa pertanda baik. Sebab hadirnya menjadi lambang ketabahan. Jika terdapat pada perempuan, maka tafsirannya kira-kira akan menjadi, “symbol ketegaran dalam kerapuhan”. Namun perempuan itu tak terlalu memusingkan tingkat kebenarannya. Sebab baginya, Tuhan telah memberikan kelembutan hati bagi perempuan  memang untuk ketabahan itu. Untuk kuat membuka lembar tiap kitab kehidupan yang seringkali  terlipat-lipat.


     Pada dipan tempatnya menekuri benda paling berharga  yang kini mulai rusak layarnya, terbaring seorang gadis kecil menelingsut surut dalam selimut tebal bergambar bunga matahari raksasa. Sesekali menggerak-gerakkan sebelah kaki, menggoyang mekar bunga di atasnya.  Mengedip-kedipkan mata yang mulai layu. Membuka tutup hitam – putih bola mata yang merintip bulu lentik di atasnya. Bagai lukisan bola bercahaya pada bingkai antic. Cantik.

     Dingin angin bulan November terus  menembus bilik kayu tempat mereka berteduh. Angin pebukitan tanpa penghalang kian sumringah menghantam daun jendela yang berderit-derit gesit.

     “Ma, suara apa itu…Adik takut…” Tanya sang gadis cilik seketika membelalakkan mata yang mulai terpejam.

     “ Jendela, Sayang. Kena angin kencang di luar. Kan ada Mama, juga sudah baca do’a, khan? Gak boleh takut yah…”

     “ Mau hujan, ya Ma?”

     “ Iya sayang. Yuk bobo lagi yah, Mama elus punggungnya ya?”

     “Gak mau, Mama jangan main Laptop. Mama sini kelonin, pelukin Adik,” gumamnya sembari menarik lengan perempuan itu. Dibenamkan wajah mungil miliknya di antara lekukan wajah dan leher perempuan itu. Hampir tak ada jeda antara keduanya. Turun naik nafas keduanya seolah menyatu. Dalam kedekatan seperti ini, tak perlu lagi buku cerita atau lantunan Bintang Kejora untuk si kecil. Cukup hanya perempuan itu saja. Yang entah sejak kapan mulai diartikan sebagai pahlawan pengusir bayang-bayang menakutkan. Atau pelindung dari imajinasi hewan-hewan raksasa yang kerap hadir dalam mimpi,  juga jerit jendela yang tertiup angin karena tak rapat terkunci.

     ***
     Di luar, bulan telah sempurna tertutup mega. Gemuruh geluduk mulai merambati pelataran langit. Dongeng masa kecil mengabarkan bahwa Tuhan tengah marah. Memukul-mukul langit hingga dentumannya mengagetkan, bahkan bisa menghanguskan bagi siapa saja yang nakal. Tidak nurut orangtua.

    Kaget perempuan itu terjaga. Pelan ditariknya tubuh menjauh dari dekap si kecil yang telah lelap. Membuka pintu papan yang sudah tak rata engsel dan selalu berdecit minta diperbaiki,  pelan sekali ia melangkahkan kaki.

      Seketika angin kencang menyeruak dan langsung menampar-nampar wajahnya. Mengibar-ngibarkan jilbab bulatnya seperti bendera.  Mengoncang dahan dan ranting pohon jambu merah yang mulai berbunga. Gesekan daun-daunnya seketika membentuk simfoni nada.  Nada alam yang indah. Seolah lirih bernyanyi  dan menemani langkahnya menuju kamar mandi. Menggantikan bulan dan bintang yang enggan datang mendobrak pekat awan.

     Ditimbanya air dari bak besar  di halaman samping. Air jernih di bak itu, seringkali merupakan hadiah langsung dari langit. Tak peduli apakah langit yang suci atau langit yang menyimpan banyak perih sebab terus dihadiahi polusi.

     Dibasuh kedua tangan bergantian dan serangkaiannya yang kesemuanya mengalirkan kesegaran. Memunculkan syaraf-syaraf keberanian untuk melewati malam. Malam yang selalu seram di atas bukit Berafit. Irama dedaunan rimbun pohon hutan bersahut-sahutan. Bertasbih menyambut jamuan Tuhan yang sebentar lagi datang.

     Dan seumpama keikhlasan hamba pada Tuhannya, begitulah perempuan itu tersungkur dalam sujudnya yang panjang. Menghaturkan segenap doa. Demi keselamatan, juga sepotong doa untuk cinta…Oh, pada cintanya yang tak berirama di sebrang sana.

 But lovers always come
And lovers always go
And no one really sure
Who’s lettin’ go today


     Hampir dua purnama. Atau lebih. Atau, tak sanggup lagi perempuan itu menghitung purnama yang mereka lewati dalam jiwa yang entah dimana. Sebening tetes mulai mengalir. Dan akan segera menganak sungai. Pada Tuhannya ia menggadaikan cinta. Biarlah, biarkan dititipkan segenap cinta pada pemilikNya. Hanya garansiNya saja yang masih ia percayai. Menjadi azimat yang tak henti selalu di patri dalam hati. Dia yang diatas, adalah tumpuan agar cinta tetap dihembuskan pada jiwa-jiwa mereka.

     Rintik belum sempat pamit ketika deras bulir-bulir air menyuguhkan orchestra kesyahduan. Hujan seolah tumpah ruah dari langit. Menggenapkan kerinduan terhadap sepotong jiwa yang selalu hadir dalam doa-doanya. Sepotong jiwa yang membawa pergi jiwa separuh miliknya.

I know that you can love me
When there's no one left to blame
So never mind the darkness
We still can find a way
'Cause nothin' lasts forever
Even cold November rain


     Hujan di bulan November yang panjang. Sepanjang itu pula bait-bait cinta dikumandangkan. Pada langit malam ia berdendang, menyanyikan lagu rindu nan merdu. Kerinduan pada sebentuk cinta dalam tatap tanpa kata. Yang sudah entah berapa lama hilang dari kehidupannya…

Everybody needs somebody...

***
note : Tanda kata cetak miring adalah lirik November Rain, Guns n Roses

~ Tulisan ini pernah direnew n diikutin lomba lovesong-nya UNSA, masuk 5 besar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah meninggalkan komentar. Mohon untuk selalu berkomentar dengan bahasa yang baik dan tidak SARA, ya.