Minggu, 30 September 2012

[lomba Teman Maya] Someone Who Calls Me 'Santik'

Allah memiliki cara tersendiri untuk mempertemukan siapa-siapa yang dikehendakiNya. Dalam kotak persegi panjang ajaib yang menembus ruang ini, saya bertemu dengan sosoknya yang anggun dan sederhana. Satu tahun silam.

     “Jangan panggil saya Mimi, berasa KD!” Tampiknya ketika kali pertama saya panggil dengan sebutan Mimi, terinspirasi dari putranya yang setia memanggil Umi. Namun sekarang, jika saya kurang focus dan memanggilnya Bu Rani, dengan gesit ia akan menulis, “manggilnya kenapa Bu Raniii…?!”

Tautan Hati

     Lebih dua pekan ini saya terus memikirkan Mimi. Ingin sekali menuliskan tentang sosoknya yang, ah…berfikir untuk menuliskannya saja membuat saya tak enak hati sebab bisa mereduksi terlalu banyak sifat dan sikap baik dirinya yang tidak saya ketahui.


     Namun entah mengapa, pagi sehabis subuh dihari terakhir pengumpulan naskah ini, saya begitu ingin berbagi cerita tentangnya. Tentang Mimi yang dalam masa 2 pekan ada dalam pikiran saya ini, tiba-tiba mengirimkan pesan singkat di pagi Minggu yang cerah.

     “Assalamua’alaikum, slamat pagi, awali hari ini dengan senyuman. 1 senyuman dariku  . With love, Rani.”

     Seperti ada tautan hati, ketika saya memikirkannya, Mimi sudah melakukan sesuatu untuk saya.

     Walau saya merasa klik dan sangat nyaman dengan Mimi yang pengalamannya dalam hal apapun jauh melampaui saya, toh tetap tak membuat saya ingin curhat dengannya seputar permasalahan hidup yang kadang datang. Namun Mimi, sekali lagi harus saya tulis bahwa ia seperti memiliki kepekaan hati luar biasa sehingga tak jarang saya merasa, hati kami seperti tertaut.

     Saya bisa merasakan kelembutan hati ibu 4 orang anak laki-laki ini dalam komentar-komentarnya pada jurnal saya. Bahwa apa yang saya tulis dalam prosa-prosa yang begitu banyak metaforanya, beliau bisa dengan pas, menuliskan komentar yang tidak terlalu terkait dengan prosa tetapi dengan suasana hati saya saat itu.

     Awalnya saya menyangka hanya kebetulan. Namun pengulangan-pengulangan membuat saya merasa bahwa ini adalah hasil dari sebuah proses transendensi hati yang suci, sehingga Allah begitu menularkan ruh kelembutanNya pada Mimi. Mimi yang sering menuliskan, “ Santik, I love u cause Allah.”

The Real Kartini

     Mimi yang anggun dengan jilbab lebarnya, tak ada yang menyangka bahwa ia seorang staff pada sebuah hotel berbintang 5 di Jakarta. Seringkali tamu-tamu hotel memelototi sosok Mimi dalam raut yang asem-manis.

     April lalu, saat banyak aktivis berdiskusi, sebagian turun ke jalan dan berorasi, serta teman-teman Mpers yang ramai mengulas sosok Kartini, Mimi justru melakukan sesuatu yang riil demi kemaslahatan bersama.

     Mimi, bersama rekan-rekan kerjanya turun untuk mengupayakan hak kepantasan atas kewajiban yang telah mereka tunaikan. Sedikitpun Mimi tak gentar, bahwa aksinya itu akan berakibat fatal bagi kelangsungan perekonomian keluarga yang juga bersumber darinya.

     Saya ingat betul, pada April lalu, ketika teman saya di kampung mengirimkan SMS bertanya soal resep bacem tempe untuk lomba peringatan Kartini-an, Mimi juga mengirimkan SMS dengan format yang sama sekali berbeda, “Mohon doanya, agar saya dan kami diberikan kekuatan untuk melawan kedzoliman di kantor kami.”

     Bagi saya, Mimi adalah salah satu sosok the real Kartini saat ini.

Teman Maya, Besanan?

     Ketemu jodoh di MP, ada!

     Comblang-comblangan, banyak!

     Tapi kalau besan—besanan? Aih, seperti kembali ke jaman purba ketika Siti Nurbaya harus dijodohkan secara paksa.

     Anggap saja ini guyonan. Saya juga tak tahu awalnya darimana. Tapi Mimi yang pasukannya terdiri dari  4 jagoan, sepertinya merindukan kehadiran putri cantik yang manis. Itulah sebab beliau, secara tidak sah baik de facto maupun de jure, sekarang ini telah mempunyai dua besan untuk dua pangerannya. Salah satunya, saya untuk Ririn yang dipasangkan dengan Ghiyats aka Abang Gigy.
     Ini sudah jadi rahasia umum dikalangan kontak-kontak kami. Mimi juga gak pernah sungkan memanggil saya “Santik” alias “Besan Cantik!” *glodaaak…ada yang lempar ulekan, ya?

     Mimi pun gak pernah lupa buat nanyain, “gimana kabar mantuku, jaga baik-baik, ya!”

     Tentu saja ini membuat saya terharu. Benarkah? Akankah saya besanan dengan pasutri yang sholeh sholehah itu? Uh, sementara saya sudah terlanjur ke-geer-an bakal punya mantu Ghiyats yang rajin bantu uminya di dapur, ngemong, juga bercita-cita menjadi koki atau menjadi apapun dengan syarat minimal harus hafal juz 30. Uh, so sweet…

     Well, ini hanyalah salah satu cerita yang kami torehkan. Sebuah anekdot kekeluargaan yang lahir dari sebuah rasa nyaman atas hubungan pertemanan, dan persaudaraan di dunia maya. Diluar itu semua, secara pribadi saya sungguh meneladani kehidupan berkeluarga Mimi.

     Mereka adalah cerminan keluarga sakinah, mawaddah warohmah. Jikapun sesekali angin berhembus kencang, adalah sebuah keniscayaan atas sebuah bahtera yang tengah berlayar.

     Sebagai penutup, saya hadirkan kembali sebuah puisi usang untuk Mimi dan suaminya tersayang;


Kekasih
Aku ingin tua bersamamu
Menjaga cinta dan prasasti yang kita pahat dengan tasbih
Hingga derai senja
Menghapus tiap jejak langkah kita…


Batam, 23 November 2010
Dedicated to Mimi, semoga Allah terus memberikan berkah buat keluarga Mimi…
 Lagi, nyetor ke hajatannya Mbak Yani



*naskah ini jg masuk 3 besar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah meninggalkan komentar. Mohon untuk selalu berkomentar dengan bahasa yang baik dan tidak SARA, ya.