Selasa, 19 September 2017

[Pemenang 1 Sayembara Cerber Femina 2016/2017] Pada Sekaleng Tancho Bag 4


4.    Pada Sekaleng Tancho
Aku terbangun oleh suara percakapan orang-orang. Jam di ponsel sudah menunjukkan pukul 06.01. Tadi malam aku masuk kamar hampir dini hari karena menunggu empat ekor penyu yang bertelur. Kukucek mata yang masih terasa menyimpan kotoran dan segera bangkit menuju sumur di samping rumah.
Kulihat Hazri sedang menggali lubang di dalam bak pasir penetasan. Lubang itu untuk menanam lima belas persen telur penyu dari keseluruhan yang behasil ia kumpulkan semalam. Sementara ayah menyusun telur-telur lainnya di kotak kayu tak jauh dari Hazri. Telur yang disusun ayah akan dijemput oleh orang Raja Bachrum dan diperdagangkan di Tarempa.

[Pemenang 1 Sayembara Cerber Femina 2016/2017] Pada Sekaleng Tancho Bag 3


3.    Nyanyian Rindu
Baba dan Cik Hafsah mengantarku ke dermaga. Baba bahkan menyusun sendiri barang-barang sembako ke dalam pompong. Maklum, Durai itu hanya pulau kosong, jika ada kesempatan datang ke sana, Baba dan Cik Hafsah selalu banyak membawa sembako untuk persediaan ayah dan maknya.
Baba memandang ke langit yang cerah. Angin hanya sepoi dan laut sedang teduh. Pak Ngah segera menghidupkan mesin pompong. Baba mencium puncak kepalaku dan Cik Hafsah memelukku. Seperti akan berpisah lama saja. Aku melepaskan diri dari keduanya dan segera melompat ke pompong.

[Pemenang 1 Sayembara Cerber Femina 2016/2017] Pada Sekaleng Tancho Bag.2


2.    Bantal Kapuk
Berdiri di bingkai jendela dengan pikiran terbang ke mana-mana (hanya ke Sambung Hidup dan ke Durai bilang ke mana-mana) membuat kakiku pegal. Aku segera membuka lemari pakaian dan mengambil handuk untuk mandi.
Setelah segar, tak bisa kutahan diri untuk rebah di kasur yang dibungkus rapi dengan seprai motif kembang  matahari. Empuk. Seperti kata Cik Hafsah, ini kasur baru menggantikan tilam kapuk milikku yang dulu. 

[Pemenang 1 Sayembara Cerber Femina 2016/2017] Pada Sekaleng Tancho Bag 1



Pada Sekaleng Tancho
Oleh: Dwi Asih Rahmawati (Dulu-dulu ngirim cerpen ke Femina pake nama Wiwik Waluyo nggak ada yang nyangkut. Coba pake nama KTP, alhamdulillah :D)

11. P U L A N G
Pada musim Utara yang ganas.
Ketika ombak Laut Tiongkok Selatan kerap menggulung-gulungkan bahtera.
 Aku pulang ke sebuah teluk kecil.
Demi sebuah hal besar yang tersimpan dalam sekaleng Tancho.

Sabtu, 19 Agustus 2017

Le Grand Voyage, Umrah Backpacker dan Jalan Kemurnian Diri Seorang Hamba

”Mengapa Ayah tidak naik pesawat saja ke Mekkah? Itu akan lebih mudah.” Ujar sang putra kepada ayahnya.

”Saat air laut naik ke langit, ia akan kehilangan rasa asinnya untuk menjadi murni kembali.”
“Apa?” tanya sang putra tidak mengerti.
“Air lautan menguap saat ia menuju langit. Dan saat air laut menguap, ia akan menjadi tawar.  Itu alasan mengapa lebih baik menempuh perjalanan haji dengan berjalan kaki daripada mengendarai kuda. Dan lebih baik mengendarai kuda daripada naik mobil. Dan lagi, lebih baik naik mobil daripada naik pesawat terbang…”

Sabtu, 12 Agustus 2017

Jangan Baper, Ya...


Jangan baper ya. 

Begitu tulis Ko Steven Indra Wibowo di dalam status FB beliau. Konten status beliau adalah tentang mualaf yang mendapat pesan ‘menusuk’ dari keluarga. Juga sebuah pesan pertanyaan dari seorang Paman Ko Steven yang menanyakan “Kapan kembali melayani di Gereja?”

Jangan baper ya…

Rabu, 02 Agustus 2017

Perpustakaan dan Kenang yang Jatuh Dari Talang Ingatan

gambar dari google

Di Kelas Penulis Tangguh (PT) sedang berlangsung penulisan naskah cerpen tribute to Koko Ferdie yang wafat dua pekan lalu. Cerpen harus menggambarkan salah satu kegemaran Koko atau paling tidak ada satu ciri khas Koko. Karena Koko suka nongkrong di perpus, jadilah saya mengolah kisah dengan tokoh ‘Koko’ yang hidupnya hanya beredar di kampus dan perpus.